Bofors 57mm MK.1 : Andalan KCR TNI AL Era-80an

Beberapa waktu lalu, kami telah mengulas profil Bofors 57mm MK.2, yakni sosok meriam reaksi cepat dengan desain kubah streamline yang menjadi andalan pada FPB (fast patrol boat)-57 TNI AL. Bofors 57mm MK.2 memang jauh lebih populer di mata kita, karena meriam ini terbilang banyak diaplikasikan pada kapal cepat TNI AL. Tapi sebelum era MK.2, sejatinya armada TNI AL juga sudah menggunakan versi perdananya, yakni Bofors 57mm MK.1.

Tepatnya Bofors 57mm MK.1 sudah diadopsi TNI AL pada awal tahun 1980-an, dimana meriam buatan Swedia ini menjadi senjata andalan pada KCR (kapal cepat rudal) kelas Dagger buatan Korea Selatan, ada 4 KCR yang menggunakan Bofors 57mm MK.1, yakni KRI Rencong (621), KRI Mandau (622), KRI Badik (623), dan KRI Keris (624). Tidak sebatas digunakan pada kelas kapal patroli, nyatanya TNI AL juga mempercayakan meriam ini untuk dipasangkan pada frigat latih KRI Ki Hajar Dewantara (364)buatan Yusoslavia yang datang di tahun 1981.

Bofors 57mm MK.2 dirancang dengan kubah (cupola) bentuk konvesional, resminya meriam ini mulai di desain pada tahun 1964, dan mulai resmi beroperasi pada tahun 1966 pada kapal cepat kelas Spica. Basis meriam ini mengambil platform Bofors 57mm (2.2 inchi) L60. Soal kemampuan tembakan, Bofors 57mm MK.1 secara teori dapat memuntahkan 200 peluru per menit. Untuk kesiapan tempurnya, di dalam kubah terdapat 40 magasin yang siap ditembakkan, dan 128 magasin cadangan. Untuk urusan jangkauan tembak, Bofors MK.1 serupa dengan Bofors MK.2, dimana jarak tembak maksimumnya adalah 17.000 meter, sedangkan untuk jarak tembak efektif adalah 8.500 meter dengan amunisi HE (high expolosive).

KRI Ki Hajar Dewantara (364)
KRI Badik (623)

Selain desain kubah dan kecepatan tembak yang berbeda, sistem pendingan laras pada Bofors 57mm MK.1 dan MK.2 pun berbeda. Pada versi MK.2 yang lebih modern, sistem pendingin cukup dengan udara, sedangkan pada Bofors 57mm MK.1 masih menggunakan air (water cooling system). Ciri khas lain, pada sisi kubah MK.1 juga telah dipasangi rak peluncur chaff untuk perlindungan dari serangan rudal.

Performa larasnya mempunya sudut eleveasi mulai dari -10 sampai 78 derajat, dengan kecepatan gerak 40 derajat per detik. Untuk mendapatkan jangkauan tembak maksimum, laras harus dalam posisi 45 derajat. Kecepatan luncur proyektilnya adalah 1.035 meter/detik. Serupa dengan Bofors 57 Mk.2, di MK.1 dapat dikendalikan secara remote maupun manual. Untuk penambakkan manual, pada kubah ditempatkan seorang juru tembak yang dibekali perangkat gyro stabilized guna mendukung penguncian target saat gelombang laut tinggi.

Sedangkan untuk sistem penembakkan secara remote, dipandu dengan perangkat signal WM-28 yang lumrah digunakan pada kapal perang era-80an. Di kemudian hari TNI AL mengadopsi fire tracking system yang lebih maju, yakni Lirod MK.2 buatan Thales. Bofors 57mm MK.1 masuk dalam golongan multi purpose, selain bisa untuk menangkal serangan udara, meriam ini juga dapat dioptimalkan sebagai BTK (bantuan tembakan kapal) secara terbatas ke pantai. Selain Indonesia, di Asia Tenggara meriam ini juga dipakai oleh AL Malaysia dan Singapura. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi Bofors 57mm MK.1
Negara pembuat : Swedia
Kaliber : 57mm/70
Jarak tembak max : 17.000 meter
Kecepatan tembak : 200 peluru/menit
Kecepatan proyektil : 1.035 meter/detik
Sudut elevasi : -10 sampai 78 derajat

 

8 Comments