Seputar DSEI 2019Klik di Atas

Author: indomiliter

DShK-38 : Senjata Maut Pembabat Fretilin

DShK-38 tampil lengkap dengan tripod

Sebelum menggunakan SMB (Senapan Mesin Berat) browning M2HB, TNI sebenarnya sudah punya pengalaman menggunakan SMB lain yang juga tak kalah populer. Yakni DShk-38 buatan Uni Soviet (sekarang Rusia). DShK (Degtyaryova-Shpagina Krupnokaliberny) mulai dikembangkan pada awal tahun 1930-an, dan secara resmi diadopsi oleh militer Uni Soviet pada tahun 1938. Serupa dengan browning M2HB dari AS, DShK-38 juga sudah eksis digunakan dalam perang dunia kedua.

Senapan mesin legendaris ini dirancang oleh Vasily Degtyaryov dan sistem mekanisme cartridge feed-nya dikembangkan oleh Georgi Shpagin. DShK-38 dirancang sebagai senjata pemukul untuk sasaran darat dan udara jarak pendek. Bila digunakan di darat, SMB ini biasa digunakan oleh unit kavaleri dan infantri. Pada unit kavaleri, DShK sudah menjadi standar ditempatkan pada turret beragam MBT (Main Battle Tank) Uni Soviet, bahkan tank ringan PT-76 dan panser amfibi BTR-50 turut mengadopsi DShK sebagai arsenal senjata andalan. Bahkan tampilan DShK cukup mencolok di beberapa negara Afrika dan Afganistan, yakni penempatan SMB ini pada bak mobil pick up.

DShK menjadi senjata pamungkas anti serangan udara pada MBT buatan Rusia

Buat publik di Tanah Air, mungkin yang paling berkesan adalah penempatan DShK-38 di pansam BTR-50 Korps Marinir. Sejak era operasi Trikora dan Seroja, Korps Marinir sangat khas menggunakan DShK lengkap dengan perisai baja untuk perlindungan juru tembak. Walau versi BTR-50 yang kini digunakan TNI-AL (setelah hasil retrofit) sudah jarang menempatkan DShK-38.

DShK-38 tampil dengan wheel mounting

Selain populer di unit kavaleri, SMB ini juga bisa digunakan oleh satuan infantri. Dengan bobot 34 Kg (tanpa amunisi), pastinya cukup repot memobilisasi senjata ini. Untuk itu dalam infantri, wajar bila DShK dioperasikan dengan case khusus beroda dua, mirip dengan model meriam/kanon. Dengan demikian SMB ini mudah digerakkan, dibawa atau dipindahkan dengan bantuan pengait pada jip atau truk.

DShK-38 hadir dengan variasi pisir, untuk kebutuhan anti serangan udara, DShK dibekali pisir khusus berbentuk jaring laba-laba. Biasanya ini populer digunakan oleh satuan artileri pertahanan udara. DShK-38 pun hingga kini tercatat sebagai arsenal senjata pada Arhanudri (Artileri Pertahanan Udara Ringan) TNI-AD.

BTR-50 Korps Marinir dilengkapi DShK-38 saat operasi Seroja di Timor Timur

Sebagai senjata yang menyandang gelar battle proven, DShK-38 mampu memuntahkan 600 butir peluru per menit. Sedangkan jarak tembak maksimumnya mencapai 2000 meter dengan kecepatan luncur peluru 850 meter per detik. DShK-38 beroperasi dengan sistem operasi gas, tipe cartridge yang digunakan adalah jenis 12,7 x 108 mm. Bila tanpa amunisi bobot SMB ini 34 Kg, tapi saat ditancapkan pada platform wheeled mounting bobot senjata ini menjadi 157 Kg.

DShK-38 dipasang pada kereta di Rusia

Walau di Indonesia kiprahnya telah memudar, DShK-38 masih tetep populer diadopsi oleh negara-negara sekutu Rusia. SMB ini pun sudah diproduksi secara lisensi oleh Cina, Pakistan, dan Rumania. Salah satu prestasi tempur DShK-38 yakni mampu menjatuhkan helikopeter Lynx Inggris pada tahun 1990 di Irak. Untuk di Tanah Air, gerombolan Fretilin dan pasukan Tropaz pastinya sudah pernah merasakan muntahan pelor maut dari DShK-38, salah satunya yang dipasang pada ranpur BTR-50. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi DShK-38
Kaliber : 12,7 mm
Rata-Rata Tembakan : 600r/menit
Kecepatan Peluru : 850 meter/detik
Jarak Tembak Efektif : 2000 meter
Berat : 34 Kg
Amunisi : Sabuk
Mekanisme : gas operated
Produksi awal : 1938

AT-5 : Rudal Anti Tank BVP-2 Marinir

Korps kavaleri Indonesia bisa dibilang punya beragam ranpur, tapi rasanya masih agak tertinggal untuk urusan persenjataan, semisal di segmen rudal anti tank, belum ada satu pun ranpur kavaleri TNI yang dibekali rudal penghancur tank. Baru semenjak kehadiran tank BVP-2 kavaleri di Tanah Air mengenal rudal anti tank dari jenis AT-5 Spandrel.

Sebagai rudal anti tank, AT-5 dapat dipasang di berbagai ranpur, baik dari jenis tank, panser sampai jip. Pada BVP-2 Korps Marinir, AT-5 ditempatkan pada bagian atas kubah kanon 30 mm BVP-2. Rudal ini terbilang mudah untuk dibongkar pasang, ini tak lain berkat komponen kontainer rudal yang relatif ringan dari bahan fiberglas.

AT-5 Spandrel

Sejatinya AT-5 bukan rudal anti tank anyar, AT (anti tank) -5 Spandrel merupakan identitas yang diberikan oleh pihak NATO. Identitas asli rudal ini adalah 9M113 Konkurs dan rudal ini mulai dikembangkan pada era perang dingin. Desain AT-5 sudah dimulai sejak tahun 1962, dan jenis ATGM (anti tank guided missle) ini resmi mulai dioperasikan pada tahun 1974. Dengan desain yang ringkas, memungkinkan AT-5 dioperasikan secara portabel oleh personel infantri sekalipun.

Sistem kerja rudal ini menggunakan generator gas untuk mendorong rudal keluar dari tube kontainer. Saat rudal ditembakkan, semburan gas akan memacar dari belakang tube. Performa AT-5 cukup dahsyat, saat keluar dari tube, rudal memiliki kecepatan luncur 80 meter per detik dan secara cepat meningkat jadi 200 meter per detik. Hal tersebut bisa dicapai berkat dukungan solid fuel motor.

AT-5 mudah digelarsecara portable

Selama rudal meluncur hingga menghajar target, rudal akan berputar lurus antara 5 sampai 7 kali per detik. Sedangkan jarak tembak efektif rudal ini mulai dari jangkauan 70 meter hingga 4 Kilometer. Untuk jenis bahan peledaknya, AT-5 mengusung tandem HEAT (High Explosive Anti Tank).

Tabung peluncur AT-5 pada kubah tank BVP-2 Korps Marinir

Walau bukan rudal anti tank keluaran terbaru, tapi AT-5 punya segudang pengalaman tempur. Salah satunya pada tahun 2006 lalu, rudal ini menjadi dewa maut di tangan pejuang Hizbullah. Terbukti rudal ini mampu mengkandaskan beberapa MBT (Main Battle Tank) Israel dari jenis Merkava di zona konflik Lebanon.

AT-5 produksi Iran

Selain menjadi senjata “wajib” untuk negara-negara sekutu Rusia, menurut Wikipedia.com, Amerika Serikat juga menggunakan rudal ini untuk keperluan latihan. AT-5 diproduksi oleh Tula Machinery Design Bureau di Rusia. Terbukti bandel di medan perang, rudal ini juga dibuat oleh Iran dengan label Towsan-1/M113. Varian AT-5 yang diproduksi Iran inilah yang konon digunakan oleh pejuang Hizbullah saat melawan tank Israel. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi AT-5
Berat : 14,6 Kg
Panjang : 1,15 Meter
Diameter : 13,5 Cm
Sistem Peluncuran : wire guided SACLOS (Semi-Automatic Command to Line of Sight)
Moda Peluncuran : perorangan atau dari kendaraan tempur.

Mesin : solid-fuel rocket
Lebar sayap : 46,8 Cm
Jarak Jangkau : 70 meter sampai 4 Km
Kecepatan : 200 meter per detik

Browning M2HB: Senapan Mesin Berat Ranpur Kavaleri

Kodratnya memang bukan sebagai senjata khusus kavaleri, namun bisa dibilang inilah arsenal senjata pelengkap kavaleri yang lumayan menentukan dalam tiap operasi militer. Tanpa browning, seolah daya gempur korps kavaleri jadi tak lengkap, ini tak berlaku di di Indonesia saja, melainkan di seantero dunia, terutama di negara-negara pengguna standar militer NATO. (more…)

Cockerill 90 : Kanon Pamungkas Korps Kavaleri

Cockerill 90 mm pada Panser Anoa 6×6 buatan Pindad

Walau punya jenis spesifikasi ranpur yang berbeda, antara kavaleri TNI-AD dan Marinir TNI-AL punya kesamaan untuk urusan senjata andalan. Baik kavaleri TNI-AD dan Marinir TNI –AL diketahui sejak lama sama-sama mengandalkan kanon Cockerill kaliber 90mm. Di lingkungan TNI-AD, Cockerill 90 diketahui memperkuat tank ringan Scorpion dan panser V-150, bahkan panser besutan Pindad yang masih prototip, yakni Anoa 6×6 versi kanon juga mengadopsi Cockerill 90. (more…)

LVTP-7 : Pendarat Amfibi Korps Marinir TNI-AL

“Mendarat dan menang..,” itulah misi utama Marinir di seluruh dunia dalam menjalankan tugas sebagai pasukan pendarat, pembuka gerbang untuk operasi militer lanjutan. Bagi Korps Marinir TNI AL adalah hal lumrah untuk berjibaku dan mempertaruhkan nyawa dalam tiap operasi pendaratan militer di seluruh wilayan Nusantara. (more…)

BTR-80A: Monster Amfibi Korps Marinir

Jumlahnya memang tak seberapa, panser amfibi andalan Korps Marinir TNI AL ini hanya ada 12 unit. Tapi ada kesan mendalam tentang panser beroda delapan ini, walau unit yang dimiliki Korps Marinir amat terbatas, BTR-80A Indonesia sudah mendapat penugasan dalam misi memperkuat batalyon mekanik pada pasukan penjaga perdamaian PBB (UNIFIL) di Lebanon. Hal ini menandakan Indonesia tidak pelit untuk berpartisipasi dalam menjaga perdamaian dunia, walau alutsista yang dimiliki masih minim. (more…)

BMP-3F: Tank Amfibi “Kelas Berat” TNI-AL

marinir

Yang ditunggu akhirnya datang juga, ranpur (kendaraan tempur) BMP-3F milik korps Marinir akhirnya tiba di Tanah Air pada 27 November lalu di Surabaya. Jumlahnya memang tak banyak, hanya 17 unit, tapi inilah jenis tank paling modern dan tercanggih yang dimiliki Indonesia saat ini, dilihat dari kelengkapan persenjataan yang dibawa. Menurut rencana awal, dengan anggaran US$ 50 juta, Korps Marinir bakal mendapatkan 20 unit tank, tapi karena terjadi kenaikan harga per unit, akhirnya jumlah BMP-3F yang bisa diboyong ke Tanah Air berjumlah 17 unit saja. (more…)

Anoa : Panser Amfibi “made in Indonesia”

Anoa APC yang akan dikirim ke Lebanon

Kalau ada ranpur TNI yang paling banyak disorot tahun ini, itu tak lain adalah Anoa. Panser dari jenis APS (angkut personel sedang)-3, atau bisa disebut APC (armoured personnel carrier). Alasanya, pertama Anoa adalah panser besutan lokal (PT. Pindad) yang dirancang dengan bodi Monocoque Armoured, desainnya bisa dibilang mencontoh panser TNI AD sebelumnya, yakni VAB buatan Perancis. Bahkan Anoa berpenggerak roda 6×6. Alasan kedua, Anoa adalah panser dengan kualifikasi amfibi pertama yang dibuat di dalam negeri.

Dan, tak kalah penting, Anoa mendapat pengakuan internasional, ini dibuktikan dengan minat dari Oman, Malaysia, Nepal, dan Bangladesh untuk membeli Anoa. Boleh dibilang, Anoa adalah flagship kavaleri Indonesia, apalagi Anoa telah dilbatkan dalam satuan batalion mekanis Kontingen Garuda di Lebanon. Informasi terakhir, 13 unit Anoa telah dikirim ke Lebanon untuk memperkuat Satgas Batalyon Mekanis TNI Kontingen Garuda XXIII-D/UNIFIL.

Anoa juga dibuat versi 4x4 untuk Polri
Presiden SBY saat mencoba Anoa, tampak dibelakang SBY berupa anjungan juru tembak. Hal yang membedakan dengan panser VAB

Selain alasan-alasan diatas, Anoa kerap menarik perhatian warga, khususnya di Jakarta, sebab beberapa unit Anoa digadang sebagai ranpur Paspampres. Tak jarang Anoa terlihat “nongkrong” ibarat hiasan tanpa persenjataan di area kediaman Presiden dan Wakil Presiden.

Dari segi desain, panser ini rasanya memang “menyadur ” desain panser VAB besutan GIAT Perancis. Tapi Anoa dihadirkan dengan penyempurnaan, selain suspensi yang lebih baik, Anoa mempunyai kubah tempat penembak depan yang terpisah. Bandingkan pada VAB, kubah penembak SMB (senapan mesin berat) tepat berada di samping pengemudi, tentu posisi ini kurang ergonomis bagi penembak. Untuk itulah pada Anoa dilakukan penyempurnaan. Alhasil ukuran Anoa lebih panjang sedikit ketimbang VAB.

Tampilan ruang kabin personel di panser Anoa

Masih ada perbedaan lain, bila VAB menggunakan kemudi sebelah kiri (standar Eropa), maka Anoa mengadopsi letak kemudi di kanan (standar Indonesia). Nah, untuk yang lain-lainnya bisa dibilang Anoa dan VAB ibarat pinang dibelah dua. Contohnya Anoa menggunakan tipe mesin yang sama dengan VAB, yakni Renault MIDR 062045 inline 6 cylinder turbo-charged diesel. Tentu untuk urusan dapur pacu masih harus di impor dari Perancis. Begitu pula dengan suspensi yang menggunakan Independent suspension, torsion bar masih di impor. Dengan sistem penggerak enam roda simetris, Anoa mampu bergerak lincah di berbagai medan. Termasuk di kemiringan 31 derajat.

Aksi Anoa dalam mengatasi halang rintang
Anoa dilengkapi dua buah propeler untuk berenang

Pada Agustus 2008, Pindad mendapat order 150 unit Anoa dari Departemen Pertahanan. Hingga produksi ke 30, plat baja Anoa masih impor, selanjutnya plat baja akan dipasok oleh PT. Krakatau Steel. Mengenai performa plat baja, performanya mampu mehanan hantaman peluru kaliber 5,56 dan 7,62 mm. Anoa dilapisi dengan baja khusus yang telah memenuhi standar level III NATO.

Untuk persenjataan, ada dua pilihan yang ditawarkan, yakni pelontar granat AGL 40 atau SMB 12,7 mm. Untuk menghindar dari sergapan lawan, Anoa juga dibekali pelontar granat asap 2 x3 66 mm. Sejak diperkenalkan pertama kali pada Hari ulang Tahun TNI ke-61 di Cilangkap – Jakarta (5/10/2006). Anoa telah dikembangkan dalam beberapa varian, seperti versi ambulance, komando, logistik, armoured recovery, surveillance, dan versi pelontar mortir.

Anoa 6x6 versi kanon 90 mm
Tampilan belakang Anoa versi kanon 90 mm

Bahkan panser amfibi ini lebih hebat lagi berhasil dikembangkan ke versi kanon. Untuk versi kanon, desainnya lumayan sangar dengan mengadopsi kanon tipe Cockerill 90 mm Mk III, serupa dengan yang digunakan pada tank Scorpion 90. Tapi sayang, belum ada pesanan mengalir untuk Anoa versi kanon. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi Anoa APC
Pabrik : PT. Pindad
Berat Tempur : 14 ton
Panjang : 6 meter
Lebar : 2,5 meter
Tinggi : 2,9 meter
Kru : 3 + 10 personel
Senjata Utama : SMB 12,7 mm atau pelontar granat AGL 40 mm
Mesin : Renault MIDR 062045 inline 6 cylinder turbo-charged diesel
Transmisi : Automatic, ZF S6HP502, 6 forward, 1 reverse
Suspensi : Independent suspension, torsion bar
Kapasitas BBM : 200 liter
Jarak Tempuh : 600 Km
Kecepatan Max : 90 Km/jam ; 2,2 meter / detik di air

VAB : Kisah Panser Perisai Ibu Kota

Sebagian besar dari kita tentu masih ingat terjadinya kerusuhan massal pada tahun 1998. Akibat rusuh massal di beberapa kota besar secara sporadis, berbuntut tumbangnya pemerintahan orde baru (orba) pimpinan Soeharto. Rusuh massal yang berlangsung sporadis amat mengerikan, terutama di Ibu Kota Jakarta sebagai titik awal gerakan demokrasi. Hampir di setiap wilayah Jakarta terjadi pengrusakan, penjarahan dan pembakaran. Aparat TNI (dulu ABRI) dan Polri dituntut kerja kerasnya untuk menanggulangi dampak rusuh yang bernuansa politik ini. (more…)