Gantikan F-18 Hornet, Eurofighter Tawarkan Typhoon ‘Halcon’ ke Spanyol

Bersama Inggris, Jerman dan Italia, Spanyol dikenal sebagai negara anggota konsorsium pengembang jet tempur Typhoon. Namun di antara ratusan unit armada jet tempur Negeri Matador, rupanya ada sejumlah jet tempur tua EF/A-18 Hornet yang akan dipensiunkan. Dan melihat peluang tersebut, Eurofighter pun tak mau kehilangan kesempatan.

Baca juga: Menhan Austria Beri Respon Positif Atas Surat Prabowo, Inilah Dua Opsi Penjualan Eurofighter Typhoon ke Indonesia

Dikutip dari defense-aerospace.com (19/10/2020), disebut Eurofighter GmbH yang bermarkas di Jerman telah menawarkan apa yang disebut sebagai proyek Halcon (Falcon), dimana berintikan penawaran 20 unit jet tempur Typhoon untuk menggantikan EF/A-18 Hornet yang saat ini berpangkalan di Pulau Canary.

Pengiriman proposal penawaran oleh Eurofighter telah dirilis pada 19 Oktober lalu, atau tiga bulan setelah Spanyol mengumumkan bahwa mereka berencana untuk menambah Typhoon yang ada dan memulai proses penggantian armada Boeing EF-18 Hornet. Merujuk informasi dari wikipedia.org. AU Spanyol saat ini mengoperasikan 64 unit F/A-18 Hornet.

Sementara sebagai anggota konsorsium dalam Eurofighter, AU Spanyol sampai saat ini sudah mengoperasikan 73 unit Typhoon, terdiri dari 19 unit Typhoon Trench 1, 67 unit Typhoon Trench 2 dan 20 unit Trench 3A. Eurofighter menawarkan Typhoon terbaru yang masuk ke dalam Trench 4 yang salah satunya fiturnya adalah radar CAPTOR-E.

Typhoon versi awal dilengkapi mechanically scanned radar CAPTOR-M. Radar ini masih menganut sistem konvensional yaitu scanning dilakukan dengan mengarahkan fisik antena. Radar ini kemudian digantikan dengan Active Electronically Scanned Array (AESA) CAPTOR-E.

Baca juga: Jadi Spesialis Peperangan Elektronika, Eurofighter Typhoon ECR Berdesain β€œTandem Seat”

AU Spanyol menerima jet tempur Typhoon perdana pada 17 Februari 2003. Bila Spanyol setuju untuk mengakuisisi 20 unit Typhoon terbaru, maka pesanan tersebut akan dipenuhi pada periode 2025 hingga 2030. (Bayu Pamungkas)

54 Comments