Anomali, Insiden Roda Pendarat Hidung F-35C Milik USMC ‘Nyungsep’ Saat Tengah Diparkir

Mungkin karena saking canggihnya, jet tempur stealth generasi kelima F-35 kerap mengalami serangkaian anomali. Seperti beredar kabar F-35C Lightning II Korps Marinir AS (USMC) yang mengalami nose landing gear collapse saat tengah diparkir. Seperti dikutip theaviationist.com (13/2/2024), F-35C yang mengalami insiden itu berasal dari Marine Fighter Attack Squadron (VMFA) 311 yang berbasis di Pangkalan Udara Korps Marinir Miramar, California.

Baca juga: Selain Borong Jet Tempur F-35B, Singapura Juga Tertarik dengan F-35A dan F-35C

Insiden nose landing gear collapse terjadi saat pilot sedang turun dari pesawat, yakni sesaat pesawat telah menyelesaikan misi pelatihan. Menurut pembaca theaviationist.com yang tidak mau disebutkan namanya, saat kejadian, pesawat tempur produksi Lockheed Martin tersebut tengah berada di Pangkalan Udara Angkatan Laut Fallon, Nevada.

Masih dari sumber yang sama, dikatakan F-35C yang mengalami insiden di atas adalah F-35C dengan nomer CF-89/170109, dengan kode “WL-04”. Pesawat diparkir di bawah shelter setelah kembali dari penerbangan pelatihan yang lancar pada 26 Januari 2024.

Menurut laporan belum terverifikasi,, setelah mematikan pesawat tanpa masalah, pilot mulai menuruni tangga ketika roda pendaratan hidung mulai mundur perlahan secara otomatis.

Setelah mencapai posisi tengah, roda pendarat hidung (nose landing gear) roboh sepenuhnya. Foto-foto tersebut menunjukkan pesawat bertumpu pada Electro-Optical Targeting System’s glass fairing, tanpa kerusakan yang signifikan. Ini adalah pertama kalinya roda pendaratan hidung F-35C dilaporkan “runtuh”, karena insiden serupa sejauh ini hanya terjadi pada varian F-35 A dan B.

(F-35C)

Meski F-35B dengan kemampuan short take off/vertical landing (STOVL) juga beroperasi di kapal induk, namun F-35C lebih difokuskan untuk beroperasi dari kapal induk dengan teknik lepas landas menggunakan catapult. Dengan teknik take-off normal khas kapal induk konvensional, menjadikan F-35C punya jangkauan terbang lebih jauh (long range).

Di lingkung penempur bermesin tunggal yang beroperasi dari kapal induk, F-35C dapat membawa 22.000 lbs bahan bakar intrnal (setara 9.997 kg), dan punya jangkauan terbang lebih dari 1.200 nautical mile (setara 2.222 km). Memungkinkan bagi penempur ini untuk terbang lebih lama sebelum pengisian bahan bakar (air refueling) dilakukan.

Dibandingkan varian F-35A dan F-35B, maka lebar bentang sayap F-35C lebih besar, yaitu 13,1 meter. Sebagai perbandingan lebar bentang sayap varian F-35A dan F-35B adalah 10,7 meter. Dan seperti lazimnya penempur yang terlahir untuk beroperasi di kapal induk, maka ujung sayap F-35C dapat dilipat untuk menghemat ruang penyimpanan pada dek/hanggar di kapal induk.

Bakal mengalami hentakan lebih besar saat pendaratan di kapal induk, Lockheed Martin merancang roda pendarat F-35C dengan struktur lebih kuat dan cocok untuk pelepasan (peluncuran menggunakan catapult). Satu hal yang mudah dilihat, landing nose gear F-35C mengusung dua roda, berbeda dengan F-35A dan F-35B dengan satu roda. (Gilang Perdana)

Nyemplung di Laut Cina Selatan, Inilah yang Khas dari Jet Tempur Stealth F-35C

4 Comments