Kirim Bantuan Darurat ke Wilayah Terisolir di Sumatera, TNI AU Terjunkan ‘Helibox’ dari Airbus C-295

Guna menjangkau korban yang akses wilayahnya terputus total akibat bencana alam yang melanda Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar), TNI AU diwartakan menerjunkan helibox sebagai bagian dari solusi LCLA (Low Cost Low Altitude). Meski tak lazim didengar, namun, helibox bukan sesuatu yang baru dalam lingkup airdrop di dunia kemilliteran.
Baca juga: Tak Dapat Airbus C-295, Puspenerbad TNI AD Justru Bakal Jadi Pengguna CN-235 220
Mengutip siaran pers Dispenau (2/12/2025), dengan menggunakan pesawat angkut C-295 Skadron Udara 2 dengan nomor registrasi A-2904, diterjunkan 90 helibox berisi bantuan darurat bagi warga terdampak banjir di Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Senin (1/12/2025).
Langkah ini ditempuh untuk menjangkau sejumlah wilayah yang terisolir setelah akses darat terputus akibat kerusakan infrastruktur. Pengiriman bantuan dilakukan dari Lanud Soewondo, Medan, menuju Drop Zone (DZ)di Batuarimo, dengan memprioritaskan suplai pangan untuk masyarakat yang masih kesulitan memperoleh kebutuhan pokok. Bantuan tersebut meliputi bahan makanan serta perlengkapan darurat lain yang diperlukan segera oleh warga di wilayah terdampak.
Helibox yang digunakan dalam misi ini merupakan kemasan khusus yang dirancang menyerupai bilah baling-baling. Teknologi ini memungkinkan distribusi bantuan dilakukan secara cepat, aman, dan efektif ke daerah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Helibox bukan wadah standar persegi atau silinder biasa, melainkan memanfaatkan aerodinamika putaran (rotary aerodynamics) untuk mencapai tujuan spesifik saat dijatuhkan.
Fungsi desain seperti bilah baling-baling pada wadah pasokan udara memiliki tujuan tunggal yang sangat cerdas, yaitu stabilisasi dan deselerasi tanpa parasut. Ketika wadah dilepaskan, bentuk bilah (atau sirip yang menyerupai bilah) akan memaksa kotak berputar di sekitar sumbu vertikalnya, mirip seperti peluru yang distabilkan oleh putaran (rifling).
View this post on Instagram
Putaran ini menciptakan stabilitas giroskopik, mencegah wadah oleng, berguling, atau jatuh tidak menentu. Hal ini sangat penting untuk akurasi pendaratan. Bentuk bilah menciptakan drag (hambatan udara) yang signifikan saat kotak berputar dan bergerak turun.
Dengan hambatan yang cukup, kotak dapat jatuh dengan kecepatan yang jauh lebih lambat daripada freefall (jatuh bebas). (Gilang Perdana)
TNI AU Sukses Ujicoba Darat Parachute Cargo Delivery System di Pesawat C-295M


