Seputar DSEI 2019Klik di Atas

“Altair,” Prototipe Drone Tempur HALE Rusia dengan Dua Mesin Propeller

Guna mengejar ketertinggalan dalam rancang bangun dan implementasi drone dibandingkan Amerika Serikat, maka Rusia dalam beberapa tahun belakangan begitu ambisius dalam melanjutkan riset drone yang sempat mandeg akibat krisis ekonomi. Sebagai bukti, prototipe drone tempur alias UCAV (Unmanned Combat Aerial Vehicle) Sukhoi S-70 telah sukses uji terbang perdana pada 3 Agustus 2019.

Baca juga: Sukhoi S-70 Okhotnik, Drone Tempur Stealth Sukses Terbang Perdana dengan Mesin Turbofan ‘Milik” Su-27

Dan masih di segmen UCAV, Kementerian Pertahanan Rusia belum lama ini merilis video uji terbang prototipe drone intai tempur dengan mesin propeller.

Seperti dikutip dari popularmechanics.com (22/8/2019), disebutkan Kementerian Pertatahan Rusia telah merilis video yang memperlihatkan uji terbangdrone yang disebut sebagai Altair/Altius-U. Debut riset drone ini sejatinya telah terendus beberapa tahun lalu, namun baru kali ini Altair unjuk uji terbang dan dipublikasikan.

Dalam aspek drone intai, Rusia yang selama ini tertinggal dari AS, menjatuhkan harapan pada Altair-U untuk menandingi kemampuan drone intai canggih RQ-4 Global Hawk. Memang Altair-U masuk kualifikasi drone HALE (High Altitude Long Endurance). Pihak Kemhan Rusia menyebut Altair-U dapat terbang selama 24 jam terus-menerus.

Meski spesifikasi Altair-U belum dirilis, namun pihak Kemhan Rusia memberi clue tentang drone ini. Pertama bobot total Altair-U yang disebut mencapai 6 ton, sementara bobot payload untuk senjata dipersiapkan sampai kapasitas 1 ton.

Beberapa media local Rusia menyebut bahwa panjang Altair-U mencapai 11 meter dan punya lebar bentang sayap 28 meter. Dalam sesi uji coba terbang perdana, drone ini dapat melalui test terbang selama 32 menit pada ketinggian 800 meter.

Dilihat sekilas, Altair-U mirip dengan drone tempur rancangan Turki, Akinci, dimana kedua drone  mengusug tenaga dari dua mesin propeller.

Dari tayangan di video terlihar Altair dilengkapi dua hard point senjata, itu bisa menandakan kemampuan untuk membawa sensor pod, terutama synthetic aperture radar yang mampu “melihat” meski cuaca buruk dan melihat objek di tanah.

Pada 2015, sebuah prototipe Altair pernah disebut ditenagai dua mesin Red A03 yang diimpor dari Jerman, masing-masing mesin menyediakan 500 tenaga kuda. Jika itu benar adanyam maka tenaga Altair jauh lebih besar dari MQ-9 Reaper yang bermesin tunggal.

Baca juga: Northtrop Grumman MQ-4C Triton – Drone Intai Maritim HALE, Pengganti P-3C Orion Australia

Militer Rusia kini tengah mempelajari kesalahan yang dibuat di Suriah dan berusaha untuk melepaskan ketergantungan terhadap penggunaan alutsista asing. Seperti diketahui, di segmen drone, Rusia masih mengoperasikan produk impor, seperti Aerostar yang notabene adalah buatan Aeronautics Defense Systems, Israel. (Nurhalim)

34 Comments