Seputar DSEI 2019Klik di Atas

Jadi Drone, Helikopter UH-60 Black Hawk Sukses Terbang Perdana Tanpa Awak

Setelah ‘dijiplak’ sebagai Harbin Z-20 “CopyHawk” oleh Cina, menjadikan Amerika Serikat harus berpikir lebih kreatif untuk mengembangkan helikopter angkut medium serbaguna UH-60 Black Hawk. Seperti yang belum lama ini santer diberitakan, yakni helikopter besutan Sikorsky ini dikabarkan sukses melakukan terbang perdana. Ya, terbang perdana, tapi yang ini adalah terbang perdana pada UH-60A Black Hawk nirawak, alias terbang tanpa pilot.

Baca juga: Cina Punya Harbin Z-20 “CopyHawk,” Tiruan Sikorsky Black Hawk dengan Mesin Lebih Kuat

Dikutip dari Janes.com (6/6), uji terbang perdana UH-60A tanpa awak ini melibatkan perusahaan lain, yaitu Lockheed Martin sebagai pihak pemasok teknologi Optionally Piloted Vehicle (OPV). Pihak Lockheed Martin menyebutkan penerbangan perdana berlangung pada 29 Mei 2019 di West Palm Beach, Florida. “Ini adalah first full authority fly-by-wire retrofit kit yang dikembangkan oleh Sikorsky dan telah sepenuhnya menghilangkan kontrol penerbangan mekanis dari pesawat,” kata juru bicara Lockheed Martin.

Situs defensesystems.com pada Mei 2017 pernah mengulas tentang rencana Black Hawk Unmmaned ini, saat itu disebutkan Lockheed Martin dan Sikorsky Innovations research unit sedang mengimplementasikan sistem kendali helikopter dari tablet beserta kemampuan otonom dan mekanisme keselamatan yang ditingkatkan. Hal ini persisnya telah diungkapkan oleh Chris Van Buiten, Vice President of Sikorsky Innovations. Saat itu, sistem tablet akan diuji coba sebagai optionally-piloted.

“Tablet ini akan menjembatani interface antara manusia dan sistem otonom di helikopter. Dengan teknologi ini, maka memungkinkan helikopter terbang melintasi semua elemen dalam berbagai misi yang berbeda,” ujar Van Buiten. Kendali pada tablet pertama kali dikembangkan sebagai bagian dari proyek DARPA (Defense Advanced Research Projects Agency), khususnya pada pengembangan Aircrew Labor In-Cockpit Automation System (ALIAS), atau dalam bahasa populer, proyek ini disebut sebagai “click and fly” system.

Sosok tablet dengan spesifikasi outdoor tersebut dikatakan mempunyai interface sentuhan dan suara, serta sarat aplikasi yang dirancang untuk mendukung sistem otonom di helikopter. “Dalam prakteknya Anda tinggal memasukan perintah dan memilah semua detail, selanjutnya Anda dapat menerbangkan sebuah helikopter real dalam waktu pelatihan sekitar 10 menit,” tambah Van Buiten.

Sistem penerbangan tradisional mengharuskan pilot untuk secara langsung menangani kontrol hidrolik, menggerakkan kabel dan katrol secara manual untuk mengoperasikan aktuator hidrolik atau listrik. Di sistem nirawak, pilot di ground control cukup memasukkan perintah penerbangan ke komputer, aplikasi kemudian mengoperasikan aktuator hidrolik atau listrik sesuai dengan perintah tersebut. Perintah pilot diterjemahkan ke dalam sinyal digital, bukan ke dalam operasi mekanis.

Dengan menghilangkan beberapa perangkat keras, teknologi “fly by wire” yang digunakan pada teknologi ini dapat mengurangi bobot helikopter, yang pada akhirnya kecepatan helikopter dapat lebih ditingkatkan dan durasi penerbangan yang lebih lama.

Baca juga: UH-60M Black Hawk – Multi Mission Performer Untuk Kavaleri Udara TNI AD

Pengoperasian helikopter dengan basis semi dan full otomatis membawa implikasi pada keselamatan penerbangan. “Tiga perempat kecelakaan pada helikopter disebabkan oleh controlled flight into terrain (CFIT), jadi kami pikir sistem otonomi yang bekerja sama dengan awak dapat menghilangkan sebagian besar kecelakaan itu,” kata Buiten. (Bayu Pamungkas)

One Comment