Seputar DSEI 2019Klik di Atas

Airbus Defence and Space Perkenalkan Teknologi Counter Drone (UAV)

cus_powerstation_700

Penggunaan drone/UAV (unmanned aerial vehicle) dipercaya bakal kian masif dalam beragam operasi pengintaian (surveillance). Selain ongkos gelaran yang lebih hemat, aksi drone juga tak menimbulkan potensi kehilangan nyawa personel. Selain terus memajukan teknologi pengoperasian drone, tak kalah penting juga adalah pengembangan teknologi anti drone itu sendiri. Seperti halnya bila kita mengedepankan teknologi kapal selam, selaras juga harus didukung penguasaan teknologi AKS (anti kapal selam).

Seperti dalam ajang DSEI (Defence and Security Equipment International) 2015 yang berlangsung di London, Inggris, pihak manufaktur Airbus Defence and Space (DS) memperkenalkan sistem canggih untuk mendeteksi dan menetralisir kehadiran UAV. Sistem ini resmi diperkenalkan pada 16 September lalu. Pihak Airbus DS dalam siaran pers mennyebut sistem anti drone ini dirancang dengan mengedepankan teknologi jamming dan mampu meminimalkan collateral demage dalam aksi tersebut. Flash back pada kasus ‘pembajakan’ drone AS Lockheed Martin RQ-170 Sentinel oleh Iran pada bulan Desember tahun 2011 lalu, maka aksi jamming drone bukan perkara mustahil.

Baca juga: Pulau Natuna Akan Dipersiapkan Sebagai Basis Drone UAV

Baca juga: Bakamla – Pantau Laut Indonesia Dengan Drone Helikopter

Sistem besutan Airbus ini menawarkan efektivitas tinggi dengan menggabungkan data sensor dari sumber yang berbeda dengan fusi data terbaru, analisis sinyal dan teknologi jamming. Plus masih dipasukan dengan radar operasional, kamera infra merah dan direction finders dari Airbus untuk mengidentifikasi pesawat tak berawak dan menilai potensi ancaman pada rentang dalam radius 5 hingga 10 Kilometer. Dalam aksinya, sistem Airbus akan menginterupsi sinyal dengan jammer dan akan mengambil kendali navigasi drone secara realtime. Pihak Airbus DS menyebut basis solusi ini adalah Smart Responsive Jamming Technology, dimana sistem jamming hanya mem-block frekuensi yang relevan digunakan dalam pengendalian drone. Secara keseluruhan, sistem kendali ini juga memanfaatkan GPS (global positioning system) spoofing.

iaf-uav

Baca juga: LSU-02 LAPAN – UAV Pertama yang Take Off dari Kapal Perang TNI AL

Baca juga: Robot Burung Flapping Wing Untuk Misi Pengintaian Tersamar

Baca juga: TOPX4-B132 – Prototipe Quadcopter UAV dari Dislitbang TNI AD

Sensor yang digunakan pada sistem anti drone ini adalah SPEXER 500, yakni radar active electronically scanned array (AESA) buatan Cassidian Electronics dan untuk kameranya mencomot jenis Z:NightOwl IR camera buatan Carl Zeiss Optronics

SPEXER 500 dirancang untuk digunakan dalam perlindungan kamp, parameter keamanan, dan perlindungan infrastruktur pada obyek vital. SPEXER 500 dikembangkan untuk melacak dan mendeteksi target yang terbang rendah di daerah dengan garis pandang terbatas, misalnya karena halangan bukit.Sementara kamera Z:IR Nightowl berupa sistem indra jarak jauh yang ditujukan untuk pengawasan perbatasan, garis pantai, dan infrastruktur penting. Bahkan bila dibutuhkan, sistem anti drone Airbus dapat dikombinasikan dengan MRD direction finder dan irbus DS VPJ-R6 multirole jammer. Bagaimana dengan kecepatan reaksi dari sistem anti drone ini? Untuk yang satu ini pihak Airbus menjamin reaksi bisa berlangsung amat cepat dibawah milidetik.

Baca juga: OS-Wifanusa – Prototipe Drone Pesawat Amfibi Untuk Misi Intai Maritim

Tanpa banyak publikasi, teknologi counter UAV telah diuji secara luas oleh Airbus DS pada ruangh private di wilayah Jerman dan Perancis. Rencananya, sistem anti drone ini akan resmi dioperasikan pada pertengahan tahun 2016. Mengingat Indonesia yang selama ini erat bermitra dengan Airbus, bukan tak mungkin nantinya sistem counter UAV ini ditawarkan ke Indonesia, apalagi potensi pengintaiain via drone di wilayah Indonesia cukup besar peluangnya. (Haryo Adjie)

.

One Comment