Gantikan Peran Kopilot dengan AI, C-130J Super Hercules Bakal Terbang dengan Dua Awak Saja

C-130J-30 (long body)

Dari serangkaian keunggulan yang ditawarkan oleh pesawat angkut C-130J Super Hercules adalah jumlah awak yang sedikit. Persisnya, Super Hercules hanya diawaki oleh tiga personel – pilot, kopilot dan loadmaster. Sebagai perbandingan, seri C-130H (analog) masih membutuhkan lima personel – pilot, kopilot, navigator, flight engineer dan loadmaster. Nah, ada kabar terbaru, bahwa jumlah pengawak C-130J nantinya akan lebih sedikit lagi.

Baca juga: Mengenal C-130J Super Hercules TNI AU, Inilah Kelebihannya Dibandingkan Seri C-130H

Pengurangan jumlah awak Super Hercules dimungkinkan berkat adopsi teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk menggerakan sistem otonom (autonomy drive). Seperti dikutip Interesting Engineering (13/6/2024), disebut Merlin adalah perusahaan yang akan mengembangkan sistem pengurangan awak pada C-130J Super Hercules.

Merlin yang berbasi di Boston telah menerima kontrak untuk membangun kemampuan otonom untuk pesawat angkut C-130J Super Hercules yang digunakan Komando Operasi Khusus AS atau US Special Operations Command (USSOCOM). Merlin menerima kontrak senilai US$105 juta pada 11 Juni 2024.

Kokpit C-130J

Teknologi yang disebut ‘Merlin Pilot’ akan digunakan untuk mengotomatisasi beberapa aspek dalam menerbangkan pesawat angkut tuboprop yang telah digunakan oleh 20 negara tersebut.

“Targetnya adalah kopolit, atau menggantikan peran kopilot. Gagasan dari Merlin Pilot adalah memiliki pilot yang bisa menerbangkan C-130 sendiri,” kata juru bicara Merlin. “Sistem produksi kami akan berupaya memberikan otonomi dan otomatisasi yang memadai untuk mengurangi beban kerja di bawah ambang batas yang ditentukan untuk operasi percontohan tunggal.”

(Lockheed Martin)

Menurut Merlin, teknologi kecerdasan buatan akan berupaya memberikan otonomi dan otomatisasi yang memadai untuk mengurangi beban kerja di bawah ambang batas yang ditentukan untuk operasi percontohan tunggal.

Komunikasi otomatis akan menjadi integrasi otonomi pertama yang akan diintegrasikan Merlin untuk pengurangan beban kerja. Untuk demonya, sistem canggih ini akan melakukan terjemahan audio ke teks dan setelah pilot menyetujui perubahan penerbangan yang diusulkan, Merlin Pilot sebagai kopilot AI akan memerintahkan pesawat untuk mematuhi perintah tersebut.

Seperti Indonesia, Selandia Baru Juga Pesan Lima Unit C-130J-30, Tapi Lebih Unggul dengan Dua Fitur Ini

CEO Merlin, Matt George, menyatakan bahwa kontrak tersebut mempercepat kemampuan perusahaan untuk memberikan otonomi tingkat tinggi ke berbagai platform sayap tetap untuk mendukung pesawat tempur. “Selain itu, besarnya kontrak merupakan bukti penting bahwa USSOCOM terus menghadirkan kemampuan inovatif dari pengujian dan ke dalam program jalur produksi.”

Berdasarkan kontrak, Merlin akan merancang dan mengintegrasikan sistem ke platform C-130J. Pesawat ini juga akan melakukan uji darat, demonstrasi lepas landas hingga pendaratan, dan uji penerbangan. Kontrak ini akan memperluas teknologi Merlin ke armada pesawat USSOCOM yang lebih luas selama lima tahun ke depan.

Merlin menyebut saat ini sedang membangun pilot AI yang memanfaatkan keterampilan pilot manusia dan menerjemahkannya ke dalam perangkat lunak. Merlin Pilot-nya adalah solusi perangkat keras dan perangkat lunak terintegrasi yang dapat beradaptasi dengan platform, dirancang dan dibangun untuk memajukan masa depan penerbangan otonom (autonomous flight). Dengan pengurangan jumlah personel, kelak C-130J Super Hercules dalam penerbangan hanya diawaki pilot dan loadmaster. (Gilang Perdana)

Gunakan Tangki Bahan Eksternal, C-130J Super Hercules Pecahkan Rekor Terbang Selama 26 Jam 33 Menit