Kerap Jatuh, Reputasi Jet Tempur F-15 Jadi ‘Memble’ di Tangan Arab Saudi

Pada 7 Desember lalu, Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengumumkan bahwa jet tempur F-15SA milik Royal Saudi Air Force (RSAF) jatuh dan menewaskan dua awak di dalamnya. Saat insiden jet tempur tersebut sedang dalam misi pelatihan.

Baca juga: Dubai Airshow 2023: Tampilkan F-15QA Ababil, Boeing Incar Penjualan Jet Tempur F-15EX ke Arab Saudi

Kecelakaan jet tempur F-15 terjadi di Pangkalan Udara King Abdulaziz di Dhahran selama penerbangan pelatihan reguler. Investigasi telah diluncurkan untuk mengetahui penyebab pasti kecelakaan itu. Juru bicara Kementerian Pertahanan tidak memberikan rincian lebih lanjut tentang insiden tragis tersebut. F-15SA adalah varian dua kursi dari jet tempur McDonnell Douglas (sekarang – Boeing) F-15, yang menjadi tulang punggung armada tempur kerajaan Arab Saudi.

F-15SA berasal dari F-15E Strike Eagle dengan dua kursi. F-15SA diklaim sebagai versi F-15 tercanggih, menggabungkan elemen dari F-15SG milik Singapura dan F-15K Slam Eagle milik Korea Selatan.

Ini adalah kecelakaan kedua F-15SA milik Arab Saudi pada tahun ini. Sebuah jet tempur F-15SA Saudi jatuh saat latihan pada bulan Juli tahun ini, menewaskan kedua awak di dalamnya. Kecelakaan itu terjadi di dekat Pangkalan Udara Raja Khalid di Khamis Mushait, terletak sekitar 815 kilometer barat daya ibu kota, Riyadh.

Sebelumnya, pada tahun lalu, F-15SA Arab Saudi jatuh di area pelatihan Pangkalan Udara King Abdulaziz karena kerusakan teknis selama latihan rutin malam hari pada November 2022. Awak pesawat yang terdiri dari dua perwira, berhasil melontarkan diri dengan selamat.

Amazing! Inilah 5 Momen Tak Terlupakan dari Jet Tempur F-15 Eagle

Selain Arab Saudi yang mengoperasikan 211 unit F-15, Angkatan Udara Israel (IAF) dan Angkatan Udara Qatar Emeri (QEAF) adalah dua operator pesawat Strike Eagle lainnya di wilayah tersebut. Di Asia, kedua operator tersebut adalah sekutu AS, Korea Selatan dan Singapura.

Arab Saudi mengumumkan kesepakatan senjata besar-besaran dengan Amerika Serikat, termasuk pembelian pesawat F-15SA, pada tahun 2010. Kesepakatan senjata ini bernilai miliaran dolar dan mencakup sejumlah besar pesawat tempur, termasuk F-15SA, serta peralatan dan dukungan lainnya.

Pertama kali diumumkan pada tahun 2010, kesepakatan  tersebut kemudian melalui berbagai tahap negosiasi dan persetujuan sebelum realisasi penuhnya. Proses pengiriman dan pengoperasian pesawat F-15SA terjadi setelah kesepakatan tersebut, dengan pesawat-pesawat tersebut mulai diterima oleh Arab Saudi beberapa tahun setelahnya.

Dengan kapasitas muatan maksimum hingga 10 ton dalam satu misi atau serangan mendadak, jet tempur taktis F-15SA adalah pilihan ampuh untuk menghancurkan posisi musuh.

Pada Maret 2018, milisi Houthi yang didukung oleh Iran di Yaman sukses menghantam jet tempur F-15 milik Angkatan Udara Arab Saudi dengan rudal yang terbang di atas provinsi Saadaada Yaman barat laut. Saudi mengonfirmasi insiden itu dalam sebuah siaran pers. Namun pemerintah Saudi mengklaim jika pesawat itu dapat dengan aman kembali ke pangkalan.

Tidak jelas varain F-15 mana yang terlibat dalam insiden tersebut. Angkatan Udara Kerajaan Saudi mengoperasikan dua varian F-15, yaitu F-15S dan F-15SA. Keduanya dikirim ke Yaman untuk memberangus milisi Houthi.

Media yang berafiliasi dengan Houthi merilis rekaman yang menunjukkan peluncuran rudal R-27 ke udara yang menabrak sebuah pesawat. Para pemberontak telah berhasil memodifikasi rudal R-27 menjadi rudal hanud.

India Tampilkan Samar-2 Air Defense System – Senjata Hanud dengan Basis Rudal Udara ke Udara R-27

F-15A memulai debutnya pada tanggal 27 Juli 1972, dan F-15B dengan dua kursi menyusul pada bulan Juli 1973. Jenis pesawat ini mencapai reputasi tempur udara-ke-udara pertamanya pada bulan Juni 1979. (Bayu Pamungkas)

2 Comments