Kejutan dari Perancis: Renault Produksi 600 Drone Kamikaze “Chorus” untuk Ukraina

Peta persaingan teknologi drone di pasar global kembali dikejutkan dengan pengumuman terbaru dari Perancis. Mengikuti jejak Amerika Serikat yang meluncurkan sistem LUCAS, raksasa otomotif Perancis, Renault, secara resmi memasuki industri pertahanan dengan memulai produksi drone kamikaze jarak jauh yang dinamakan “Chorus”.
Baca juga: Pasar Drone Kamikaze Diprediksi Melonjak 400% di 2030, Ini Kata Rosoboronexport
Langkah ini menandai kembalinya Renault ke industri militer dalam skala besar sejak era Perang Dunia. Di bawah supervisi Direktorat Jenderal Persenjataan Perancis (DGA), proyek ini merupakan hasil kerja sama strategis antara Renault dengan perusahaan pertahanan spesialis kedirgantaraan, Turgis Gaillard.
Penunjukkan Renault sebagai produsen drone bukan tanpa alasan. Pemerintah Perancis berupaya memanfaatkan efisiensi jalur perakitan otomotif untuk memproduksi alutsista dalam jumlah masif dengan biaya rendah—sebuah konsep yang sering disebut sebagai “ekonomi perang”.
Produksi drone Chorus akan dipusatkan di dua pabrik utama Renault, yaitu Pabrik Le Mans, yang bertanggung jawab atas perakitan rangka (airframe) dan struktur utama drone, dan Pabrik Cléon, yang fokus pada pembuatan dan modifikasi mesin yang akan menggerakkan drone tersebut.
MV-25 OSKAR – Drone Kamikaze Pertama Buatan Perancis yang Berstatus Battle Proven
Target produksinya sangat ambisius, yakni mencapai 600 unit pada tahap awal. Jumlah ini dirancang untuk menandingi dominasi drone Shahed-136 buatan Iran yang banyak digunakan Rusia, namun dengan standar kualitas dan teknologi Barat yang diklaim lebih presisi.
Sebagai informasi, Chorus tidak meniru desain Shahed-136 secara visual atau fisik, melainkan meniru peran strategis dan konsep ekonominya. Dirancang oleh Turgis Gaillard, Chrous dengan bentuk yang lebih menyerupai pesawat atau drone konvensional dengan rentang sayap yang lebar (8 meter) dan bodi yang ramping (10 meter). Desain ini memungkinkan efisiensi aerodinamis yang jauh lebih baik untuk manuver dan kecepatan tinggi. Desain ini memberikan ruang lebih luas untuk muatan hulu ledak atau sensor tambahan.
Perancis Rilis ‘Aarok’ – Drone Tempur (UCAV) Pertama Produksi Dalam Negeri
Drone Chorus didesain sebagai drone kamikaze yang tidak hanya murah, tetapi juga mematikan. Nama “Chorus” (paduan suara) diambil dari istilah akustik, yang mengisyaratkan bahwa senjata ini dirancang untuk beroperasi dalam sistem kawanan (swarm attacks) untuk melumpuhkan pertahanan udara lawan.
Chrous mampu melesat hingga 400 km/jam, jauh lebih cepat dibandingkan Shahed yang rata-rata hanya mencapai 185 km/jam. Chrous dapat terbang pada ketinggian hingga 5.000 meter (5 km), membuatnya sulit dijangkau oleh sistem pertahanan udara jarak pendek konvensional.
Selain sebagai drone kamikaze (serang), Chorus juga dibekali kemampuan pengintaian (reconnaissance) dan pengawasan jarak jauh. Dengan keahlian Renault dalam manufaktur massal, biaya produksi Chorus dilaporkan berhasil ditekan hingga sepuluh kali lipat lebih murah dibandingkan produk serupa di pasar Barat. (Bayu Pamungkas)



600 terlalu sedikit. Untuk menghadapi Rusia setidaknya Ukraina butuh 5000 unit per bulan atau 60.000 unit hingga 100.000 unit pertahun.
Indonesia sebaiknya juga harus menyediakan cadangan drone kamikaze sebanyak ini selain 3 juta peluru artileri dan 100 miliar peluru rifle.