Seputar DSEI 2019Klik di Atas

KC-135 Stratotanker: Lekat dengan F-16 TNI AU, Inilah Pesawat Tanker dengan Populasi Terbesar

Selain KC-10 Extender, nama KC-135 Stratotanker juga lumayan akrab diteliga, ya pesawat tanker multirole ini selain memang layak disebut legendaris, juga beberapa kali pernah ‘menyusui’ F-16 A/B TNI AU, baik dalam misi ferry flight atau latihan bersama AU AS. Dibanding KC-10 Extender yang dicomot dari basis Douglas DC-10 (wide body), KC-135 berasal dari platform Boeing 707 yang narrow body, menjadikan kapasitas bahan bakar yang dapat dibawa KC-135 hanya setengah dari kemampuan KC-10.

Baca juga: KC-10 Extender – Serba Serbi Pesawat Tanker ‘Pendukung’ Ferry Flight F-16 TNI AU 

Jauh lebih senior dari KC-10, KC-135 Stratotanker terbang perdana pada 31 Agustus 1956 dan mulai resmi dioperasikan satu tahun kemudian. Nyaris di setiap keterlibatan militer AS di seantero bumi, KC-135 tak pernah absen mendukung pergerakan jet tempur dan pesawat pembom USAF. Diproduksi oleh Boeing hingga tahun 1965, total ada 803 unit KC-135 yang berhasil dibuat. Hebatnya sampai tahun 1990, sekitar 600 unit Stratotanker masih beroperasi, menyiratkan kehandalan KC-135 pesawat tanker yang juga bisa berperan sebagai angkut kargo.

Debut KC-135 paling masif dioperasikan sepanjang sembilan tahun Perang Vietnam, sebannyak 813 kali telah dilakukan misi air refueling dalam laga perang tersebut. Sementara di Perang Teluk I, armada KC-135 total telah menggelontorkan 126 juta kg bahan bakar dalam misi air refueling. Pada tahun 1966, AU AS mengambil kebijakan untuk merubah komposisi KC-135, sebanyak 732 unit tetap dipertahankan sebagai pesawat tanker, dan 88 unit dimodifikasi sebagai cargo carriers, reconnaissance aircraft, dan Strategic Air Command Airborne Command Posts.

Lantas seperti apakah kapasitas KC-135? Dari beberapa tangki, total bahan bakar yang dapat disalurkan oleh Stratotanker adalah 90.719 kg. Dengan dilengkapi dengan side door cargo, total payload kargo yang dapat dibawa KC-135 adalah 37,6 ton. Ruang kargo dapat pula disukap sebagai kabin angkut, dengan membawa 80 penumpang. Berbeda dengan Boeing 707, KC-135 juga dilengkapi crew hatch, sehingga awak kabin dan kru pesawat dapat keluar masuk pesawat tanpa dukungan tangga konvensional yang biasa disediakan di bandara.

Hatch crew di bawah kompartemen kokpit.

Baca juga: KC-130B Hercules – Tingkatkan Endurance Jet Tempur TNI AU

Seperti halnya KC-10 Extender dan Airbus A330-200 MRTT, KC-135 Stratotanker dapat melayani dua mode air refueling, yakni dengan mode hose dan boom. Untuk kendali proses air refueling, dilakukan oleh operator boom di bagian belakang lewat sistem digital fly by wire. Dalam satu kali kesempatan, operator mengendalikan V-tail dalam mode air refueling dengan mekanisme boom. KC-135 juga dapat dilengkapi wing pod dengan drouge, menjadikan dalam satu kesempatan KC-10 dapat melayani air refueling kepada dua pesawat sekaligus lewat mode hose. Dengan mekanisme hose, pengisian bahan bakar di udara menggunakan pipa lentur yang ujungnya dilengkapi drogue, seperti parasut kecil. Dalam pola ini, pesawat penerima yang harus aktif mencari ‘puting susu’ dari tanker tersebut.

wing pod dengan drouge

Dalam konsep Air Refueling Wing USAF, KC-135 ditempatkan sebagai elemen pendukung KC-10 Extender. Meski belum ada pernyataan resmi kapan akan dipensiunkan, beberapa kalangan menyebut KC-135 masih sanggup dioperasikan hingga 2040. Namun perlahan, peran KC-135 mulai digantikan oleh KC-46 Pegassus, yang tak lain pesawat tanker yang diambil dari platform pesawat komersial Boeing 767.

Baca juga: Dua Kali Disebut KSAU, Masa Depan Airbus A330 MRTT Bersinar di Indonesia

Selain Amerika Serikat, KC-135 dioperasikan oleh Perancis, Chile, dan Turki. Sejak diluncurkan perdana sebagai seri KC-135A, Boeing telah merilis KC-135 dalam berbagai seri dan varian. Namun yang paling populer adalah KC-135R, dimana seri ini menggantikan mesin buatan Pratt & Whitney ke CFM International. Singapura sampai saat ini tercatat masih menjadi pengguna empat unit KC-135R, yang berasal dari bekas pakai AU AS. (Haryo Adjie)

5 Comments