Jadi Bulan-bulanan Drone Kamikaze, MBT Rusia Dipasangi Perangkat Deteksi Kehadiran Drone dari Jarak 4000 Meter

Meski dijuluki ‘Monster Lapis Baja’, namun tak jarang kita diperlihatkan adegan Main Battle Tank (MBT) yang tak berdaya menjadi bulan-bulanan serangan drone kamikaze FPV (First Person View). Dengan dimensinya yang kecil, drone kamikaze memang punya keterbatasan dalam membawa bahan peledak. MBT yang disengat mungkin tak sampai hancur, namun banyak kasus serangan drone kamikaze berhasil melumpuhkan ranpur berbobot puluhan ton tersebut.

Baca juga: Main Battle Tank (MBT) Rusia Punya “Volnorez” – Sistem Jammer Anti Drone Kamikaze FPV

Dengan kendali langsung dari operator (pilot), drone kamikaze menargetkan serangan pada perangkat sensor, navigasi dan bidik pada turret, dengan tujuan melumpuhkan atau membuat ‘buta’ MBT, sehingga nantinya sulit untuk bertempur.

Tak ingin kejadian terus berulang, Rusia kini mengembangkan perangkat deteksi internal, yang mana awak MBT dapat mengetahui kehadiran drone kamikaze dari jarak 4.000 meter, sehingga serangan drone dapat diantisipasi lebih dini.

Seperti belum lama ini muncul kabar bahwa Uralvagonzavod, manufaktur kendaraan lapis baja Rusia, berencana melengkapi MBT T-90M baru dengan sistem deteksi dan penanggulangan anti-drone. Sistem ini juga akan dipasang pada MBT T-72 yang telah mengalami perbaikan dan modernisasi. Namun, spesifikasi dari sistem anti-drone untuk T-90M masih belum diketahui.

Dikutip Bulgarianmilitary.com, solusi domestik (dalam negeri Rusia) yang tersedia saat ini terbatas. Salah satu kemungkinannya adalah integrasi sistem anti-drone yang diadaptasi dari sistem yang disebut Zashtita (Perlindungan).

Roseelectronics (bagian dari Rostec State Corporation), baru-baru ini mengumumkan penyelesaian pekerjaan pada Zashtita. Sistem Zashtita yang dimodernisasi memiliki jangkauan deteksi maksimum sinyal kontrol UAV yang diperluas, dari 6 hingga 8 GHz, dengan jangkauan minimum tetap pada 300 MHz. Sistem ini dirancang untuk mendeteksi semua jenis drone dan tidak terlihat oleh radar musuh serta tahan terhadap upaya jamming radio lawan. Jangkauan pengenalan dan penekanannya sepanjang waktu berada di rentang 2 hingga 4 km.

Opsi potensial lainnya adalah versi sistem deteksi dan penanggulangan drone Sapsan-Bekas yang dikembangkan oleh Avtomatika Concern, yang juga merupakan bagian dari Rostec Corporation.

Sistem Sapsan-Bekas juga mampu melakukan pengawasan wilayah udara sepanjang waktu. Sistem ini terdiri dari tiga subsistem: sistem deteksi radio, pencarian arah, dan radar aktif, pelacakan video dan optoelektronik dengan saluran pencitraan termal, dan subsistem penekan radio. Sapsan-Bekas beroperasi dalam rentang frekuensi yang luas – dari 400 MHz hingga 6 GHz.

Versi mobile dari Sapsan-Bekas dapat mendeteksi drone tipe Orlan hingga jarak 10 km dan menonaktifkannya pada jarak lebih dari 6 km. Sementara drone kecil dapat dinonaktifkan pada jarak hingga 4 km.

Namun, jika sistem ini diintegrasikan ke dalam MBT Rusia, maka sistem ini mungkin memiliki karakteristik yang lebih sederhana dengan tidak memiliki sistem optoelektronik.

Tangkal Serangan Drone, Israel Belajar dari Rusia, Pasang “Cope Cages” di Atas Kubah MBT Merkava

MENA Defense melaporkan rencana Aljazair untuk memodernisasi 600 unit armada MBT T-90S/CA. Sebagai bagian dari program modernisasi T-90 Aljazair, direncanakan untuk meningkatkan mesin B-92C2, mengganti modul perlindungan dinamis Kontakt-5 dengan Relikt, memasang sistem perlindungan aktif dari Rheinmetall Jerman, dan melengkapi setiap MBT dengan sistem anti-drone untuk deteksi, termasuk penanggulangan drone dengan fitur identification friend or foe.

Berdasarkan studi kemampuan teknis, militer Aljazair berencana memasang Aselsan Ithar Turki atau Sapsan-Bekas dari Rostec sebagai sistem anti-drone. Namun, biaya dan jangka waktu upaya modernisasi ekstensif tersebut masih dirahasiakan. (Gilang Perdana)