Kecoh Serangan Udara Rusia, AS Pasok Ukraina dengan Sistem Hanud Rudal ‘Palsu’

Joint Threat Emitter (US Air Force)

Dalam perang Ukraina versis Rusia, banyak aspek dan strategi yang menjadi pertaruhan. Bukan hanya bagaimana cara menghancurkan sasaran lawan, melainkan juga berlaku strategi untuk ‘menguras’ stok amunisi lawan, dalam hal ini yang dimaksud adalah stok amunisi bernilai tinggi, seperti rudal hanud (pertahanan udara) yang harganya sangat mahal.

Baca juga: Floating Decoy System – Kecoh Serangan Rudal Anti Kapal dengan Teknologi Reflektor

Terkait dengan hal di atas, Amerika Serikat dikabarkan telah memasok militer Ukraina dengan sistem rudal hanud ‘palsu’ yang diklaim dapat membingungkan pilot pembom dan jet tempur Rusia. Dikutip dari eurasiantimes.com (9/12/2022), AS telah mengirimkan Ukraina dengan ‘pemancar ancaman’ atau ‘threat emitters.’

Pasokan dari AS itu dilakukan guna menutupi ‘hilangnya’ persediaan sistem rudal hanud Ukraina yang jumlahnya semakin berkurang dari waktu ke waktu. Sejauh ini, Ukraina mengerahkan sistem hanud S-300 dan Buk-M1, yang memaksa jet tempur Rusia terbang di ketinggian di bawah 4.500 meter, langsung ke jangkauan sistem hanud MANPADS yang telah menyumbang sejumlah besar penembakan terhadap pesawat Rusia.

S-300

Namun, saat ini, persediaan rudal hanud Ukraina tampaknya menyusut pada tingkat yang berpotensi menghadirkan masalah besar. Blog pelacakan militer Oryx menyebut, bahwa Ukraina telah kehilangan sekitar 36 peluncur S-300 sejauh ini. Ada kemungkinan jumlah kerugian sebenarnya mungkin lebih tinggi. Laporan pada bulan Juli lalu, malah menunjukkan bahwa pertahanan udara Ukraina kehilangan peluncur S-300 setidaknya tiga atau empat kali seminggu.

Selain itu, dalam beberapa bulan terakhir, militer Rusia telah berulang kali menghujani basis penting Ukraina dengan drone kamikaze, yang notabene ikut menghabiskan persediaan rudal darat ke udara Ukraina.

Beginilah konfigurasi satu paket sistem rudal S-300.

Oleh karena itu, seperti yang baru-baru ini diumumkan oleh Menteri Pertahanan Ukraina Oleksii Reznikov, Kiev sedang berdiskusi dengan negara lain untuk mengisi kembali stok rudal S-300 Ukraina.

Baca juga: Anomali, Ukraina Minta Bantuan Pasokan Sistem Hanud S-300 dari Negara Uni Eropa

Berangkat dari kondisi di atas, Washington memasok sistem radar S-300 palsu ke Ukraina. Pasokan ‘pemancar ancaman’ oleh AS ke Ukraina pertama kali dilaporkan oleh Aviation Week pada 4 Desember lalu. Pemancar ancaman memancarkan sinyal radio yang mirip dengan radar hanud tanpa memiliki sistem pemrosesan sinyal yang sama.

Militer umumnya menggunakan pemancar ancaman untuk melatih awak pesawat untuk mengidentifikasi dan bereaksi terhadap ancaman dalam simulasi skenario pertempuran, di mana pilot mempelajari signature pesawat dan rudal hanud lawan dan mengetahui bagaimana sensor di pesawat mereka akan mendeteksi ancaman semacam itu dalam keadaan nyata.

Salah satu sistem tersebut adalah Joint Threat Emitter yang dikembangkan oleh Northrop Grumman. Ini terdiri dari unit komando yang dioperasikan oleh personel dan pemancar ancaman radar yang dipasang di trailer. Unit komando dapat mengontrol hingga 12 pemancar ancaman yang berbeda, dan setiap pemancar dapat mensimulasikan hingga enam ancaman secara bersamaan.

Ketika dikerahkan dalam konflik yang sebenarnya, pemberi ancaman ini dapat mengecoh pilot pesawat tempur musuh dengan memberi mereka kesan bahwa pertahanan lokal lebih kuat dari yang sebenarnya, sehingga berpotensi menghalangi mereka untuk melakukan serangan.

Menggelar pemancar ancaman hanyalah taktik penipuan, yang telah digunakan Rusia dan Ukraina untuk melawan satu sama lain sejak awal perang dengan menyebarkan tiruan atau tiruan sistem senjata seperti HIMARS dan sistem pertahanan udara S-300.

36D6M1-1 air defense radar 

Laporan menunjukkan pemancar ancaman yang dimaksud dapat mereplikasi radar pertahanan udara 36D6M1-1 yang dijual ke Angkatan Darat AS pada tahun 2018 oleh Iskra, sebuah perusahaan manufaktur radar Ukraina. 36D6M1-1, juga dijuluki sebagai ‘Tin Shield,’ adalah radar pengawasan ruang udara 3D bergerak yang mampu mendeteksi target udara yang terbang rendah di bawah perlindungan jamming aktif dan pasif.

Baca juga: Perang Propaganda, Iran ‘Pamerkan’ Sosok Dummy Kapal Induk Nuklir

Kepala Staf Angkatan Udara AS (USAF), Jenderal Charles Q. Brown Jr mengatakan bahwa memberikan pemancar ancaman ke Ukraina adalah contoh bagaimana Pentagon dapat menemukan cara cepat untuk mengatasi masalah selama krisis. (Gilang Perdana)

9 Comments