Korps Marinir Masih Andalkan Senapan Mesin Berat Legendaris Battle Proven DShK-38
|
Tingkat kesiapan tempur salah satunya dapat dilihat dari kemampuan personel untuk melakukan pemeliharaan pada persenjataan yang melekat di kesatuan mereka. Dan di antara berita tentang arsenal persenjataan baru, melihat kesiapan senjata yang berusia tua tetapi masih beroperasi dengan baik, menjadi poin positif di momen HUT TNI ke-77. Seperti salah satunya diperlihatkan pada tingkat kesiapan prajurit Batalyon Kapa (Kendaraan Pendarat Amfibi) 2 Korps Marinir yang mengoperasikan senapan mesin berat (SMB) legendaris yang battle proven, DShK-38.
Baca juga: Crazy Rich Ukraina Pamer BMW Seri 6 dengan Senapan Mesin Berat
Dari laman akun Instagram Batalyon Kapa 2 Marinir – yon.kapa2mar, diperlihatkan pelajaran kepada prajurit tentang pengenalan dan aspek teknis SMB DShK-38 yang dimiliki kesatuan kavaleri, yang saat ini mengoperasikan rantis amfibi Kapa K-61 buatan Rusia.
Sebagai senjata yang menyandang gelar battle proven, DShK-38 mampu memuntahkan 600 butir peluru per menit. Sedangkan jarak tembak maksimumnya mencapai 2000 meter dengan kecepatan luncur peluru 850 meter per detik.
DShK-38 beroperasi dengan sistem operasi gas, tipe cartridge yang digunakan adalah jenis 12,7 x 108 mm. Bila tanpa amunisi bobot SMB ini 34 Kg, tapi saat ditancapkan pada platform wheeled mounting bobot senjata ini menjadi 157 Kg.
Buat publik di Tanah Air, mungkin yang paling berkesan adalah penempatan DShK-38 di pansam BTR-50 Korps Marinir. Sejak era operasi Trikora dan Seroja, Korps Marinir sangat khas menggunakan DShK lengkap dengan perisai baja untuk perlindungan juru tembak. Walau versi BTR-50 yang kini digunakan Korps Marinir TNI AL (setelah hasil retrofit) sudah jarang dipasangkan dengan DShK-38.
DShK (Degtyaryova-Shpagina Krupnokaliberny) mulai dikembangkan pada awal tahun 1930-an, dan secara resmi diadopsi oleh militer Uni Soviet pada tahun 1938. Serupa dengan browning M2HB dari AS, DShK-38 juga sudah eksis digunakan dalam Perang Dunia Kedua.
Senapan mesin legendaris ini dirancang oleh Vasily Degtyaryov dan sistem mekanisme cartridge feed-nya dikembangkan oleh Georgi Shpagin. DShK-38 digadang handal sebagai senjata pemukul untuk sasaran darat dan udara jarak pendek.
Baca juga: PKT: Inilah Senapan Mesin Khas di Pansam BTR-50PK Korps Marinir
Pada unit kavaleri, DShK sudah menjadi standar ditempatkan pada turret beragam MBT (Main Battle Tank) Uni Soviet, bahkan tank ringan PT-76 dan panser amfibi BTR-50 turut mengadopsi DShK sebagai arsenal senjata andalan. Sampai saat ini, debut DShK masih cukup mencolok di beberapa negara Timur Tengah, Afrika dan Afganistan, yakni penempatan SMB ini pada bak mobil pickup yang kerap digunakan di wilayah konflik. (Gilang Perdana)
min, untuk amunisi sudah produksi lokal belum?
Senapan Mesin Anti Stealth & Anti Jamming, DiJamin bisa menembak Jatuh Dengan Mudah F 22 Raptor atau F 35 B lightning yang Terbang Rendah, Sungguh Visioner sekali Pandangan Para Petinggi Militer kita, LANJUTKAN….
Hadew,
Habis baca marinir AS pakai mobile irondome, sekarang baca marinir kita pakai DsHk kayaknya hati ini bagaimana gitu….
@TN, emangnya kenapa? M2 browning yng sejaman sama ini jga masih dipake, yang miris itu kalau bandingin hanud indo masih bergantung ke manpads, itu yang miris
Lebih canggih punya kita,ini anti jamming om
Gak apa² senjata tua bangkotan, kan satria berkuda bilang, yg penting man behind the gun…
🤣🤣🤣🤣
Periskop,
Coba baca lagi deh komentar saya.
Saya khan cuma bilang “kayaknya hati ini bagaimana gitu”.
Btw, banyak pangkalan militer kita malah masih nggak punya manpads, hanya punya bedil dan gagang sapu untuk nembakin rudal yang mengarah ke pangkalan. Mana pangkalannya di atapnya dicat kuning atau putih besar-besar pula.
Idealnya setiap pangkalan harus ada manpad. Selain itu minimal setiap peleton infantri punya manpad, setiap regu senapan infantri dibekali atgm / senjata lawan tank.
bung @TN, ya tapi kan secara ngga langsung juga sebenernya ngarahnya kesitu, dan karena sesuai yang ente bilang, hanud indonesia termasuk di pangkalan juga kurang, semoga ada niatan buat beli hanud jarak jauh, minim aster 30 lah kalau memunginkan, sama untuk rudal strela (lagipula belinya udah banyak) atau mungkin simbad, bolehlah di TOT, mengingat kebutuhannya melimpah ruah
*tambahan, untuk atgm, minimal kayak vietnam lah kalau bisa, produksi lokal rpg-29, atau jordan rpg-32, soalnya ya rpg kan terkenal sederhana tapi performanya cukup bagus, kalau memungkinkan untuk produksi lokal rudal anti tank boleh deh paling ngga rudal konkurs di produksi masal, mengingat belinya dah banyak,lagipula rudal SACLOS lebih sederhana daripada rudal infrared, atau NLAW, bila memungkinkan
@bang TN anggaran nya kita dikit 143 T bagi 3 matra plus mabes plus kemenhan
Zaman dulu senjata laras panjang & pendek vs bambu runcing, panah dan sajam…
Secara teori memang diatas kertas sulit untuk menang, akan tetapi karena ikhtiar dan disertai doa serta taktik hal yang dipandang sebelah mata malah dapat menguair penjajah dari Tanah Air kita.
Kelebihan belum tentu dapat menjadikannya sebagai pemenang.
Terkadang kita melupakan bahwa manusia normal memiliki akal sehat, sehingga taktik menyesyaikan dengan segala sesuatu yang dimilikinya.
Lalu ada faktor X yang terkadang diluar kendali manusia.
Banyak sejarah yang membuktikan segala sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin didalam sejarah kehidupan manusia.