Seputar DSEI 2019Klik di Atas

Inilah Solusi Rheinmetall Air Defence Untuk Pertahanan Udara di Natuna

Dalam perspektif manufaktur persenjataan, bila alutsista yang mereka jual benar-benar menjadi andalan di negeri pembeli, maka hal tersebut ibarat prestasi luar biasa, artinya ada kepercayaan dari aspek kualitas. Dan jika berkaca di Indonesia, salah satu hotspot yang menjadi konsentrasi pertahanan TNI ada di Pulau Natuna, dimana gelar alutsista tercanggih dari ketiga matra TNI semaksimal mungkin dikerahkan dalam berbagai uji dan latihan tempur di kawasan yang langsung berhadapan dengan Laut Cina Selatan.

Baca juga: Merespon Memanasnya Laut Cina Selatan, TNI AU Gelar Kanon Oerlikon Skyshield di Natuna

Karena diproyeksi ancaman untuk Natuna berasal dari aspek udara, maka unsur hanud (pertahanan udara) terasa menjadi prioritas. Mulai dari hanud terminal, komponen jet buru sergap F-16 Fighting Falcon dan Sukhoi Su-27/Su-30 dipastikan mampu meng-cover area Natuna, terlebih Lanud Ranai kini sudah mampu didarati oleh dua jet tempur tersebut. Sementara dari hanud titik atau point defence, Detasemen Hanud Paskhas dan Arhanud Kostrad sudah punya pengalaman menggelar sistem senjatanya di beberapa obyek vital Natuna. Insiden kecelakaan dalam penembakkan kanon Giant Bow twin gun 23 mm milik Kostrad di Natuna pada bulan Mei 2017, menjadi catatan kelam yang tak pernah dilupakan dalam latihan tempur hanud.

Denhanud Paskhas lain cerita, proyeksi kekuatan hanud titik dikonsentrasikan untuk melindungi area Lanud Ranai. Dan tak tanggung-tanggung, untuk menjawab potensi ancaman yang mungkin terjadi, pasukan Korps Baret Jingga ini sudah paham betul cara penggelaran kanon reaksi cepat Oerlikon Syshield 35 mm, rudal MANPADS Chiron dan QW-3 untuk melindungi Lanud Ranai.

Baca juga: Laut Cina Selatan Memanas, TNI AU Gelar Garnisun Udara dari Natuna

Solusi Rheinmetall Air Defence
Jika ada yang bertanya, kanon hanud apa yang paling canggih di Indonesia? Jawabanya bisa diyakini akan mengarah ke Oerlikon Skyshield produksi Rheinmetall Air Defence AG, manufaktur senjata asal Swiss. Berdasarkan pengadaan tahun 2013, Kementerian Pertahanan membeli enam baterai Oerlikon Skyshield senilai 113 juta euro. Dalam gelarannya, satu baterai Skyshield Paskhas terdiri dari dua Firing Unit (FU). Satu FU Skyshield terdiri dari dua kanon Oerlikon Skyshield 35 mm, satu unit radar, dan satu shelter Fire Control Unit (Command Post).

Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Fire Control Unit Oerlikon Skyshield

Sistem Oerlikon Skyshield memang tak asing lagi di Bumi Natuna, tapi apakah komposisi perlindungan Skyshield sudah dirasa ideal? Di Pulau Natuna Besar yang luasnya mencapai 1.720 km² tak hanya Lanud Ranai yang menjadi obyek vital, masih fasilitas Lanal di Bunguran Timur dan dermaga militer di Selat Lampa di selatan pulau. Maka dengan gelar empat pucuk Skyshield dirasa tidak memadai untuk hanud titik yang optimal.

Dalam Seminar “Penggunaan Alat Pengideraan Jarak Jauh dan Peluru Kendali Dalam Menjaga Kedaulatan Ruang Udara Nasional” yang diselenggarakan National Air and Space Power Centre of Indonesia (NASPCI) di Jakarta (25/10/2017), Stefan Schädler selaku Vice President Sales Asia Rheinmetall Air Defence memberikan materi presentasi, yang salah satu bagian menariknya adalah solusi air defence deployment di Natuna.

Baca juga: Hino Ranger 500 FM285 JD – Mengenal Truk “Penggendong” Kanon Oerlikon Skyshield Paskhas TNI AU

Seperti terlihat dalam gambar di atas, Rheinmetall memproyeksikan sistem hanud tak hanya di Lanud Ranai, tapi juga ke Lanal dan selat wilayah selatan pulau. Meski fokus kekuatan pada point defence di ketiga obyek vital, Rheinmetall menawarkan solusi hanud terminal untuk Natuna, yakni dengan mengintegrasikan keberadaan rudal hanud jarak sedang. Artinya lawan diharapkan dapat dihancurkan sebelum berhasil melintasi pulau.

Dalam paket integrasi yang melibatkan rudal jarak sedang, Stefan Schädler yang menyandang pangkat kolonel di AU Swiss menawarkan IRIS-T SL (Infra Red Imaging System Surface Launched) besutan Diehl BGT Defence, Jerman. Rudal yang dirilis perdana tahun 2005 ini mempunyai jarak tembak efektif antara 1 – 40 km. Rudal ini dapat menguber sasaran hingga ketinggian 20 km dalam kecepatan Mach 3. Karena mengusung rudal jarak sedang, maka Rheinmetall membutuhkan kehadiran radar penjejak yang mampu mengendus sasaran di radius 50 – 80 km. Serupa tapi tak sama, peran IRIS-T SL bisa dibilang setanding dengan rudal NASAMS (National Advanced Surface to Air Missile System) dari Norwegia, yang telah resmi dipesan dua baterai untuk Denhanud Paskhas.

IRIS-T SL.

Masih merujuk ke gambar dari presentasi Rheinmetall, ada integrasi dari rudal MANPADS SHORAD (Short Range Air Defence), yang ini memang Rheinmetall telah mengintegrasikan dengan rudal Chiron buatan Korea Selatan. Untuk hanud titik utama, diserahkan pada Skyshield MK3, tak lain adalah versi update dari Skyshield MK2 yang kini digunakan Paskhas. Dan terakhir ada yang disebut sebagai “Skyranger,” merupakan modul Skyshield yang disematkan pada platform panser 8×8.

Baca juga: Denhanud Paskhas Sukses Uji Perdana Penembakkan Rudal Chiron

Penasaran seperti apa kemampuan Oerlikon Skyshield MK3 dan Skyranger? Kanon kaliber 35 mm ini memang tengah naik daun setelah KSAU Marsekal TNI Marsekal Hadi Tjahjanto baru-baru ini menyebutkan TNI AU berniat menambah Skyshield untuk melengkapi beberapa Lanud strategis. Di kapal peranng TNI AL, kehadiran Millenium (varian naval Skyshield) masih dinanti untuk melengkapi sistem CIWS (Close In Weapon System) di PKR Martadinata Class. Simak tentang Oerlikon Skyshield MK3 dan Skyranger pada artikel selanjutnya di Indomiliter.com. (Haryo Adjie)

21 Comments