Seputar DSEI 2019Klik di Atas

Asah Kemampuan Serang Permukaan, Pilot Tempur TNI AU Andalkan TGM-65G dan TGM-65K2 Maverick

TGM-65G Maverick (Foto: Instagram Skadron Udara 16)

Bicara tentang rudal udara ke permukaan, nama AGM-65 Maverick buatan Raytheon adalah ujung tombak pada armada pesawat tempur TNI AU. Selain predikatnya yang battle proven, Maverick yang kini dimiliki TNI AU dalam dua versi sudah beberapa kali dilakukan uji tembak dengan hasil memuaskan, baik dilakukan dari jet tempur F-16 Fighting Falcon atau Hawk 209.

Baca juga: Dibalik Misi Terbang Malam, Inilah Serba-Serbinya dari Penerbang Jet Tempur TNI AU

Karena harga per unit rudal yang sangat mahal, jumlah AGM-65 secara kuantitas terbilang ngepas. Untuk itu, guna menjaga aspek kemampuan serang udara ke permukaan, setiap pilot F-16 di Skadron Udara 3 dan Skadron Udara 16, serta pilot Hawk 109/209 di Skadron Udara 1 dan Skadron Uara 12, akrab dengan apa yang disebut sebagai TGM (Training Guided Missile)-65 Maverick.

Desain TGM-65 Maverick serupa dengan rudal ‘asli’ AGM-65, termasuk sistem pemandu (seeker) pada moncong sama persis. “Meski tampak luar mirip, namun TGM-65 bobotnya lebih ringan dari AGM-65, persisnya karena tidak ada roket dan hulu ledak (warhead) di TGM-65,” ujar Letnan Kolonel Pnb. Bambang “Bramble” Apriyanto, Komandan Skadron Udara 16 kepada Indomiliter.com.

Mengikuti versi rudal Maverick yang kini dimiliki TNI AU, yaitu AGM-65G dan yang terbaru AGM-65K2, maka untuk keperluan latihan pilot di TNI AU juga digunakan TGM-65G dan TGM-65K2. Mengikuti karakter keunggulan dari dua versi Maverick, maka TGM-65G dan TGM-65K2 meski menyasar pada sasaran di permukaan, namun punya konfigurasi yang berbeda, terutama bicara tentang aspek proses targeting.

TGM-65K2 Maverick

Mengikuti AGM-65G yang sudah digunakan TNI AU sejak dekade 90-an, TGM-65G menyiratkan menggunakan sistem pemandu infra red. Sementara TGM-65K2 mengikuti sistem AGM-65K2, yaitu mengadopsi sistem pemandu berupa sensor Charge Couple Device (CCD) TV 480×480 pixels, yang tak lain merupakan sensor cahaya dalam kamera. Sebagai catatan, kamera CCD di AGM/TGM-65K2 hanya untuk lock on pada target. Tracking ke target setelah rudal diluncurkan tidak dapat dilakukan.

Selama proses penggunan TGM-65 hanya ditampilkan simulasi targeting hingga weapon launch, khusus TGM-65G, bisa dilakukan simulasi sampai hit target. Disini prosesnya berbeda dengan latihan perang udara ke udara yang menggunakan ACMI KITS, pada TGM-65 tidak ada data link yang digunakan.

TGM-65G Maverick

Meski AGM/TGM-65G usianya lebih tua, namun berkat pemandu infra red, lebih diandalkan untuk operasi serang permukaan di malam hari. Sebaliknya AGM/TGM-65K2, punya peningkatan pada akurasi dan handal dilepaskan dalam kondisi lower light levels.

Bambang Apriyanto menyebut bahwa kesemua versi AGM-65 Maverick merujuk ke sistem fire and forget. “Bila sudah lock on target dan parameter penembakan sudah sesuai, maka rudal tinggal dilepaskan. Setelah rudal meluncur mengenai sasaran atau tidak, tinggal berpulang pada kemampuan itu sendiri,” kata Bambang.

Baca juga: Raytheon AGM-65K2 Maverick – Rudal Udara ke Permukaan Tercanggih Untuk F-16 TNI AU

Hawk 209 membawa TGM-65G Maverick

Dari catatan kami, F-16 TNI AU sudah dua kali kesempatan menemkan rudal Maverick, yaitu di tahun 2000 dan tahun 2013. Sementara Hawk 209 baru sekali melaksanakan uji tembak rudal ini pada bulan Juni 2011 di Air Weapon Range (AWR) Pulung, Ponorogo, Jawa Timur. Ketiga rudal Maverick yang ditembakan adalah dari versi AGM-65G. Semoga kedepan, AGM-65K2 juga akan menyusul diuji tembakan secara live.

Bila Hawk 109/Hawk 209 hanya bisa menggotong dua unit Maverick, maka F-16 Fighting Falcon bisa membawa empat unit Maverick. Meski mirip rudal asli, TGM-65 secara mudah dapat dilihat perberdaannya, yaitu pada bagian depan dilengkapi cincin (ring) berwarna putih. Kemudian di bagian belakang fuselage terdapat kata ‘Inert.’ (Haryo Adjie)

14 Comments