KN Trisula P.111 – Kapal Patroli SAR KPLP dengan Perangkat Navigasi Canggih

Dari puluhan armada kapal militer dan sipil yang dikerahkan dalam misi evakuasi Sriwijaya Air SJ-182, tersebutlah salah satunya KN Trisula P.111 yang dilibatkan pada fase awal operasi. Kapal tersebut dioperasikan Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP), lembaga dibawah Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Republik Indonesia. Dari penampakannya, KN Trisula tergolong punya desain yang modern, bahkan kapal patroli ini punya radar intai dan navigasi yang terbilang canggih.

Baca juga: Terma SCANTER 6000 – Radar Intai dan Navigasi Kapal Patroli KPLP Kemenhub RI

Dibangun oleh galangan swasta nasional asal Surabaya, PT Dumas Tanjung Perak Shipyards, KN Trisula diklasifikasikan sebagai Marine Disaster Prevention Vessel, masuk dalam klasifikasi yang sama adalah KN Sarotama. Disebutkan dalam situs resmi galangan, kapal dengan livery putih, merah dan biru ini punya peran untuk misi SAR, oil spill recovery, fire fighting, serta disaster command and coordination.

Kapal yang dibangun dari rancangan Damen Technical Cooperation ini punya panjang 61,8 meter dan lebar 9,7 meter. Bisa dikira-kira, dimensi KN Trisula setara dengan kapal cepat rudal (KCR-60) buatan PT PAL.

KN Trisula ditenagai mesin diesel 2x MTU16V400M70, dimana tiap mesin menghasilam tenaga 2320 Kw. Dari sisi performa, KN Trisula punya kecepatan maksimum 18 knots dan kecepatan jelajah 17 knots. Saat berlayar dengan kecepatan jelajah, KN Trisula dapat berlayar sejauh 3.000 nautical mile (setara 5.556 km). Saat berlayar, KN Trisula dapat membawa 242 m3 bahan bakar dan 59m3 air tawar. Kabin akomodasi KN Trisula full air conditioned serta mendukung 51 personel dan sudah dilengkapi laundry sampai hospital.

Guna menunjang beragam fungsi, KN Trisula dilengkapi dengan crane yang punya kapasitas 10 ton, towing hook 150 kN, satu unit workboat RHIB dan satu unit rescue boat SOLAS dengan kapasitas 6 penumpang dan mampu melaju 20 knots. Sedangkan untuk misi oil recovery (tumpahan minyak), perangkat yang ada di KN Trisula mencakup booms, skimmer, JIB, spray booms dan oil storage.

Bicara tentang perangkat navigasi, KN Trisula dibekali dengan seabreg perangkat canggih, sebut saja ada Satcom C, radio direction finder, gyro, DGPS, doppler log, autopilot, echo sounder dan navtex.

Untuk radarnya, KN Trisula sudah mengadopsi Terma SCANTER 6000. Jenis radar ini difungsikan untuk peran navigasi, intai, dan kendali helikopter. Dalam paket instalasinya, SCANTER 6000 akan diintegrasikan dengan sistem display dari Northrop Grumman Sperry Marine Vision Master automatic radar plotting aid (ARPA). SCANTER 6000 dirancang mampu beroperasi dalam segala kondisi cuaca, dan sanggup mendeteksi dan melacak obyek berukuran kecil dari ujung cakrawala.

SCANTER 6000 untuk KPLP juga berjalan di X band pada rentang frekuensi 9250 – 9500 Mhz dengan kemampuan 2D. Oleh pihak pabrikannya, radar ini diciptakan untuk mengisi kesenjangan antara kemampuan navigasi radar maritim dan sistem radar intai di kapal perang yang harganya relatif mahal.

Dari segi kemampuan, SCANTER 6000 untuk monitoring low airscpace dapat mendeteksi keberadaan pesawat jet dan propeller dari jarak 15 nautical mile (sekitar 27,7 km) pada ketinggian maksimum 1.828 meter.

Sejatinya radar ini telah diadopsi pada kapal-kapal perang kelas berat, sebut saja pengguna SCANTER 6000 ada kapal induk AL Perancis, Charles De Gaulle, frigat AL Denmark Iver Huitfeldt, dan kapal eksperimental AL AS, Stiletto high speed experimental vessel. Selain itu SCANTER 6000 juga telah dipercaya untuk dipasang pada program upgrade kapal patroli di Jerman dan Uni Emirat Arab.

Baca juga: KN SAR 301 Wisnu, Kapal ‘Besar’ Pertama di Titik Pencarian Sriwijaya Air SJ-182

Terma adalah perusahaan asal Denmark, yang pada tahun 2016 mendapat kepercayaan memasang sistem radar SCANTER 6000 untuk lima kapal patroli KPLP, yaitu KN Trisula, KN Kalimasadha, KN Kalawai, KN Chundamani dan KN Gandiwa. (Gilang Perdana)

10 Comments