Airbus Kirim Unit Perdana C-295 Pesanan AU India, Jadi Contoh Program ToT Maksimal
|Lewat kontrak senilai US$3 miliar, India langsung menggeser posisi Indonesia sebagai operator terbesar pesawat angkut C-295 di Asia Pasifik. Bahkan dengan pesanan total 56 unit, maka India otomatis menjadi operator C-295 terbesar di dunia. Varian untuk India pun diberi kode khusus C-295MW. Dan belum lama berselang ada kabar bahwa unit perdana C-295MW telah dikirimkan oleh Airbus ke Angkatan Udara India.
Dari markasnya di Seville, Spanyol. Airbus Defense and Space (ADS) telah secara resmi menyerahkan pesawat C-295MW pertama dalam kondisi fly-away kepada Angkatan Udara India (IAF) untuk mulai menggantikan armada Avros-748 yang sudah tua.
C-295MW, dalam konfigurasi transportasi yang dilengkapi sistem peperangan elektronik asli produksi India, akan meninggalkan lokasi produksi Airbus di Seville, Spanyol, menuju Delhi, India, dalam beberapa hari ke depan, dikemudikan oleh awak gabungan dari Angkatan Udara India dan Airbus.
“Baru dua tahun lalu kami menandatangani kontrak ini dengan India, pesanan terbesar dalam sejarah C295,” kata Jean-Brice Dumont, Kepala Sistem Udara Militer Airbus, dalam upacara pengiriman yang diadakan di Seville di hadapan Duta Besar India untuk Spanyol Dinesh K. Patnaik dan Panglima Udara IAF Marsekal Vivek Ram Chaudhari.
16 unit pesawat C-295 pertama dari 56 pesawat yang dipesan akan dirakit di lokasi San Pablo Sur di Seville, Spanyol, dengan pesawat kedua akan dikirimkan pada Mei 2024 dan 14 pesawat berikutnya akan diluncurkan dengan interval satu pesawat per bulan hingga Agustus. 2025.
C-295 ‘Make in India’ pertama Hadir di Tahun 2026
Untuk meningkatkan kemandirian sektor manufaktur pertahanan di India, sisa 40 unit C-295 pesanan AU India akan diproduksi dan dirakit di India oleh Tata Advanced Systems Limited (TASL) – di Jalur Perakitan Akhir – Final Assembly Line (FAL) di Vadodara, India bagian barat.
Produksi komponen pesawat ini telah dimulai di fasilitas Main Constituent Assembly (MCA) di Hyderabad, India selatan. Suku cadang ini akan dikirim ke Vadovara FAL, yang diharapkan dapat beroperasi pada November 2024.
C-295 ‘Make in India’ pertama akan diluncurkan dari Vadodara FAL pada bulan September 2026 dan akan menjadi tonggak sejarah bagi industri dirgantara India; pesawat terakhir diperkirakan akan dikirim ke AU India pada Agustus 2031.
Baca juga: TNI AU Sukses Ujicoba Darat Parachute Cargo Delivery System di Pesawat C-295M
Dengan 283 pesanan dari 41 operator, C-295 adalah pemimpin di segmennya dan menonjol karena keserbagunaannya. Pesawat ini dapat membawa hingga 71 tentara atau 50 pasukan terjun payung, kargo penerjunan udara, digunakan untuk evakuasi medis dan lepas landas dan mendarat di landasan pendek dan tidak beraspal. (Gilang Perdana)
@agato
Pidato buat meningkatkan pride tapi menutup realita sebenarnya
Gw kagum dengan prestasi beliau yang memajukan IPTN tetapi ane tidak menutup mata bahwa program N250 yang jadi kebanggaan beliau juga berperan menghancurkan IPTN karena penerapan teknologi yang terlalu cepat dan belum waktunya
Banyak program dirgantara yang terlalu maju di jamannya malah berakhir jadi museum karena banyak hal. Belum lagi fundamental ekonomi kita sejatinya lemah dan sudah diprediksi di awal 1990an
Masih lebih realistis langkah CASA yang lebih memilih mengembangkan CN235 menjadi C295
Biasa bang namanya jg propaganda. Malah di 1998 China sdh bisa buat J-11 kopian Su-27
@Hoo
Selera pasar itu dinamis bro……preferensinya belum tentu yg speknya paling tinggi, tapi bisa juga mana yg lebih cost-effective, maintenance nya lebih mudah karena spek ga ketinggian, lebih ekonomis, jenis muatannya nggak bulky tapi paletized dll
@ayam jago
Konteksnya lain bos…..Pak Habibie membahas ttg pengembangan teknologi pesawat komuter, kok larinya ke pesawat tempur ?
Dan dimasa tsb memang Indonesia paling depan dalam pengembangan teknologi pesawat komuter di kawasan asia (selain jepang)
Hohoho
Jadi ingat ucapan presiden ketiga kita yang menyebut Vijay & Sino tertinggal dibandingkan +62 tapi faktanya era Orla kita masih pesawat kitiran Capung workshop Nurtanio sedangkan Vijay & Sino sudah bisa bikin Mig-21
Heran juga pesawat ini kok bisa lebih laku dari C-27 Spartan, padahal secara spek lebih unggul Spartan
Hohoho
Ini adalah contoh nyata kalo beli banyak maka dapat TOT maksimal.
Kalo RI nggak mau beli banyak sekalian maka TOT pun hanya minim juga.
Terlebih lagi CN235 yang dibanggakan bisa tersingkir oleh C295 jika tidak ada kemauan keras dari pemerintah untuk membeli dalam jumlah banyak, setidaknya kita butuh CN235 sebanyak 39 unit untuk varian angkut dan 17 unit untuk varian MPA.