Hari ini 75 Tahun Lalu, Pembom “Pangeran Diponegoro II” Terbang dari Lanud Bugis

(Istimewa)

Selain 9 April yang diperingati sebagai HUT TNI AU, rupanya masih di bulan April, ada kenangan tersendiri bagi sejarah TNI AU, persisnya pada hari ini 75 tahun lalu yang bertepatan dengan 17 April 1946, pesawat pembom berat Jepang Nakajima Ki-49 Donryu (Storm Dragon) yang dikenal sebagai pesawat “Pangeran Diponegoro II” berhasil melaksanakan uji coba terbang perdana di Pangkalan Udara Bugis, atau sekarang dikenal sebagai Lanud Abdulrachman Saleh di Malang, Jawa Timur.

Baca juga: Tupolev Tu-2 Bat – Pembom Propeller TNI AU Yang Terlupakan

Pembom Pangeran Diponegoro II diterbangi oleh Atmo, seorang pilot berkebangsaan Jepang yang bersimpati pada perjualan Republik Indonesia. Dikutip dari akun Twitter @_TNIAU, disebutkan pesawat Pangeran Diponegoro II berhasil take-off dan berputar-putar di atas kota Malang selama beberapa menit.

Namun, saat akan landing, pompa hidrolik roda pendarat pesawat, berkurang sehingga teknisi yang ikut dalam penerbangan memompanya dengan pompa tangan. Akhirnya, pesawat dapat mendarat dengan selamat.

Pangeran Diponegoro II Nakajima Ki-49 Donryu merupakan pembom buatan tahun 1941/1942, yang berhasil diperbaiki teknisi Indonesia dan diubah menjadi pesawat angkut. Ki-49 disokong mesin propeller ganda Nakajima Ha-109 yang mempu melesatkan pesawat hingga kecepatan jelajah 350 km per jam dan kecepatan maksimum 400 km per jam. Pesawat ini dapat menjelajah sejauh 2.000 km dan terbang sampai ketinggian 11.200 meter.

(Istimewa)

Ki-49 dapat membawa payload bom 1.000 kg. Sementara senjata organik yang melekat yaitu kanon 20 mm di bagian bawak kokpit dan lima pucuk senapan mesin 7,7 mm pada bagian ekor, samping dan bawah fuselage. Pesawat ini dalam sejarah Jepang tercatat sebagai pesawat pertama yang dilengkapi dengan senjata penembak di bagian ekor. Selama Perang Dunia II, armada Ki-49 banyak digelar di Filipina, Malaysia, Burma, dan Hindia Belanda. Pihak Sekutu menyebut pesawat Ki-49 ini dengan nama โ€œHelenโ€

Dari sejarahnya, saat ditinggalkan Jepang, Ki-49 yang berada di Pangkalan Udara Bugis dalam keadaan rusak tanpa mesin dan onderdil banyak yang hilang. Kemudian pada pertengahan Maret 1946, pesawat mulai diperbaiki dan pada 17 April 1946 saat dilakukan test flight pertama oleh penerbang Atmo, masih terdapat kekurangan pada sistem pompa hidroliknya, sehingga saat akan landing harus dibantu dengan pompa tangan agar dapat berfungsi secara maksimal.

Baca juga: Tu-16 (1) – Awal Kehadiran Pembom Termasyur TNI AU

Setelah proses perbaikan pesawat selesai, sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, Komandan Pangkalan Udara Bugis, Malang yang saat itu dijabat oleh komodor Udara Abdulrachman Saleh mengadakan syukuran dan pemberian nama baru bagi pesawat, yaitu Pangeran Diponegoro II (PD II) atau Benteng Asia. Beberapa sumber menyebut, pesawat ini masih terbang sampai tahun 1949. (Bayu Pamungkas)

19 Comments