Insiden ROKS Cheonan (Pohang Class) – Korvet Korea Selatan yang Karam Akibat Serangan Torpedo Korea Utara

ROKS Cheonan PCC-772

Tepat kemarin 14 tahun lalu, bertepatan dengan 26 Maret 2010, dikenang sebagai insiden yang tidak terlupakan dan menjadi sejarah kelam bagi Angkatan Laut Korea Selatan (Republic of Korea Navy). Korvet ROKS Cheonan PCC-772 (Pohang class) tenggelam di dekat Pulau Baengnyeong di Laut Kuning, dekat perbatasan maritim dengan Korea Utara. Dari 104 awak kapal, 46 awak tewas dalam insiden ini.

Baca juga: Chamsuri Class – Kapal Patroli Legendaris dalam “Northern Limit Line,” Jadi Incaran Negara Dunia Ketiga

Penyelidikan yang dilakukan oleh Korea Selatan, Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan Swedia menyimpulkan bahwa kapal ROKS Cheonan tenggelam karena serangan torpedo yang ditembakkan oleh kapal selam Korea Utara. Namun, Korea Utara membantah keterlibatannya dalam insiden tersebut.

Meski ada bantahan dari Korea Utara, hasil investigasi dari lima negara telah mendapatkan bukti bahwa torpedo yang digunakan Korea Utara adalah torpedo berpemandu, dan serpihan yang ditemukan di lokasi tenggelamnya kapal sesuai dengan karakteristik torpedo Korea Utara.

Selain itu, hasil penyelidikan menemukan bukti-bukti lain yang mendukung kesimpulan tersebut, termasuk gambar sonar dan bukti lainnya dari lokasi insiden. Meskipun Korea Utara membantah keterlibatannya dalam serangan tersebut, banyak negara dan organisasi internasional menerima kesimpulan dari penyelidikan internasional tentang keterlibatan Korea Utara dalam insiden ROKS Cheonan.

ROKS Cheonan tidak dapat menghindari serangan torpedo karena serangan tersebut dilakukan oleh kapal selam yang bergerak secara diam-diam di bawah permukaan air. Kapal selam memiliki kemampuan untuk menyelam di bawah radar sonar kapal permukaan dan meluncurkan torpedo tanpa terdeteksi. Selain itu, serangan tersebut kemungkinan dilakukan dengan cepat dan secara tiba-tiba, memberikan sedikit waktu bagi ROKS Cheonan untuk merespons atau menghindar.

Korban jiwa dalam insiden ROKS Cheonan terjadi karena dampak dari ledakan torpedo yang menghantam lambung. Torpedo yang digunakan dalam serangan tersebut memiliki daya ledak yang besar dan dirancang untuk merusak kapal dengan cepat.

Ledakan torpedo menghasilkan kerusakan struktural pada kapal ROKS Cheonan, menyebabkan kapal tenggelam dengan cepat. Para awak kapal tidak memiliki cukup waktu atau kesempatan untuk melarikan diri atau menyelamatkan diri, sehingga menyebabkan korban jiwa.

ROKS Cheonan sejatinya dilengkapi kemampuan anti kapal selam, berupa peluncur torpedo 3 x 2 Mark 32 Surface Vessel Torpedo dan bom laut – 12 x Mark 9 depth charges.

ROKS Cheonan adalah salah satu korvet Pohang class, jenis korvet bekas pakai yang juga ditawarkan secara ‘hibah’ ke Indonesia. ROKS Cheonan dibangun oleh Korea Tacoma Shipyard. Korvet ini diluncurkan dari galangan pada 24 Juli 1987 dan resmi masuk kedinasan AL Korea Selatan pada 31 Desember 1988.

Persenjataan pada korvet ini terdiri dari meriam OTO Melara 76 mm dan Otobreda 40 L/70 mm. Paket senjata di haluan tersebut juga diadopsi dalam konfigurasi yang sama di bagian buritan, jadilah ada kanon kembar untuk OTO Melara 76 mn dan Otobreda 40mm L/70 twin naval. Konfigurasi tersebut menjadikan postur kekuatan kapal perang ini merata pada bagian depan dan belakang.

Pada Pohang Class generasi perdana, korvet ini dilengkapi empat peluncur rudal anti kapal Harpoon, namun seiring uzurnya penggunaan kapal perang ini, menjadikan opsi Harpoon dihapus. Masih ada sekitar 12 unit Pohang Class yang dioperasikan AL Korsel, dimana generasi terbaru korvet ini sudah dilengkapi rudal anti kapal 2 x 2 SSM-700K Haeseong dan rudal hanud Mistral.

Pohang Class tergolong korvet laris, total ada 24 unit korvet ini yang berhasil dibuat, dimana 18 unit saat ini masih beroperasi, bukan hanya oleh Korea Selatan, Filipina dan Kolombia, Pohang Class juga digunakan oleh Vietnam, Mesir dan Peru. (Bayu Pamungkas)

Tak Jadi Batal, Pengadaan Korvet “Hibah” Pohang Class untuk TNI AL Telah Mendapat Lampu Hijau

One Comment