Seputar DSEI 2019Klik di Atas

F-16 Viper Taiwan, Sukhoi Su-35 Cina dan Polemik Bisnis Antara Washington dan Beijing

Meski faktanya ada perbedaan kelas, boleh jadi antara jet tempur F-16 dan Sukhoi Su-35 telah ditakdirkan untuk saling ‘berhadapan.’ Setelah peristiwa pencegatan F-16 Turki oleh Su-35 Rusia di wilayah Suriah, dimasa mendatang ada lagi potensi perjumpaan antara kedua jet tempur tersebut. Bukan di jazirah Timur Tengah, potensi duel F-16 dan Su-35 justru ada di Selat Taiwan, yaitu wilayah yang memisahkan antara Pulau Formosa (Taiwan) dengan pesisir timur Cina Daratan.

Baca juga: Masuki Ruang Udara Suriah, F-16 Turki Dicegat Dua Sukhoi Su-35 Rusia

Yang jadi masalah bagi Cina, kemungkinan yang dihadapi Su-35 bukan F-16 ‘biasa,’ melainkan F-16 Viper, varian tercanggih dari keluarga Elang Penempur yang kini tengah getol dipasarkan Lockheed Martin, termasuk diantara ke Indonesia.

Setelah pada akhir akhir 2018 disepakati kontrak upgrade 144 unit F-16 A/B Fighting Falcon untuk disulap menjadi Viper, belum lama ini Washington telah menyetujui permintaan Taiwan untuk mengakuisisi 66 unit F-16 Viper dengan nilai kontrak mencapai US$8 miliar.

Kontrak US$8 miliar untuk 66 unit F-16 Viper sontak memanaskan lagi tensi hubungan politik antara Amerika Serikat dan Cina. Selain pernyataan dari Defense Security Cooperation Agency (DSCA) terkait penjualan, pihak House Foreign Affairs Committee (Komite Urusan Luar Negeri) juga sudah memastikan akuisisi Viper untuk Taiwan.

Dalam dokumen yang disampaikan DSCA, persetujuan atas kontrak Viper Taiwan mencakup 66 unit F-16 Viper, 75 mesin GE Aviation F110, data links, 75 radar Northrop Grumman APG-83 Active Electronically Scanned Array (AESA), 75 electronic warfare suite, peralatan, pelatihan, serta layanan lain yang terkait dengan pembelian dalam skala besar.

Laman China Daily melaporkan, juru bicara Kantor Urusan Dewan Taiwan, Ma Xiaoguang menyuarakan oposisi keras terhadap kesepakatan yang diusulkan tersebut. “Kami menentang dengan tegas, dan AS harus segera menghentikan semua perjanjian senjata yang direncanakan ke Taiwan, dan berhenti mengirim sinyal yang keliru secara serius kepada para separatis Taiwan,” katanya.

Ma Xiaoguang menambahkan bahwa penjualan senjata dari AS adalah “biaya perlindungan” dan menjadikan Taiwan sebagai “pion” bagi Washington.

Sukhoi Su-35 AU Cina.

Penjualan F-16 Viper terjadi di tengah pertikaian perdagangan yang semakin sengit antara Cina dan AS. Beijing mengatakan akan menghukum perusahaan yang terlibat dalam penjualan senjata ke Taiwan. Namun ancaman semacam itu agaknya tidak relevan dengan perusahaan seperti Lockheed Martin dan Northrop yang memang diuntungkan oleh munculnya kompetitor setara bagi AS.

Di sisi lain, GE (General Electric) Aviation memiliki paparan yang signifikan terhadap Cina Daratan. Armada Analyzer Cirium menunjukkan bahwa ada 440 pesawat yang beroperasi di Cina yang menggunakan mesin produksian GE. Ada juga 2.278 unit Airbus dan Boeing narrow-body yang ditenagai oleh mesin yang diproduksi oleh CFM – perusahaan joint venture GE dan Safran.

Aviage Systems, yang juga memasok sistem avionik dan sejumlah sistem lainnya untuk Comac C919, adalah perusahaan joint venture antara AVIC dan GE. Comac merupakan perusahaan aviasi milik pemerintah Cina.

Perusahaan-perusahaan AS seperti Honeywell dan Collins Aerospace juga memiliki keterlibatan substansial di Cina Daratan, termasuk bekerja pada program pesawat Comac. United Technolgies, perusahaan induk Collins dan Pratt & Whitney, yang juga memiliki minat besar di Cina, berada di ambang merger dengan Raytheon, yang juga turut memasok persenjataan ke Taiwan.

Selain itu, ada 102 jet bisnis Gulfstream yang beroperasi di Cina – walaupun pada kenyataannya, Gulfstream tidak terlibat dalam sengkarut penjualan F-16 ini.

Baca juga: Hindari Halusinasi, Inilah Cara Membedakan Antara Sukhoi Su-27 dan Su-35

Boeing, yang kebetulan memproduksi helikopter serang Apache AH-64E yang digunakan oleh tentara Taiwan, juga mengawasi problematika dengan cermat. Civil Aviation Administration of China (CAAC) adalah regulator pertama yang melakukan grounded terhadap varian 737 Max pasca dua kecelakaan maut yang menimpa Lion Air dan Ethiopian Airlines.

Hubungan yang semakin memanas antara Amerika Serikat dan Cina di sektor alutsista ternyata merembet sampai ke sektor aviasi. Maskapai asal Cina memiliki total 97 unit varian Boeing 737 MAX yang masih berada di Amerika sana untuk diperbaiki – belum lagi pesanan total 214 unit lainnya kepada Boeing. (Nurhalim)

28 Comments