Shahed Drone SeriesKlik di Atas

Cetak Rekor Perdana, AH-64E Apache UEA Rontokkan Drone Shahed Iran dengan Kanon M230

Di tengah memanasnya tensi di kawasan Teluk Persia, helikopter serang AH-64E Apache milik Angkatan Darat Uni Emirat Arab (UEA) baru saja mencatatkan sejarah. Selama ini, Apache dikenal sebagai “penghancur tank” yang superior dalam misi bantuan tembakan permukaan. Namun, melalui rilis video terbaru, sang predator menunjukkan sisi lain kemampuannya, memburu dan merontokkan drone kamikaze Shahed-136 buatan Iran di udara menggunakan kanon organik M230 Chain Gun.

Baca juga: Helikopter Serang AH-64 Apache Kini Dibekali Amunisi 30mm Khusus Pelibas Drone

Aksi ini merupakan debut operasional perdana Apache dalam peran pertahanan udara terhadap sistem pesawat nirawak (Counter-UAS). Fenomena ini membuktikan bahwa helikopter serang kini menjadi solusi asimetris yang efektif—dan jauh lebih murah—untuk mencegat drone murah dibandingkan harus menghamburkan rudal permukaan-ke-udara sekelas Patriot yang harganya mencapai jutaan dolar per unit.

Keberhasilan ini tidak lepas dari investasi besar UEA dalam memodernisasi armada helikopter serangnya. Saat ini, UEA mengoperasikan salah satu armada Apache terkuat di Timur Tengah dengan total sekitar 28 unit AH-64E Apache Guardian—versi terbaru dan paling canggih yang ada saat ini. Sebelumnya, UEA telah melakukan upgrade besar-besaran terhadap armada AH-64D Longbow mereka ke standar “Echo” (E-model).

Varian AH-64E ini dilengkapi dengan mesin yang lebih bertenaga, sistem avionik terbuka, serta kemampuan pengendalian manned-unmanned teaming (MUM-T). Dengan jumlah armada yang signifikan tersebut, UEA memiliki keunggulan taktis untuk melakukan patroli udara terus-menerus di sepanjang garis pantai dan wilayah kedaulatan mereka di Teluk Persia.

Kunci dari rontoknya drone Shahed di tangan Apache terletak pada sistem kanon M230 Chain Gun kaliber 30mm. Salah satu fitur paling ikonik dari senjata ini adalah integrasinya dengan sistem helm pilot yang disebut IHADSS (Integrated Helmet and Display Sight System). Dengan teknologi ini, moncong kanon akan bergerak secara otomatis mengikuti arah pandangan mata atau gerakan kepala pilot. Begitu pilot melihat drone di langit, kanon akan mengunci posisi tersebut, memungkinkan respons tembakan instan tanpa harus mengubah arah terbang helikopter.

Secara teknis, M230 adalah kanon elektrik satu laras yang digerakkan oleh motor listrik eksternal, bukan tekanan gas hasil tembakan. Hal ini membuat risiko kemacetan peluru (jamming) sangat rendah. Dari spesifikasi, kanon ini memiliki kecepatan tembak 625 butir per menit dengan jarak jangkau efektif 1.500 meter (maksimal hingga 4.000 meter).

Kapasitas amunisi mengusung magasin linkless mampu menampung hingga 1.200 butir peluru dengan amunisi HEDP yang disebut solusi ekonomis penghancur drone. Dalam misi perburuan ini, Apache menggunakan amunisi M789 High Explosive Dual Purpose (HEDP). Amunisi ini sangat mematikan karena memiliki efek ganda, mampu menembus baja ringan sekaligus menghasilkan ledakan fragmen.

Untuk target seperti drone Shahed-136 yang memiliki struktur relatif lunak, satu rentetan pendek dari peluru 30mm ini sudah lebih dari cukup untuk memicu ledakan hulu ledak drone di udara.

Keberhasilan armada AH-64E UEA dalam menjatuhkan drone di Teluk Persia memberikan pelajaran berharga bagi doktrin militer dunia. Di era di mana drone murah seharga puluhan ribu dolar digunakan untuk menguras stok rudal mahal, penggunaan kanon organik adalah langkah yang sangat cerdas secara ekonomi. Dengan 28 unit Apache Guardian yang siap sedia, UEA kini memiliki “pagar udara” yang presisi, efisien, dan mematikan untuk menjaga stabilitas kawasan dari ancaman asimetris. (Bayu Pamungkas)

IHADSS: Sensasi Teknologi “Blue Thunder” Untuk AH-64E Apache Guardian TNI AD

One Comment