Hadapi Rudal Balistik Anti Kapal, Inggris Tingkatkan Kemampuan Rudal Hanud Sea Viper Evolution di Destroyer Type 45

Di tengan operasinya di Laut Merah dan Teluk Aden, ada kabar bahwa kapal perusak (destroyer) Type 45 akan mendapatkan peningkatan kemampuan dalam aspek rudal pertahanan udara (hanud). Persisnya MBDA UK telah menerima kontrak senilai total sekitar £400 juta (US$508 juta) untuk memperkuat dan mempertahankan sistem rudal hanud Sea Viper pada destroyer Type 45 milik Angkatan Laut Inggris.

Baca juga: Pertama dalam Sejarah, Rudal Balistik Serang Kapal Kargo yang Berlayar di Laut Merah

Dalam kontrak yang disebut Sea Viper Evolution, bertujuan untuk meningkatkan kemampuan sistem tersebut, memastikan sistem Sea Viper tetap berada di garis depan pertahanan udara angkatan laut.

Fokus utama Sea Viper Evolution adalah memperkuat kemampuan kapal perusak Type 45 untuk mempertahankan Carrier Strike Group dari ancaman yang muncul, khususnya rudal balistik anti-kapal atau anti-ship ballistic missiles (ASBM), seperti yang saat ini diluncurkan Houthi di Laut Merah.

Sea Viper Evolution melibatkan peningkatan rudal hanud Aster 30 (jarak tembak 3 – 120 km) yang ada dengan hulu ledak Block 1 yang ditingkatkan serta perangkat lunak pemandu dan pencari baru yang dirancang untuk melawan tantangan rudal balistik anti-kapal generasi baru. Pada saat yang sama, peningkatan pada radar multi-fungsi Sampson dan combat management system pada destroyer Type 45 juga sedang dalam proses.

Kolaborasi Sea Viper Evolution diklaim melampaui batas negara, dengan Inggris, Perancis, dan Italia bersatu melalui MBDA untuk bergabung dalam program Aster 30 Block 1. Penyelarasan strategis ini meningkatkan kemampuan Inggris untuk melawan rudal balistik anti-kapal.

Kanon Oto Melara 76 mm dan peluncur rudal hanud VLS (Vertical Launch System) dengan peluncur Sylver A50 untuk 15 rudal Aster 15/30

Fase kedua dari Sea Viper Evolution melibatkan penilaian terhadap potensi integrasi rudal Aster 30 Block 1NT yang baru ke dalam kapal perusak Type 45. Fase ini juga menjajaki peningkatan tambahan pada radar dan sistem senjata secara keseluruhan, yang bertujuan untuk membangun kemampuan terdepan di dunia dalam melawan manuver jarak menengah dan memisahkan rudal balistik.

Pada saat yang sama, kontrak dukungan in-service (extended in-service support/ISS) yang diperpanjang untuk Sea Viper telah diperoleh, memastikan pemeliharaan berkelanjutan dan kesiapan operasional untuk lima tahun ke depan. Kontrak ini dibangun berdasarkan pendekatan inovatif berbasis data MBDA untuk mengoptimalkan ketersediaan persediaan, memastikan bahwa Angkatan Laut Inggris mempunyai perlengkapan yang baik dan siap menghadapi potensi ancaman apa pun.

Angkatan Laut Inggris saat ini mengoperasikan enam unit kapal perusak Type 45, di mana salah satunya HMS Diamond, saat ini berada di Laut Merah dalam misi pengawalan kapal dagang dan menghadapi serangan rudal anti kapal dan drone kamikaze dari Houthi di Yaman.

First Kill, Rudal Aster 15 dari Frigat FREMM AL Perancis Tembak Jatuh Drone Kamikaze di Laut Merah

Pada malam 15 Desember 2023, HMS Diamond dilaporkan menembak jatuh drone yang diduga menyerang kapal komersial dengan satu rudal Sea Viper (Aster) – dengan kecepatan luncur Mach 4.5. Menurut Navy Lookout, rudal Sea Viper yang digunakan berharga per unit sekitar 1-2 juta poundsterling dan drone yang ditembak jatuh mungkin hanya berharga 20.000 dolar AS.

Masih di kawasan Laut Merah, kapal Angkatan Laut AS, USS Carney, telah menembak jatuh 14 drone, kemungkinan besar menggunakan senjata utamanya (kanon CIWS dan merian) yang merupakan metode yang jauh lebih murah. (Bayu Pamungkas)