Seputar DSEI 2019Klik di Atas

Jelang 2018, Inilah Proyeksi Terbaru Kekuatan TNI AU di Masa Depan

Proyeksi kekuatan TNI AU di masa depan beberapa kali pernah disebut, seperti pada tahun 2015 silam, saat KSAU dijabat Marsekal TNI Ida Bagus Putu, pernah dipaparkan beberapa program pengadaan alutsista dalam acara Exit Briefing sebelum Sang Marsekal mengakhiri tugasnya sebagai KSAU di Mabesau Cilangkap, Kamis (8/1/2015).

Baca juga: Ini Dia! Program Upgrade dan Pengadaan Alutsista TNI AU di 2015

Dan belum lama berselang, Panglima TNI yang saat ini dijabat rangkap sementara oleh KSAU Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, memberikan paparanya tentang rencana postur kekuatan TNI AU di masa mendatang. Dalam konsep yang disebut “No Area Left Without Air Cover,” Marsekal Hadi mengulas rencana pengadaan alutsista yang dibutuhkan untuk TNI AU.

Dikutip dari Janes.com (15/12/2017), Hadi menyebut akan melengkapi sejumlah pangkalan udara strategis dengan unsur kekuatan jet tempur. Hal ini diperlukan untuk memberikan cakupan pertahanan udara maksimal. Dalam paparan yang pernah disampaikan Marsda TNI Yuyu Sutisna saat menjabat sebagai Pangkohanudnas, disebut bahwa di setiap Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional (Kosekhanudnas) harus dilengkapi dengan kekuatan interceptor yang memadai. Dan dari empat Kosekhanudnas, Kosek Hanudnas IV di Biak yang terbilang rentan, pasalnya belum ada unsur kekuatan udara permanen untuk memagari ruang udara wilayah Papua.

Yang ada saat ini masih mengandalkan flight yang diisi bergantian dari jet tempur yang ber-home base dari pangkalan lain. Seperti contoh saat ini TNI AU menggelar flight jet tempur taktis T-50i Golden Eagle di Lanud Kupang. Kedepan Lanud strategis seperti Biak dan Kupang diproyeksikan akan menjadi basis skadron tempur, khususnya untuk merepson ancaman dari wilayah perbatasan dan menangkal masuknya black flight.

Baca juga: Pangkohanudnas – ALKI III Jadi Wilayah ‘Favorit’ Pelanggaran Wilayah Udara Nasional

Dalam proyeksi kekuatan alutsista yang disebutkan Marsekal Hadi Tjahjanto, TNI AU nantinya TNI AU akan ditambah dengan tiga skadron tempur, melengkapi delapan skadron tempur yang saat ini ada. Sektor pesawat angkut juga dibidik serius, terlebih dengan rencana pengadaan pesawat angkut berat, angkut sedang dan angkut taktis. Satu skadron baru helikopter juga akan dibentuk.

Skadron udara nirawak alias UAV (Unmanned Aerial Vehicle) akan dibentuk menjadi dua kesatuan, dimana kini sudah ada Skadron Udara 51 di Lanud Supadio yang mengoperasikan drone Aerostar dan Wulung.

Meski sering disebut dan sudah masuk dalam target di MEF (Minimum Essential Force) II, pengadaan pesawat Airborne Early Earning and Control (AEW&C) dan pesawat tanker belum juga berujung kontrak pembelian. Tapi toh, TNI AU sudah mencanangkan akan mengakuisisi empat unit pesawat AEW&C dan empat pesawat tanker untuk misi air refueling. Untuk penguatan radar Kohanudnas, pengadaan 12 unit ground-based radar systems juga sudah dicanangkan. Pada saat ini TNI AU mempunyai 20 unit radar, dan untuk memenuhi MEF, TNI harus mempunyai setidaknya 32 unit radar. Dengan demikian TNI AU masih membutuhkan 12 unit radar. Ke-12 unit radar tersebut adalah jenis Radar Primer (Primary Surveillance Radar).

Baca juga: Dengan Radar Weibel, Kini Satrad 215 Mampu Mengendus Pergerakan di Pulau Christmas

Masih dari sumber yang sama, juga disebut tentang pengadaan pesawat angkut/intai amfibi, namun untuk yang satu ini tidak disebutkan mengenai jumlah alias kuantitasnya. (Gilang Perdana)

30 Comments