Israel Serang Rafah, Mesir Siagakan Rudal Hanud “Tayir as Sabah” ke Wilayah Perbatasan

Dengan dalih membebaskan sandera yang ditawan Hamas, Israel telah melancarkan serangan udara mematikan ke Rafah, yakni wilayah Gaza di Palestina yang berbatasan langsung dengan Mesir, yang notabene menjadi pintu masuk satu-satunya bantuan kemanusiaan ke Gaza. Buntut dari serangan Zionis ke Rafah telah direspon oleh militer Mesir dengan menggelar arsenal persenjataan ke perbatasan, salah satunya diketahui ada rudal Tayir as Sabah.

Baca juga: Dua di Antara Rudal Anti Kapal Milik Houthi Variannya Pernah Digunakan oleh Indonesia

Dalam video yang diposting akun X @clashreport, Tayir as Sabah yang berarti “penerbangan pagi” terlihat tengah dimobilisasi menuju pintu perbatasan Mesir-Palestina di Rafa. Bagi pecinta dunia militer, sosok Tayir as Sabah terasa tak asing lagi, pasalnya Tayir as Sabah adalah rudal hanud jarak jauh yang berasal dari reverse engineering dari rudal hanud S-75 Dvina (dalam kode NATO disebut SA-2 Guideline) buatan Uni Soviet.

S-75 Dvina jelas namanya begitu lekat di Indonesia, lantatan pernah menjadi ikon kedigdayaan rudal hanud Indonesia pada era 60-an, yakni dalam mempersiapkan Operasi Trikora.

Sejak pengoperasian pertamanya pada tahun 1957, S-75 menjadi sistem pertahanan udara yang paling banyak digunakan dalam sejarah. Sistem rudal ini digunakan secara luas di seluruh dunia, terutama di Timur Tengah, di mana Mesir dan Suriah menggunakannya untuk bertahan melawan Angkatan Udara Israel. Dan pada perang dengan Israel di era 60/70-an, jaringan pertahanan udara S-75 menyumbang sebagian besar jatuhnya pesawat tempur Israel.

Dengan bantuan Rusia, Mesir membangun zona pertahanan udara yang kuat di dekat terusan Suez yang berusaha dihilangkan oleh Angkatan Udara Israel selama Perang Atrisi.

Akibat perang dengan Israel, sebagian besar pesawat tempur Mesir hancur di darat pada tahun 1967. Kemudian militer Mesir menempatkan tanggung jawab pertahanan udara di bawah satu komando. Tanggung jawab sebelumnya telah dibagi di antara beberapa komando. Mesir membentuk Air Defense Force (ADF) – Angkatan Pertahanan Udara yang baru dengan mengikuti Komando Pertahanan Udara Soviet, yang mengintegrasikan seluruh kemampuan pertahanan udaranya—senjata antipesawat, unit roket dan rudal, pesawat pencegat, serta instalasi radar dan sistem peringatan.

Kekuatab ADF Mesir terdiri dari 100 batalyon senjata antipesawat, 65 batalyon rudal hanud S-75, 60 batalyon rudal hanud SA-3, 12 baterai rudal hanud Hawk (I-Hawk) yang ditingkatkan, dan 1 baterai rudal Crotale buatan Perancis.

Setiap batalion memiliki antara 200 dan 500 orang, dan dari empat hingga delapan batalyon membentuk satu brigade. Lokasi senjata dan rudal terletak di sepanjang Terusan Suez, sekitar Kairo, dan dekat beberapa kota lain untuk melindungi instalasi militer dan sasaran sipil yang strategis. ADF mengerahkan beberapa senjata bergeraknya di Gurun Barat sebagai pertahanan terhadap kemungkinan serangan dari Libya.

Kemajuan dicapai pada jaringan pertahanan udara nasional yang akan mengintegrasikan semua radar, baterai rudal, pangkalan udara, dan pusat komando yang ada ke dalam sistem komando dan kendali otomatis. ADF berencana menghubungkan sistem tersebut dengan pesawat peringatan dini AEW&C E-2 Hawkeye.

Sebagian besar artileri antipesawat, rudal hanud, dan peralatan radar ADF diimpor dari Uni Soviet. Senjata paling modern dalam sistem pertahanan udara adalah 108 unit peluncur rudal hanud jarak menengah I-Hawk yang diperoleh dari Amerika Serikat pada tahun 1982.

Sebelum Pilihan Ke SA-2, Soekarno Ternyata Mengincar Rudal Hanud Jarak Jauh “Nike”

Saat ini, Mesir diperkirakan memiliki 400 unit rudal hanud tua S-75 Dvina. Sebuah perusahaan Inggris membantu ADF memodernisasi S-75. Selain itu, Mesir juga memproduksi rudal hanud sendiri, yaitu Tayir as Sabah yang dibuat berdasarkan desain S-75.

Belum diketahui informasi teknis Tayir as Sabah, bila merujuk pada kemampan ‘aslinya’, maka rudal ini ditaksir punya bobot 2.300 kg dan ditenagai solid-fuel booster dan storable liquid-fuel upper stage. Jarak jangkaunya sebagai rudal hanud 45 km dengan ketinggian maksimum 25.000 meter. Rudal ini dapat melesat dengan kecepatan Mach 3.5. (Gilang Perdana)

Tangkal Serangan Rudal MANPADS, Pesawat Kepresiden Mesir Airbus A340-200 Dipasangi AN/AAQ-24 LAIRCM

3 Comments