Hari ini 63 Tahun Lalu, Batch Perdana Pembom Strategis Tupolev Tu-16 Badger Tiba di Indonesia

Hari ini 63 tahun lalu, bertepatan dengan 1 Juli 1961, menjadi momen yang sangat bersejarah dalam dunia alutsista udara di Indonesia, pasalnya unit perdana pembom strategis Tupolev Tu-16 Badger mulai diterima TNI AU (d/h AURI), yakni dengan pendaratan perdana Tu-16 di Pangkalan Udara Kemayoran, Jakarta. Ada dua unit Tu-16 yang dikirim dalam pengiriman batch (gelombang) perdana ini. Tu-16 pertama yang mendarat di Kemayoran diawaki oleh Komodor Udara (sekarang Marsda) TNI Purn Cok Suroso Hurip.

Baca juga: Tu-16 (1) – Awal Kehadiran Pembom Termasyur TNI AU

Dengan kehadiran total 24 unit Tu-16, plus jet tempur MiG-21 Fishbed, maka Indonesia resmi menjadi pemangku kekuatan udara terbesar di belahan Asia selatan dan Pasifik. Sejak saat itu, Indonesia jadi negara keempat di dunia yang mengoperasikan pembom strategis, selain Amerika Serikat, Inggris dan Soviet sendiri. Bahkan AURI pernah mengusulkan untuk mengecat bagian bawah Tu-16 dengan Anti Radiation Paint cat khusus anti radiasi bagi pesawat pembom berkemampuan nuklir, meski hal tersebut tidak diwujudkan.

Rute penerbangan Tu-16 dari Uni Soviet ke Indonesia melibatkan beberapa pemberhentian untuk pengisian bahan bakar menunjukkan kompleksitas logistik dalam pengiriman peralatan militer jarak jauh. Detail mengenai pemberhentian spesifik yang dilakukan oleh pesawat pembom Tu-16 selama penerbangan dari Uni Soviet ke Indonesia pada tahun 1961 tidak banyak terdokumentasi secara rinci dalam sumber-sumber publik yang tersedia.

Namun, di tengah berkecamuknya perang dingin antara Soviet dan AS, maka dukungan stop over untuk Tu-16 diduga melibatkan beberapa negara sekutu Soviet di Asia Tengah dan Asia Tenggara. Mulai tahun 1961, ke-24 unit Tu-16 mulai datang bergelombang dengan diterbangkan awak Indonesia maupun Rusia.

Jadi Fokus Perhatian Intelijen Asing
Dengan tibanya Tu-16 di Indonesia, maka menjadi kesempatan emas bagi intelijen AS melihat Tu-16 dari dekat, memberikan kesempatan kepada mereka memperkirakan kapasitas tangki dan daya jelajahnya. Pengintaian terus dilakukan AS sampai saat Tu-16 dipindahkan ke Lanud Iswahjudi. Pesawat intai U-2 pun diibatkan. Hal tersebut dianggap wajar, di samping sebagai negara pertama yang mengoperasikan Tu-16 di luar Rusia, kala itu Indonesia juga mengoperasikan beberapa jenis jet tempur canggih dari Soviet.

Komposisi Tu-16 TNI AU terdiri dari 12 unit Tu-16 versi bomber (Badger A) yang masuk dalam Skadron Udara 41, kemudian ada 12 unit Tu-16 KS-1 (Badger B) yang masuk dalam Skadron Udara 42 Wing 003 Lanud Iswahjudi. Versi ini mampu membawa sepasang rudal anti kapal permukaan KS-1 (AS-1 Kennel). Rudal inilah yang ditakuti Belanda. Karena hantaman enam Kennel, mampu menenggelamkan Karel Doorman ke dasar samudera.

Sungguh ironis nasib akhir Tu-16, pengadaan dan penghapusannya lebih banyak ditentukan oleh satu perkara: politik! Bayangkan, “AURI harus menghapus seluruh armada Tu-16 sebagai syarat mendapatkan F-86 Sabre dan T-33 T-bird dari Amerika,” ujar Bagio Utomo, mantan anggota Skatek 042 yang mengurusi perbaikan Tu-16. Bagio menuturkan kesedihannya ketika terlibat dalam tim “penjagalan” Tu-16 pada tahun 1970.

Glazed navigator station menjadi ciri khas hidung Tu-16.

Tidak dapat dipungkiri, Tu-16 pembom paling maju pada zamannya, bahkan desain Tu-16 masih terus eksis sampai saat ini, yakni diadopsi oleh keluarga pembom strategis Cina, Xian H-6. Selain dilengkapi peralatan elektronik canggih, badannya terbilang kukuh. “Badannya tidak mempan dibelah dengan kampak paling besar sekalipun. Harus pakai las yang besar. Bahkan, untuk membongkar sambungan antara sayap dan mesinnya, laspun tak sanggup. Karena campuran magnesiumnya lebih banyak ketimbang alumunium,” ujar Bagio.

Namun Tu-16 bukan tanpa cacat. Konyol sekali, beberapa bagian pesawat bisa tidak cocok dengan spare pengganti. Bahkan dengan spare yang diambil secara kanibal sekalipun. “Kita terpaksa memakai sistem kerajinan tangan, agar sama dan pas dengan kedudukannya. Seperti blister (kubah kaca-Red), mesti diamplas dulu,” kenang Bagio lagi. Pengadaan suku cadang juga sedikit rumit, karena penempatannya yang tersebar di Ujung Pandang dan Kemayoran.

Seandainya Ada Tu-16N, Maka Jangkauan Pembom Strategis Tu-16 AURI Bisa Mencapai Sydney

Sebenarnya, persediaan suku cadang Tu-16 yang dipasok dari Rusia, memadai. Tapi urusan politik membelitnya sangat kuat. Tak heran kemudian, usai pengabdiannya selama Trikora – Dwikora dan di sela-sela nasibnya yang tak menentu pasca G30S/PKI, AURI pernah bermaksud menjual armada Tu-16-nya ke Mesir. Namun hal ini tidak pernah terlaksana.

Begitulah nasib Tu-16 yang tragis. Farewell flight, penerbangan perpisahannya, dirayakan oleh para awak Tu-16 pada bulan Oktober 1970 menjelang HUT ABRI. Dijejali 10 orang, Tu-16 bernomor M-1625 diterbangkan dari Madiun ke Jakarta. (Haryo Adjie)

Rudal Bloodhound: Penangkal ‘Ancaman’ Pembom Tu-16 Badger AURI, Aktif Hingga 1990

6 Comments