AS Tawarkan Jet Tempur F-16 ke Vietnam, Harus Belajar dari Kasus Indonesia dan Malaysia

Amerika Serikat tahu betul strategi untuk menanamkan pengaruhnya di Vietnam. Meski militer Vietnam saat ini dominan menggunakan alutsista produksi Rusia, namun, konflik perbatasan antara Vietnam dan Cina, bisa menjadi entry point masuknya pengaruh AS secara lebih besar ke tubuh militer Vietnam. Pendekatan dalam aspek kekuatan udara, kabarnya kini tengah dijajaki oleh Washington.

Baca juga: Profil INS Kipran (Khukri Class) – Korvet Rudal India yang Dihibahkan ke Vietnam dengan Persenjataan Lengkap

Angkatan Udara Vietnam saat ini memiliki armada yang terdiri dari 10 unit jet temur Su-27 Flanker, 35 unit Su-30 dan 34 unit Su-22. Termasuk dalam inventaris mereka juga adalah MiG-21 Fishbed ‘cadangan’, yang dimasukkan ke dalam mode siaga pada tahun 2010. Nah, yang mengejutkan, ada spekulasi kemungkinan penambahan jet tempur produksi AS ke arsenal Angkatan Udara Nguyen dalam waktu dekat.

Indikasi pertama dari evolusi ini muncul pada tahun 2021, ketika Vietnam memesan setidaknya tiga unit peswat latih T-6 Texan II dari pabrikan Amerika, Beechcraft. Pengiriman pesawat ini masih menunggu keputusan dari kongres. Pergeseran nyata ini terjadi bersamaan dengan mencairnya hubungan antara Vietnam dan Amerika Serikat, sebuah perkembangan yang sebagian besar didorong oleh kekhawatiran bersama antara Vietnam dan AS mengenai ambisi Beijing di Laut Cina Selatan.

Perubahan ini ditegaskan dalam kunjungan Presiden AS Joe Biden baru-baru ini ke Hanoi. Selama kunjungan ini, dialog perkenalan dimulai untuk mencapai kesepakatan penjualan senjata dalam jumlah besar. Hal ini dipandang sebagai langkah dalam mendefinisikan kemitraan yang sedang berkembang antara AS dan Vietnam.

Seperti yang dilaporkan Reuters, mengutip dua sumber terpercaya, ada pembicaraan bahwa Angkatan Udara Vietnam akan mengakuisisi jet tempur F-16. Jika dugaan ini benar, hal ini dapat menandai peningkatan signifikan dalam kemampuan pertahanan Vietnam, terutama jika armada yang diperoleh mencakup pesawat tempur F-16 Viper. Diproduksi oleh Lockheed Martin, F-16 Viper menampilkan serangkaian fitur canggih seperti radar AESA, komputer misi canggih, konektivitas superior, dan tampilan observasi medan.

Seorang pejabat dari pemerintahan Biden menyampaikan kepada Reuters bahwa AS menikmati hubungan keamanan yang “produktif dan menjanjikan” dengan Vietnam. Tampaknya ada ketertarikan Vietnam yang kuat terhadap sistem pertahanan AS, khususnya sistem pertahanan yang meningkatkan kemampuan pengawasan maritim dan sarana transportasi lainnya.

Akuisisi jet tempur F-16 oleh Vietnam akan meningkatkan kemampuan tempurnya secara signifikan. Meskipun Vietnam sudah memiliki jet tempur Su-27 dan Su-30 Rusia, penambahan F-16 akan memberikan armada yang lebih beragam dan canggih.

F-16 dikenal karena kelincahannya, avioniknya yang canggih, serta kemampuan udara-ke-udara dan udara-ke-darat yang unggul. Hal ini akan memungkinkan Vietnam untuk secara efektif terlibat dalam misi pertempuran udara-ke-udara dan serangan darat, sehingga memperluas fleksibilitas dan efektivitas operasionalnya di medan perang.

Selain itu, F-16 dilengkapi dengan sistem peperangan elektronik canggih, yang memungkinkan Vietnam mengganggu dan melawan sistem radar dan komunikasi musuh. Akuisisi F-16 juga akan memperkuat interoperabilitas Vietnam dengan Amerika Serikat dan negara-negara lain yang mengoperasikan F-16 di kawasan Asia Tenggara. Hal ini akan memfasilitasi latihan bersama, pertukaran informasi, dan bahkan kemungkinan operasi bersama di masa depan.

Interoperabilitas dengan Jet Tempur Buatan Rusia?
F-16 dan pesawat Su-27 dan Su-30 Rusia memang tidak kompatibel dalam beberapa aspek. Salah satu faktor utama yang menyebabkan ketidaksesuaian adalah perbedaan filosofi desain dan teknologi yang digunakan dalam konstruksinya.

F-16 adalah jet tempur ringan, bermesin tunggal, dan multi-peran, sedangkan Su-27 dan Su-30 adalah jet tempur berat, bermesin ganda, dan superioritas udara. Perbedaan desain ini menyebabkan variasi dalam kemampuan kinerja, kemampuan manuver, dan karakteristik penerbangan secara keseluruhan.

Aspek ketidakcocokan lainnya terletak pada sistem avionik dan senjata yang digunakan oleh pesawat ini. Hal ini dapat mengakibatkan masalah komunikasi, kesulitan dalam berbagi data, dan tantangan dalam mengoordinasikan misi atau operasi bersama.

Selain itu, ketidakcocokan juga meluas pada pemeliharaan dan dukungan logistik. F-16, Su-27 Rusia, dan Su-30 memiliki persyaratan perawatan, suku cadang, dan sistem pendukung yang berbeda. Hal ini dapat menimbulkan tantangan ketika melakukan latihan atau operasi bersama, karena ketersediaan sumber daya yang diperlukan mungkin berbeda-beda.

Dalam hal penerbangan bersama, ketidakcocokan antar pesawat ini dapat mengakibatkan kesulitan dalam mengoordinasikan taktik, formasi, dan perencanaan misi secara keseluruhan. Karakteristik kinerja yang bervariasi, seperti kecepatan, jangkauan, dan kemampuan ketinggian, dapat membatasi efektivitas operasi gabungan.

Selain itu, perbedaan dalam kemampuan radar dan sistem peperangan elektronik dapat menghambat koordinasi efektif dan kesadaran situasional, sehingga berpotensi membahayakan keberhasilan misi gabungan.

Dalam kasus di atas, Vietnam dapat bercermin dari kasus Indonesia dan Malaysia. Seperti Indonesia yang satu dekade lebih mengoperasikan dua plaform jet tempur utama, yakni dari Rusia dan Amerika Serikat, dalam hal ini Sukhoi Su-27/Su-30 series dan F-16 Fighting Falcon. Sementara Malaysia, mengadopsi Su-30MKM dengan jet tempur Barat, F-18 Hornet dan Hawk series.

Baca juga: RV-02 – Radar Pendeteksi Target Stealth Produksi Dalam Negeri Vietnam, Bukan Prototipe!

Meski toh mendapat dukungan penjualan dari AS, bila toh Vietnam akhirnya mengikuti jejak Indonesia dan Malaysia, maka penting bagi Vietnam untuk bersiap menanggung beban biaya logistik dan perawatan yang besar dari operasional dua platform penempur beda kubu teknologi tersebut. (Gilang Perdana)

6 Comments