Dislitbangad dan PT Pindad Tampilkan Mortir Mekatronik 81mm

Masih ingat dengan mortir mekatronik (mekanik elektronik) yang dikembangkan Dinas Penelitian dan Pengembangan Angkatan Darat (Dislitbangad) pada tahun 2016/2017? Memang masih dalam status prototipe, namun senjata bantu infanteri mekanis tersebut kini telah melangkah lebih maju, yaitu dengan bergabungnya PT Pindad dalam pembuatan prototipe yang lebih matang, seperti dengan material yang lebih pas, serta menyesuaikan kebutuhan sebenarnya agar kelak memperoleh sertifikasi dari Dislitbangad.

Baca juga: Litbang TNI AD Perkenalkan Prototipe Kedua Mortir Mekatronik 81mm

Di Indo Defence 2018, ada dua mortir mekatronik dari dalam negeri yang ditampilkan, pertama mortir mekatronik yang diperlihatkan dalam booth Dislitbangad, dan kedua, mortir mekatronik yang dipamerkan oleh PT Pindad. Keduanya nampak serupa, hanya ada sedikit perbedaan pada casing dan warna cat, namun kedua mortir mekatronik mengusung kaliber 81 mm.

Meski pada dasarnya sama, oleh PT Pindad, mortir mekatronik di cat hitam dengan dipasang pada platform tarik (towed). Sebagai catatan, penempatan mortir mekatronik tarik hanya sebatas untuk kepentingan demo, prinsipnya mortir mekatronik tetap akan dipasang pada kendaraan tempur (ranpur) infanteri mekanis, seperti panser Anoa atau jip Komodo 4×4.

Lebih detail mortir mekatronik yang diusung oleh PT Pindad, disebutkan menggunakan gerak dasar hidrolik. Sumber tenaga berasal dari baterai (2 aki) 24 volt 100 Ah, dan masih ditunjang power pack DC 24 volt. Sistem elektroniknya menggunakan microcontroller dan kakulator balistik multi platform.

Bobot sistem mortir mekatronik ditaksir sekitar 825 kg. Pola gerakan plat mortir dapat diputar 360 derajat, dengan kecepatan putar maksimal 5 RPM. Berbeda dengan mortir mekatronik Alakran dan Ares Cordom yang juga unjuk gigi di Indo Defence 2018, maka mortir mekatronik yang dikembangkan Dislitbangad dan Pindad menggunakan pola loading otomatis, artinya proses penembakan dilakukan oleh motor hidrolik, caranya dengan membawa munisi ke ujung laras, dan bila sasaran sudah ditetapkan, proyektil tinggal dirilis. Kecepatan loading munisi ke posisi siap tembak adalah 5 detik.

Selain plat dapat diputar 360 derajat, sudut elevasi laras juga dapat disesuaikan setelah proses input koordinat sasaran dilakukan, persisnya elevasi laras bisa diatur dalam rentang 45 derajat sampai 83 derajat. Dari spesifikasinya, panjang dari ekor hingga ujung laras adalah 200 cm, panjang jika loader difungsikan adalah 240 cm, dan tinggi saat kondisi sudut terendah adalah 175 cm.

Pengaturan sudut laras (elevasi) dan sudut hadap kiri-kanan (traversi) sepenuhnya dapat diatur dengan kontrol elektrik dari sistem panel kontrol berbasiskan “laptop” atau kompueter jinjing. Aplikasi atau perangkat lunak pengendali mekatronik mortir 81 mm inip un sudah dilengkapi dengan sistem komputer balistik pengukur jarak dan koordinat sasaran, disesuaikan dengan jenis proyektil yang digunakan sehingga didapatkan solusi penembakan yang akurat. Pada modul peluncur mortir disematkan modul WiFi, dan sistem kendali dilakukan remote wireless lewat smartphone.

Mortir mekatronilk di booth Dislitbangad.

Baca juga: Mortir 81mm – Mobilitas Tinggi Senjata Andalan Bantuan Infanteri

Dari aspek platform, yang digunakan adalah mortir 81 mm, yang punya bobot sekitar 49 kg dan panjang laras 1560 mm, dapat dicapai jarak tembak maksimum 6.500 meter dan jarak tembak minimum 100 meter. (Gilang Perdana)