Gunakan Teknologi Meriam Laut, Leonardo Hystrix Hadir Sebagai Kuda Hitam Sistem Hanud Darat Mobile

Dalam dinamika industri pertahanan yang terus berkembang, inovasi sering kali lahir dari adaptasi teknologi yang sudah teruji. Langkah berani ini baru saja diambil oleh Leonardo, raksasa pertahanan asal Italia, dengan memperkenalkan Hystrix. Sistem pertahanan udara jarak dekat (Short Range Air Defense/SHORAD) berbasis truk ini hadir untuk menantang BAE Systems, yang lebih dulu meluncurkan Tridon MK2.

Baca juga: BAE Systems Luncurkan Tridon MK2 – Meriam Bofors 40 MK4 Naval Gun yang Dipasang pada Platform Truk

Sistem pertahanan udara jarak dekat (Short Range Air Defense/SHORAD) berbasis truk ini hadir untuk menantang dominasi Spemain besar di pasar global dengan membawa kekuatan yang jauh lebih masif dan destruktif, terutama dalam menghadapi ancaman drone yang kian merebak di medan perang modern.

Berbeda dengan sistem pertahanan udara (hanud) darat pada umumnya yang menggunakan kaliber kecil, Leonardo Hystrix menawarkan fleksibilitas melalui dua pilihan menara (turret) yang mengadopsi teknologi meriam angkatan laut. Pilihan pertama adalah meriam Marlin 40 mm yang dikenal lincah, namun primadona utamanya adalah integrasi meriam OTO Melara 76/62 Super Rapid ke atas platform darat.

Langkah membawa meriam 76 mm ke atas truk merupakan sebuah lompatan besar, karena mampu menciptakan zona perlindungan yang jauh lebih luas serta sangat efektif sebagai sistem Counter-Unmanned Aerial Systems (C-UAS) dalam menangkis amunisi presisi.

Keunggulan telak dari sistem ini terletak pada penggunaan amunisi DART (Driven Ammunition Reduced Time of flight) dan sistem pemandu Strales yang bekerja secara terintegrasi. Strales berfungsi sebagai sistem pemandu berbasis radar yang memancarkan berkas gelombang ke arah sasaran, sementara DART adalah proyektil pintar yang dilengkapi dengan sirip pengendali (canards) yang memungkinkannya bermanuver lincah di udara mengikuti panduan radar tersebut.

Kombinasi DART dan Strales memungkinkan proyektil untuk terus mengoreksi jalurnya selama terbang guna mengejar target yang bergerak cepat, seperti drone kecil atau rudal jelajah supersonik, sehingga menghasilkan probabilitas perkenaan yang sangat tinggi dan jauh lebih efisien dibandingkan penggunaan amunisi konvensional.

Untuk menopang sistem persenjataan seberat dan sekuat ini, Leonardo menetapkan standar spesifikasi kendaraan yang cukup ketat. Mengingat bobot menara dan recoil (hentakan) besar dari meriam 76 mm, Hystrix membutuhkan truk militer berat dengan konfigurasi minimal 8×8.

Truk tersebut harus memiliki kapasitas angkut beban (payload) yang besar serta sasis yang diperkuat untuk menjaga stabilitas saat penembakan intensif. Selain itu, kendaraan ini harus dilengkapi dengan sistem dongkrak hidrolik (stabilizers) guna memastikan akurasi tembakan tetap terjaga di berbagai kondisi medan.

Secara operasional, Hystrix dirancang untuk mobilitas tinggi guna melindungi aset strategis maupun konvoi militer yang sedang bergerak. Menara meriamnya bersifat modular dan dapat dikendalikan sepenuhnya dari jarak jauh, memastikan keselamatan operator tetap terjaga di dalam kabin truk yang terlindungi.

Dengan integrasi sensor optronik generasi terbaru, Hystrix tidak hanya sekadar ikut meramaikan pasar SHORAD, tetapi juga mendefinisikan ulang standar kekuatan pertahanan udara berbasis darat yang mampu menghadapi proliferasi teknologi drone secara tuntas. (Gilang Perdana)

Tandingi Tridon MK2, KNDS Tawarkan Sistem Hanud RapidFire 8×8 dengan Prinsip Gelar Kontainer