AU Filipina Terima Hibah C-130H Hercules, ‘Dulunya’ Gunship AC-130W Stinger II

C-130H dengan nomer ekor 5157 tiba di Pangkalan Udara Clark (foto: istimewa)

Sebagai sekutu klasik Amerika Serikat di Asia Tenggara, Filipina diwartakan menerima (lagi) hibah pesawat angkut berat C-130H Hercules. Dalam sebuah pernyataan hari Senin, juru bicara Philippine Air Force (PAF) Kolonel Ma. Consuelo Castillo mengatakan pesawat tersebut mendarat di Pangkalan Udara Clark, Kota Mabalacat, Pampanga pada 16 Februari 2024.

Baca juga: AU Filipina Borong Tiga Unit C-130J-30 Super Hercules, Unit Perdana Tiba Juli 2026

C-130H baru, yang memiliki nomor ekor 5157, merupakan pesawat kedua dari dua pesawat C-130H yang diberikan AS kepada Filipina melalui Program Excess Defense Articles (EDA). Unit pertama C-130H dikirimkan pada 29 Januari 2021, dan secara resmi diserahkan kepada Angkatan Udara Filipina pada bulan Februari tahun yang sama.

Upacara penerimaan, pergantian, dan pemberkatan resmi untuk pesawat tersebut dijadwalkan untuk sementara pada akhir Februari atau Maret. Angkatan Udara Filipina diketahui mengoperasikan empat versi atau model lama C-130 untuk misi angkut berat.

Nah, yang menarik dari C-130H yang baru saja diterima Angkatan Udara Filipina, ternyata sebelumnya adalah AC-130W Stinger II Gunship bekas pakai Angkatan Udara AS, yang kemudian dikonversi ke versi angkut standar. Meski persenjataan dan perangkat pendukungnya telah dilepas, C-130H eks AC-130W Stinger II yang kini digunakan filipina, tetap menyertakan fitur satellite communication (SATCOM), yang terlihat pada adanya antena di atas fuselage.

AC-130W Stinger II adalah versi modifikasi dari pesawat transportasi taktis MC-130W Combat Spear, yang pada gilirannya merupakan varian dari C-130 Hercules yang dimodifikasi untuk misi khusus oleh Angkatan Udara AS. Pesawat ini dirancang untuk memberikan dukungan serangan udara dekat (Close Air Support/CAS) dan dukungan tembakan langsung untuk pasukan darat.

Gunship AC-130W Stinger II

AC-130W Stinger II dilengkapi dengan senjata yang kuat, seperti kanon Gatling 30mm GAU-23/A cannon, howitzer M102 105 mm, dan senapan mesin 7,62mm. Pesawat ini dilengkapi dengan sistem navigasi dan sensor canggih, termasuk sensor elektro-optik dan inframerah, radar pencitraan udara, dan sistem komunikasi yang canggih.

AC-130W Stinger II memiliki kemampuan untuk melakukan operasi malam hari dan dalam kondisi cahaya rendah menggunakan teknologi sensor yang ada.Pesawat ini digunakan untuk memberikan dukungan tembakan langsung dan serangan udara dekat kepada pasukan darat dalam misi operasi khusus dan kontra-terorisme.

AC-130W Stinger II dapat diubah-ubah untuk memenuhi kebutuhan misi yang berbeda, seperti pengintaian, pengawasan, dan penyerangan.AC-130W Stinger II telah digunakan dalam berbagai misi operasi khusus di berbagai negara, termasuk Afghanistan, Irak, dan Suriah. (Bayu Pamungkas)

Bersiap Hadapi Cina, Howitzer 105mm Bakal Dicopot dari AC-130J Ghostrider