AS ‘Akhirnya’ Setujui Turki Beli 40 Unit F-16 Viper dan 79 Paket Modernisasi Senilai $23 Miliar, Ironisnya Yunani Diizinkan Beli 40 Unit F-35A Senilai $8,6 Miliar

Perasaan dongkol mungkin tengah dialami oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan. Betapa tidak, setelah secara dramatis menyetujui masuknya Swedia sebagai anggota NATO, dan kemudian diganjar imbalan oleh AS dengan persetujuan pembelian 40 unit F-16 Block 70 Viper dan modernization kits untuk 79 unit F-16 eksisting ke konfigurasi Viper, senilai US$23 miliar. Namun pahitnya AS secara bersamaan juga memberi lampu hijau bagi Yunani untuk membeli sesuatu yang amat diidamkan dan ‘terlarang’ dibeli oleh Turki.

Baca juga: Turki Terjebak dan Frustasi dalam Pilihan Jet Tempur yang ‘Tidak Jelas’, F-16 Viper dan Eurofighter Typhoon

Persisnya AS telah meloloskan permintaan Yunani untuk bisa membeli 40 unit jet tempur stealth F-35A Lightning II senilai US8,6 miliar.

Dikutip PBS News Hour (27/1/2024) Departemen Pertahanan AS telah memberi tahu Kongres tentang persetujuannya atas penjualan F-16 Viper senilai $23 miliar ke Turki, bersama dengan penjualan jet tempur canggih F-35 ke Yunani senilai $8,6 miliar, pada Jumat malam. Langkah ini dilakukan hanya beberapa jam setelah Turki menyerahkan “instrumen ratifikasi” untuk aksesi Swedia ke NATO, yang merupakan gudang dokumen aliansi dan setelah beberapa anggota penting Kongres mencabut keberatan mereka.

Penjualan ke Turki mencakup 40 unit F-16 baru dan peralatan untuk memodernisasi 79 armada F-16 yang ada. Penjualan ke Yunani mencakup 40 F-35 Lightning II Joint Strike Fighters dan peralatan terkait.

Sekutu NATO, Turki, telah lama berupaya untuk meningkatkan armada F-16 dan meratifikasi keanggotaan Swedia bergantung pada persetujuan penjualan pesawat baru tersebut. Pemerintahan Biden mendukung penjualan tersebut, namun beberapa anggota parlemen menyatakan keberatan karena isu hak asasi manusia.

Keberatan tersebut, termasuk dari ketua dan anggota senior Komite Hubungan Luar Negeri Senat, Senator Ben Cardin, D-Md., dan Jim Risch, R-Idaho, kini telah diatasi, kata para pejabat.

Cardin mengatakan dalam pernyataannya pada hari Jumat bahwa dia masih memiliki kekhawatiran mengenai catatan hak asasi manusia di Turki, namun menyetujui penjualan tersebut berdasarkan komitmen yang telah dibuat Turki untuk memperbaikinya. “Saya berharap dapat memulai babak baru dalam hubungan kita dengan Turki, memperluas aliansi NATO, dan bekerja sama dengan sekutu global kita dalam melawan agresi Rusia yang sedang berlangsung terhadap negara-negara tetangganya yang damai,” katanya.

Turki telah menunda persetujuan keanggotaan Swedia di NATO selama lebih dari setahun, dengan alasan karena mereka yakin Swedia tidak menganggap serius masalah keamanan nasional Turki, termasuk perjuangannya melawan militan Kurdi dan kelompok lain yang dianggap Ankara sebagai ancaman keamanan.

Penundaan ini telah membuat frustrasi AS, dan sekutu NATO lainnya, yang hampir semuanya dengan cepat menerima Swedia dan Finlandia ke dalam aliansi tersebut setelah negara-negara Skandinavia tersebut melepaskan netralitas militer mereka yang telah lama ada setelah invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022.

Aksesi formal Swedia ke NATO kini bergantung pada Hungaria, yang merupakan sekutu NATO terakhir yang belum menyetujui keanggotaannya. Para pejabat AS dan NATO mengatakan mereka memperkirakan Hungaria akan bertindak cepat, terutama setelah keputusan Turki.

Sementara dengan persetujuan AS menjual F-35A ke Yunani, secara telak merupakan pukukan bagi Turki, pasalnya kekuatan udara antara Turki dan Yunani yang kerap berkonflik di perbatasan, menjadi kian tidak imbang. Saat ini, Angkatan Udara Yunani telah diperkuat jet tempur Dassault Rafale, yang sebagian unitnya dibeli bekas pakai dari Perancis. Selain itu Yunani juga mengoperasikan F-16 Viper (hasil upgrade), Mirage 2000 dan F-4 Phantom,

AU Yunani Terima Dua Unit Perdana F-16 Viper Hasil Upgrade, Turki ‘Tertinggal’

Sebaliknya Angkatan Udara Turki, saat ini hanya bertumpu pada armada F-16 Fighting Falcon seri lama dan jet tempur F-4 Phantom ‘Terminator. Komposisi kekuatan udara Yunani dan Turki yang tidak imbang jelas membuat cemas Ankara. Di satu sisi pengembangan jet tempur stealth KAAN yang akan terbang perdana pada Maret 2024, masih butuh proses dan waktu panjang untuk siap diserahkan ke angkatan udara.

Sengkarut hubungan Turki dan AS dimulai pada tahun 2017, yakni ketika Turki menyepakati pembelian sistem hanud S-400 dari Rusia, yang pada akhirnya mendepak anggota senior NATO itu dari program pengembangan dan akuisisi jet tempur stealth F-35 Lightning II. (Gilang Perdana)

8 Comments