Begini Cara Kapal Selam Rusia Lakukan Sabotase Pada Jaringan Kabel Bawah Laut

Meski telah ditunjang dengan keberadaan satelit komunikasi, namun 99 persen akses lalu lintas data antar benua hingga kini masih mengandalkan kabel optik bawah laut. Mulai dari urusan transaksi keuangan, email, media sosial, dan komunikasi militer, masih dominan mengandalkan akses jaringan kabel bawah laut. Dengan keunggulan kecepatan akses dan kapasitas besar, kabel optik bawah laut sejak era Perang Dingin belum tergantikan.

Baca juga: Sarov Class – Kapal Selam Pengumpul Data Intelijen dengan Tenaga Hybrid Diesel Nuklir

Betapa vitalnya akses data via kabel bawah laut bisa tercermin saat insiden putusnya kabel optik bawah laut. Contoh kasus saat kabel optik milik Telkom putus akibat jangkar kapal pada tahun 2000, maka jalur komunikasi data dan suara yang disalurkan lewat Batam ke Singapura sebagai hub akses internasional mengalami gangguan. Akibatnya pun langsung dirasakan pada beragam sektor publik, mulai dari lemotnya akses internet, sampai pada kegagalan akses internet secara total.

Berangkat dari begitu pentingnya peranan kabel komunikasi bawah laut, rupanya saat berkecamuk Perang Dingin, ada upaya dari Rusia untuk melakukan ‘gangguan’ pada jaringan kabel bawah laut, utamanya yang menghubungkan antara daratan Amerika Serikat dan Eropa di Lautan Atlantik.

Dikutip dari Forbes.com (19/8/2020), disebutkan ketergantungan AS dan Barat pada kabel internet bawah laut bisa menjadi kerentanan strategis. Hal tersebut merupakan konsekuensi dari kondisi geografi dan kebangkitan ekonomi digital internasional. Sebagai perbandingan, Rusia tidak terlalu bergantung pada teknologi kabel bawah laut.

Meski belum ada bukti otentik kegiatan mata-mata dan sabotase pada kabel bawah laut, namun kepemilikan Rusia pada sejumlah kapal selam untuk misi intai di laut dalam, telah menimbulkan kekhawatiran. Aaron Amick, pakar sonar yang pernah bertugas di kapal selam AS membagikan pengalamannya tentang modus operandi Rusia. Amick bertugas di kapal selam AL AS yang membayangi kapal selam Rusia yang beroperasi di atas kabel bawah laut NATO di lepas pantai Norwegia pada awal 1990-an. Sebagai informasi, ini terjadi setelah berakhirnya Perang Dingin dengan bubarnya Uni Soviet.

Momen pertama yang diketahui Barat tentang operasi Rusia terhadap kabel bawah laut adalah kedatangan kapal selam serang bertenaga nuklir Kelas Akula di daerah tersebut. “Aktivitas tersebut sangat tersembunyi sehingga mungkin tidak terdeteksi. Kuat dugaan aktivitas kapal selam Rusia dilakukan untuk membuat pertahanan perimeter melawan kapal selam NATO yang rutin melakukan pengintaian di Laut Baltik,” ujar Amick.

Kabel bawah laut pada dasarnya ditempatkan di dasar laut, sehingga tidak mengganggu pelayaran untuk kapal di atas permukaan. Untuk mencapai kabel di dasar laut, Rusia memiliki kapal selam bertenaga nuklir yang unik. Ini dikenal dengan istilah Rusia – AGS, tetapi dalam istilah awam, ini disebut sebagai spy submarine.

Bukti keberadaan kapal selam ini sudah ada, yaitu pada insiden kapal selam “Losharik” yang mengalami kecelakaan fatal pada 1 Juli 2019. AGS tersebut mengalami selip untuk sandar di dasar laut dengan lengan manipulator untuk mengerjakan kabel. Kapal selam ini dapat menempatkan perangkat penyadap, melakukan inspeksi, bahkan sampai memotong kabel bawah laut di tempat yang sulit untuk diperbaiki.

Namun kapal selam AGS tidak bisa mencapai area target sendirian. Kapal selam ini dibawa oleh kapal selam besar. Rusia saat ini memiliki dua, yang paling modern adalah BS-64 Podmoskovye, yang merupakan kapal selam rudal balistik kelas Delta-IV yang diperbesar. Dan Rusia sedang memulai uji coba kapal selam besar yang lebih baru dan lebih besar, Belgorod.

Kapal selam utama akan berpatroli dalam pola berbentuk bintang di atas spy submarine, tetap sering melakukan kontak suara dengannya. AGS atau spy submarine mungkin berada di sana selama berhari-hari atau mungkin seminggu pada suatu waktu, sebelum naik ke bawah perut kapal selam utama.

Paltus mini submarine.

Amick mengamati operasi pada awal 1990-an ketika muncul kapal selam mini dari jenis Paltus. Kapal selam tersebut dibawa ke target oleh kapal selam rudal balistik ‘Yankee class’ yang dimodifikasi.

Baca juga: G-Fortar – Giroskop Militer Berbasis Serat Optik Rancangan Tim Teknik Fisika ITB

Rupanya pihak AS dan NATO paham betul akan upaya gangguan dari Rusia, kemudian munculah Cable Ship Security Program (CSSP) yang memungkinkan angkatan laut untuk menyewa kapal komersial untuk melakukan perbaikan darurat. Tetapi desain antisipasi ini hanya mencakup untuk dukungan dua kapal. Jelas desain penanganan ini tidak cukup ideal jika terjadi serangan serius dan masif pada beberapa jaringan kabel bawah laut. (Endro Sugoro)

7 Comments