Hari Ini, 17 Tahun Lalu, F-16 TNI AU Nyaris “Dogfight” dengan F/A-18 Hornet di Atas Bawean

Di tengah kirik pikuk berita di seputaran Laut Cina Selatan, mungkin netizen lupa, bahwa tepat pada tanggal ini, 3 Juli, pada 17 tahun lalu telah terjadi peristiwa bersejarah di jagad dirgantara pertahanan udara nasional. Persisnya pada 3 Juli 2003, nyaris terjadi duel udara antara dua tipe jet tempur, yaitu F-16 dari Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi, Madiun, dengan kelompok terbang F/A-18 Hornet dari kapal induk nuklir di USS Carl Vinson (CVN-70).

Baca juga: USNS Kilauea, Kapal Angkut Amunisi yang Pernah Lakukan Jamming di Laut Timor

Peristiwa yang terjadi di atas Laut Jawa, sebelah barat laut Pulau Bawean, kemudian dikenal sebagai insiden Bawean. Kala itu dua pesawat F-16 TNI AU berhadapan dengan sembilan pesawat tempur F/A-18 Hornet milik AL AS. Peristiwa dimulai ketika armada tempur kapal induk USS Carl Vinson (CVN-70) bersama 2 Fregat dan 1 Destroyer milik Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) berlayar dari Singapura menuju Australia melalui Selat Karimata (ALKI I) lalu masuk ke Laut Jawa. Pada saat melewati perairan Bawean itulah, pesawat F/A-18 yang merupakan bagian dari kekuatan kapal induk CVN-70 melakukan latihan penerbangan rutin mereka dan melakukan manuver berbahaya bagi lalu-lintas penerbangan sipil di ruang udara Indonesia.

Deteksi mengenai adanya penerbangan gelap pada Insiden Bawean ini mulai dilaporkan pukul 11.41 WIB. Pusat Operasi Sektor (Posek) Hanudnas II Makassar menerima informasi dari MCC (Military Civil Coordination – Pusat Koordinasi Radar Sipil – Militer) Ngurah Rai, Bali mengenai adanya deteksi penerbangan gelap di atas Pulau Bawean. Sebanyak lima unit pesawat terdeteksi pada ketinggian bervariasi antara FL 150-350 (15.000 kaki hingga 35.000 kaki). Kecepatannya berkisar 450 knot dan Squawk Number (IFF mode 3/A) 1200.

Tidak ada komunikasi yang terdengar antara 5 pesawat tidak dikenal tersebut dengan ATC (Air Traffic Control) Bali atau Surabaya. Informasi LaSa (Laporan Sasaran) X tersebut kemudian diteruskan untuk dimonitor di Pusat Operasi Pertahanan Udara Nasional (Popunas), Jakarta. Posek Hanudnas II selanjutnya memerintahkan MCC Rai dan MCC Juanda untuk terus memonitor track Lasa tersebut serta meminta konfirmasi apakah sudah ada Security Clearance (SC) pesawat pesawat yang terlibat pada Insiden Bawean tersebut kepada Popunas.

Dua jam kemudian, 14.50 WIB, tiba-tiba sejumlah pesawat tak dikenal kembali mengudara di sekitar Pulau Bawean. Pangkosek Hanudnas II saat itu Marsma TNI Panji Utama segera melaporkan kejadian tersebut kepada Pangkohanudnas Marsda TNI Wresniwiro. Pangkohanudnas lalu memerintahkan Pangkosekhanudnas II untuk melaksanakan identifikasi visual menggunakan pesawat Tempur Sergap (TS) F-16 yang siaga di Lanud Iswahjudi, Madiun. Inilah awal mula peristiwa yang dikenal sebagai Insiden Bawean.

F-16 Skadron 3 TNI AU dengan rudal AIM-9 P4 Sidewinder

Pukul 15.40 WIB Pangkosekhanudnas II memerintahkan Komandan Posko Tempur Sergap F-16 (Danskadron Udara 3) Letkol Pnb Tatang Harlyansyah agar menyiapkan pesawat F-16 untuk identifikasi visual pada beberapa LaSa X di radial 340 derajat – 015 derajat, FL 250-155 dan jarak 113-135 Nm dari SBY (posisi sekitar Pulau Bawean, karena itu peristiwa ini dikenal sebagai Insiden Bawean). Pukul 15.53 Pangkohanudnas melaporkan rencana pelaksanaan operasi kepada Kasum TNI dan KSAU Marsekal TNI Chappy Hakim.

Pukul 16.40 WIB para penerbang menyalakan mesin kedua pesawat F-16 berkursi ganda. Falcon 1 (TS-1603) diawaki Kapten Pnb Ian Fuadi/Kapten Pnb Fajar Adriyanto serta Falcon 2 (TS-1602) diawaki Kapten Pnb Tonny Haryono/Kapt Pnb Satriyo Utomo. Pukul 17.04 Dua pesawat F-16 (Falcon Flight) masing-masing bersenjata dua rudal AIM-9P4 dan 450 butir peluru 20 mm lepas landas.

Pukul 17.16 WIB Falcon Flight tertangkap oleh radar Surabaya dan dimonitor oleh MCC Rai. Dua menit kemudian Falcon Flight kontak dengan frekuensi SBY Director selaku GCI dan mendapat informasi tentang posisi serta jumlah pesawat tak dikenal. Falcon Flight menuju sasaran. Empat menit kemudian SBY Director menginformasikan Falcon Flight bahwa ada dua pesawat lain muncul dengan cepat mengarah menuju mereka.

Pukul 17.22 WIB Falcon Flight berhasil menangkap sasaran (radar contact). Kemudian yang terjadi adalah peralatan ECCM (electronic counter-countermeasures) radar kedua pihak mulai saling jamming. Masing masing peralatan perang elektronika dari kedua belah pihak tersebut memancarkan gelombang radio yang saling berusaha menaklukan satu sama lain. Kedua F-16 pun mengaktifkan anti-jamming dan men-set ke mode auto, sehingga jamming yang dilakukan F/A-18 tidak berhasil. Melalui simbologi dan nada RWR (radar warning receiver) F-16 saat itu diketahui Falcon 1 dikunci (locked on) oleh radar dan rudal F/A-18.

Pukul 17.25 WIB Falcon 1 melihat sebuah F/A-18 dan terlibat manuver saling membelok. Falcon 1 berada di ekor F/A-18 Hornet tersebut. Falcon 2 segera mengambil posisi sebagai supporting fighter dan dikejar oleh F/A-18 yang lain. Falcon 2 mengambil inisiatif menggoyang sayap (rocking wing) memberi tanda bahwa kedua F-16 kita tidak bermaksud mengancam.

Dari hasil rekaman ulang perang elektronika kokpit Falcon 2 F-16 berekor nomor TS-1602 yang diawaki Kapten Pnb Tonny H dan Kapten Pnb Satriyo Utomo, jelas terlihat pesawat Falcon 1 yang sempat juga melakukan gerakan hard break belok dengan kemiringan hampir 90 derajat, secara ketat terus ditempel oleh Hornet 1.

AIM-120 AMRAAM di F-18 Hornet

Sementara, Hornet kedua menguntit rekannya. Posisi Falcon 2 juga menguntungkan terhadap Hornet 2 sehingga bila suasana bermusuhan menjadi kenyataan, pasangan Kapten Tonny-Kapten Satriyo dapat membantu Falcon 1. Saat menghindar dari rudal Sidewinder yang bakal ditembakkan setiap detik kepada mereka dengan membelokkan tajam F-16 mereka, mata Kapten Fajar masih sempat melihat kapal perusak US Navy dan langsung melaporkan penglihatannya itu.

Kedua F-16 TNI AU memang sempat close fight dengan mereka, tetapi memang tidak melaksanakan ofensif. Falcon Flight mempunyai tugas dari panglima untuk melaksanakan intersepsi dan identifikasi visual guna mencari data pesawat apa jenisnya, kemudian dari negara mana, apa tujuan mereka melaksanakan latihan.

Kemudian Falcon Flight Leader menjelaskan, F-16 TNI AU sedang melaksanakan patroli, bertugas melaksanakan identifikasi visual dan memberitahukan bahwa F/A-18 berada di wilayah udara Indonesia. Selanjutnya pesawat AL AS itu diperintahkan untuk kontak ke ATC setempat karena Bali Control sebagai penanggung jawab lalu lintas penerbangan di area tersebut tidak mengetahui status mereka.

Baca juga: Setelah Overrun, Mungkinkah F-16 TS-1603 Kembali Mengudara?

Pukul 17.22 WIB Hornet pergi menjauh sedangkan Falcon Flight return to base ke Lanud Iswahjudi. Pukul 18.15 WIB Falcon Flight mendarat dengan selamat di Lanud Iswahjudi. Sementara Posek Hanudnas II tetap melanjutkan pengamatan diawasi penuh oleh Popunas. MCC Rai kemudian melaporkan kepada Popunas, setelah identifikasi visual dilakukan F-16 TNI AU, pesawat-pesawat F/A-18 tersebut selanjutnya mengadakan kontak ke ATC Bandara Ngurah Rai sesuai yang diperintahkan oleh pilot F-16 TNI AU. (Gilang Perdana – Dikutip dari Buku “Insiden di Atas Bawean” karya Marsda TNI Wresniwiro)

60 Comments