Beredar Kabar Ukraina Tembak Jatuh Pembom Strategis Tu-22M3 Backfire di Wilayah Rusia, Mungkinkah?

Beberapa hari ini ramai diberitakan tentang ‘kemungkinan’ jatuhnya sebuah pembom strategis Rusia Tu-22M3 Backfire oleh rudal hanud Ukraina. Namun lantaran pihak Ukraina tidak dapat memberikan bukti aksi tersebut, dan pihak Rusia tidak memberikan komentar, maka kabar rontoknya pembom bersayap ayun tersebut masih disangsikan oleh sebagian kalangan. Meski begitu, sejatinya mungkinkah Tu-22 ditembak jatuh? Padahal Tu-22 melancarkan serangan dari wilayah udara Rusia.

Baca juga: Kecelakaan Fatal pada Kursi Pelontar Pembom Tu-22M3 Backfire, Tiga Awaknya Tewas

Forbes.com menyebut bahwa semua sangat mungkin terjadi, Tu-22 ditembak jatuh oleh sistem hanud Ukraina. Tapi itu jelas tidak mudah. Sumber-sumber Ukraina mengklaim salah satu pesawat pengebom sayap ayun bermesin ganda dari era Soviet itu menghilang dari jangkauan radar Ukraina di Kursk, seratus mil dari perbatasan Rusia dengan Ukraina, pasca melancarkan serangan rudal udara ke permukaan pada hari Jumat lalu.

Jika Ukraina memang menargetkan Tu-22 di udara, maka secara realistis hanya ada satu sistem rudal permukaan-ke-udara yang dapat melakukannya, yakni sistem hanud lawas era Soviet S-200 (kode NATO SA-5 Gammon)

Industri Soviet mengembangkan S-200 pada tahun 1960an untuk mempertahankan kota dan pangkalan militer dari potensi serangan pembom Amerika Serikat. Itu adalah senjata yang sangat besar. Sistem hanud S-200 terdiri dari rudal V-860 dan V-880 memiliki panjang lebih dari 9 meter dan berat delapan ton saat diluncurkan.

Peluncur baterai S-200 bergerak perlahan, bersama dengan radar Tall King dan Square Pair pada traktor-trailer berat. Radar Tall King mendeteksi target yang jaraknya ratusan mil. Square Pair mengunci target dan mengirimkan sinyal untuk mengarahkan rudal ke sasaran. Hulu ledak V-860/880 Frag-HE seberat 217 kg dapat menyebarkan puluhan ribu bantalan bola di awan yang mematikan.

Dalam peran pertahanan udara, S-200 seharusnya tidak memiliki masalah dalam mencapai target setinggi 40 km dan sejauh 305 km. Dalam kondisi ideal, rudalnya mungkin mampu menjangkau jarak 346 km. Jarak tersebut seratus mil lebih jauh dari rudal hanud Patriot PAC-2 terbaik buatan Amerika Serikat yang saat ini dimiliki Ukraina.

Ukraina mewarisi baterai S-200 dari Uni Soviet pada tahun 1991. Berapa banyak S-200 dan V-860/880 yang dimiliki Ukraina saat ini masih belum jelas. Angkatan udara Ukraina mengoperasikan sistem ini hingga sekitar tahun 2013.

Fire control radar 5N62 yang mendukung satuan tembak rudal S-200.

Setelah Rusia memperluas perangnya terhadap Ukraina mulai bulan Februari 2022, Ukraina mengaktifkan kembali beberapa komponen S-200 lama mereka dan mulai meluncurkan rudal V-860/880 ke sasaran Rusia di darat dengan jarak lebih dari 321 km. Hal itu sepertinya dilakukan setelah Ukraina memodifikasi rudal dengan perangkat keras pemandu tambahan.

Kami belum melihat bukti jelas bahwa Ukraina mengerahkan S-200 mereka dalam peran darat-ke-udara aslinya. Namun bukan berarti mereka tidak bisa melakukan hal tersebut—atau belum melakukannya.

 

Mungkin ada ratusan V-860/880 tua yang disimpan di Ukraina, dan ratusan lainnya berada di gudang senjata bekas sekutu Pakta Warsawa di Kiew. Ada rumor bahwa Bulgaria baru-baru ini menyumbangkan beberapa komponen S-200 miliknya ke Ukraina.

Serang ke Wilayah Rusia, Ukraina ‘Bangkitkan’ Rudal Hanud S-200 Jadi Rudal Balistik

Pesawat pengebom Rusia berukuran besar dan lamban yang terbang di ketinggian akan menjadi target ideal bagi S-200 Ukraina jika pembom Rusia terbang cukup dekat ke perbatasan Ukraina dan masuk ke dalam jangkauan S-200 di jangkauan sekitar 321 km atau lebih.

Masalahnya, bagi komandan pertahanan udara Ukraina, adalah semua pembom Rusia menembakkan rudal jelajah yang mampu menjangkau lebih dari 321 km. Rudal serangan darat standar Tu-22M3, seperti Kh-22/32, memiliki jangkauan lebih dari 804 km. (Gilang Perdana)

4 Comments