Keep Them Flying, Sukhoi Su-30MK2 TS-3009 TNI AU Selamat dari Terjangan Bird Strike

Mungkin akhir ceritanya bakal lain bila Sukhoi Su-30MK2 adalah jet tempur bermesin tunggal, setelah mendapatkan bird strike saat Gladi Resik HUT TNI Ke-71 di Lanud Halim Perdanakusuma (7/4/2017), pesawat twin engine dengan nomer TS-3009 ini masih mampu dikendalikan, dan pilot dapat melakukan (R2B) return to base dengan satu mesin mengalami kerusakan serta mengepulkan asap. Pesawat serta kedua awak dapat mendarat normal dan alutsista berharga puluhan juta dollar ini dapat diselamatkan.

Baca juga: Sukhoi Su-30MK2 TNI AU Sukses Uji Flare dengan APP-50 Dispenser

Burung diketahui masuk ke dalam air intake pesawat ketika sedang terbang. Kemudian kedua pilot itu melakukan tindakan tepat dengan mematikan mesin dan landing dengan satu mesin. “Saya memberikan apresiasi kepada personel Skadron Udara 11 Lanud Hasanuddin Makasar atas tindakan yang tepat dan berani. Mereka dapat menyelamatkan pesawat pada saat pelaksanaan gladi bersih HUT TNI AU ke 71 di Lanud Halim Perdanakusuma,” ujar KSAU Marsekal Hadi Tjahjanto di Gedung Dewanto Denma, Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Jumat (21/4/2017). Hadi menambahkan, “Kita menghargai karena faktor kesulitan di sana itu sangat tinggi. Saat itu memang direncanakan melaksanakan fly pass. Dan harus landing dengan satu mesin itu tidak mudah harus mempunyai keterampilan,” tuturnya.

Baca juga: Kh-59ME – Rudal Anti Kapal Andalan Sukhoi Su-30MK2 Flanker TNI AU

Atas kemampuannya yang dianggap luar biasa, kedua penerbang Letkol Pnb Anton Pallaguna dan Lettu Pnb Ahmad Finandika dari Skadron Udara 11, Lanud Hassanudin, mendapat penghargaan berupa sertifikat welldone dari KSAU. Lain cerita bila yang mendapat “cobaan” adalah pesawat jet bermesin tunggal, saat mesin pesawat rewel akibat kemasukan benda asing, maka tak ada pilihan selain pilot melakukan eject. Seperti terjadi pada 17 Agustus 2015, Sebuah jet tempur Maroko jatuh di wilayah timur laut negeri itu setelah menabrak sekawanan burung. Mujur, pilot jet tempur Angkatan Udara Maroko itu berhasil meloncat keluar dengan selamat.

Pesawat militer Mirage F1 yang bermesin tunggal tersebut tengah melakukan misi pelatihan ketika jatuh di dekat pangkalan udara Sidi Slimane. “Tabrakan dengan sekawanan burung besar saat pesawat bersiap untuk mendarat, hingga menyebabkan mesin pesawat mati,” demikian disampaikan seperti dilansir AFP, Selasa (18/8/2015). Tidak dilaporkan adanya korban dari insiden ini. Jet tempur tersebut jatuh ke daerah yang tak berpenghuni. Mirage F1 diproduksi oleh perusahaan Perancis, Dassault.

Baca juga: Jajal Dogfight, J-11 (Sukhoi Su-27) Kalah Telak dari Gripen, Ini Dia Sebabnya!

Bird strike adalah ancaman pada pesawat jet. Tidak seperti mobil yang mesinnya tertutup rapi, pada pesawat jet, bagian depan mesin pesawat terbuka untuk menyedot udara untuk pembakaran. Benda-benda yang tidak diinginkan bisa tersedot dan merusak bagian dalam mesin pesawat. Benda-benda ini disebut FOD (Foreign Object Damage). Jika ada benda yang merusak sebuah bilah turbin mesin jet, maka pecahan bilahnya bisa melesat ke bilah yang lain dan seterusnya merusak keseluruhan mesin. Pada waktu pesawat lepas landas bahaya yang mengancam sangat besar karena putaran bilah turbin ini mencapai maksimum.

Bagian depan mesin yang terbuka (air intake), menelan apa saja yang dilewati termasuk es/salju, air hujan, burung besar atau kecil. Benda/burung yang masuk ke dalam mesin jet ini bisa merusak bilah-bilah turbin dan membuat mesin berhenti bekerja atau bahkan terbakar karena pembakaran yang terjadi tidak terbuang keluar dari belakang mesin. Bahkan jika FOD yang masuk mesin menjadi hancur terkena bilah mesin dan tidak merusak bilah tersebut, aliran udara yang masuk bisa terganggu dan bisa menyebabkan mesin jet menjadi stall.

Jet tempur AMX milik AU Brasil rusak parah akibat hantaman burung.

Baca juga: OEPS-27 – Penjejak Target Berbasis Elektro Optik di Sukhoi Su-27/Su-30 TNI AU

Kecelakaan karena bird strike biasanya banyak terjadi di ketinggian rendah, pada saat pesawat lepas landas atau mendarat. Menurut statistik 61% bird strike terjadi di ketinggian 100 kaki saja. Bahaya lain lagi adalah, jika burung tersebut menabrak kaca depan/windshield. Dengan momentum yang tinggi, kaca depan pesawat dapat pecah dan melukai penerbangnya. Meskipun burung kecil dan tidak menimbulkan kerusakan, tapi ceceran darahnya menutupi windshield dan menghalangi pandangan ke depan. (Gilang Perdana)

21 Comments