Seputar DSEI 2019Klik di Atas

Airbus A400M Atlas: Next Generation, Pesawat Angkut Berat Strategis TNI AU

800x600_1334772551_A400M_In

PPRC (Pasukan Pemukul Reaksi Cepat) menjadi ujung tombak TNI dalam gelaran unsur pemukul infanteri secara massif yang dapat dihadirkan dalam tempo singkat lewat platform lintas udara (linud) atau kondang dengan istilah airborne. Karena sifatnya yang reaksi cepat, elemen Batalyon Infanteri Linud diharuskan mampu diterjunkan di setiap titik wilayah Tanah Air sejak 24 jam perintah operasi dikeluarkan oleh Panglima TNI.

Guna mewujudkan perintah operasi linud, PPRC jelas butuh wahana yang tak lain adalah pesawat angkut berat, dalam hal ini merujuk ke jenis C-130 Hercules yang dinaungi Skadron Udara 31 dan Skadron Udara 32. Bisa disebut, identitas pasukan linud TNI memang identik dengan sosok C-130 Hercules. Sejarahnya lekatnya pasukan linud TNI dan C-130 Hercules sudah cukup lama mengakar. Meski di tahun 70-an belum ada istilah PPRC, namun penyerjunan pasukan payung besar-besaran telah dilakukan TNI AD dan Paskhas TNI AU dalam babak pembukaan operasi Seroja tahun 1975, sebagai target kala itu untuk menguasai obyek-obyek vital di kota Dili, Timor Timur.

Dalam konteks saat ini, PPRC dalam satu sortir dapat menerjunkan sekitar 560 paratroopers dari sepuluh unit C-130 Hercules. Tentu saja jumlah pasukan yang diterjunkan bisa berkurang bila ada pesawat yang mengalami kendala teknis. Memang masih ada unsur bantuan, semisal dari armada CN-235 dan C-295 yang berasal dari Skadron Udara 2, namun dalam skenario operasi PPRC dukungan dari kedua pesawat tersebut jarang dilibatkan secara maksimal. Pelibatan pesawat angkut dalam jumlah cukup banyak juga mengundang kerawanan, belum lagi gelaran pesawat dalam jumlah banyak dipandang kurang efisien dari segi biaya operasional.

Baca juga: C-295M – Pesawat Angkut Taktis Lapis Kedua TNI AU

151603_pesawat-airbus-a400m-di-halim-perdanakusuma_663_382151611_pesawat-airbus-a400m-di-halim-perdanakusuma_663_382151606_pesawat-airbus-a400m-di-halim-perdanakusuma_663_382A400M-1

Kiprah C-130 Hercules tentu masih sangat diunggulkan, dan tidak ada yang meragukannya. Namun, dalam konteks gelar dan pergeseran pasukan, idealnya TNI AU minimal punya lima skadron angkut berat. Maklum, peran pesawat angkut berat terbilang strategis di Republik ini, tak hanya handal untuk misi milter, kiprahnya juga sangat dominan dalam operasi militer bukan perang.

Baca juga: KC-130B Hercules – Tingkatkan Endurance Jet Tempur TNI AU

Melihat peluang kebutuhan TNI akan hadirnya pesawat angkut berat yang punya volume lebih besar dari C-130 Hercules, mendorong Airbus Military cukup serius menawarkan jagoannya yakni Airbus A400M Atlas ke Indonesia. Hingga kini Airbus A400M masih dalam kajian Kemenhan untuk opsi pembelian. Mengutip dari Tempo.co (18/4/2012), mantan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyatakan Indonesia tidak akan membeli pesawat Airbus Military A400M hingga 2015. “Kalaupun ada pembelian, tidak dengan anggaran sampai 2015,” kata Purnomo. Pesawat Airbus A400M akan diteliti kemampuan dan kapabilitasnya. Setelah 2015, barulah Indonesia akan menentukan apakah akan membeli pesawat ini atau tidak.

151612_pesawat-airbus-a400m-di-halim-perdanakusuma_663_3827424857_20141203032855800x600_1342130400_A400M-caairbus-a400m-cargo-bay-05-7

Pihak Airbus Military memang lumayan gencar mengadakan pendekatan, beberapa kali A400M hadir di Tanah Air. Pertama kalinya mendarat di Lanud Halim Perdanakusuma pada 18 April 2012. Dan, belum lama juga hadir menyertai rombongan pesawat demo Rafale pada 23 Maret 2015 lalu di Lanud Halim Perdanakusuma. Pihak pabrikan yang dimotori militer Perancis terbilang gencar melibatkan promo A400M dalam dukungan beberapa operasi militer Perancis, seperti di kawasang Afrika.

Airbus A400M Atlas
Ditilik dari kemampuan angkut dan jangkauan, Airbus A400 berada di antara pesawat angkut strategis C-17 Globemaster III dan C-130J Hercules. Dari sisi teknologi, Atlas punya inovasi tinggi dengan adopsi sistem kemudi fly by wire yang memudahkan penerbangan, sistem forward facing crew cockpit yang membuat operasi penerbangan efisien, dan ruang kabin terbesar yang memungkinkan peberbangan jarak jauh menjadi lebih hemat. Karena sudah serba terkomputerisasi, A400M hanya membutuhkan tiga awak, yakni pilot, kopilot dan loadmaster.

Sistem kendali dengan fly by wire.
Sistem kendali dengan fly by wire.
Mampu mengangkut helikopter Super Cougar.
Mampu mengangkut helikopter Super Cougar.

Sebagai pesawat angkut berat, A400M punya ruang kargo dengan lebar 4 meter, tinggi 3,85 meter, dan panjang 17,71 meter, pesawat ini mampu mengangkut kargo dalam berukuran besar seperti helikopter NH90 atau CH-470 Chinook atau dua buah kendaraan pengangkut infanteri Stryker. A400M juga bisa mengangkut truk semitrailer dengan peti kemas berukuran 6,906 meter. Kapasitas muatan keseluruhan mencapai 37 ton.

Nah, guna mendukung operasi linud PPRC, ruang kabin A400M bisa dimuati hingga 160 560 paratroopers. Sementara bila digunakan untuk misi medical evacuation (Medevac), A400M bisa memuat 66 usungan dengan membawa 25 tenaga medis. Keunggulan lainnya, A400M dilengkapi perangkat air refuelling (isi bahan bakar di udara), dan pesawat ini juga dapat disulap sebagai pesawat tanker.

A400M-F-18-refuelingA400M-C-160-AAR_high

Airbus A400M sejatinya adalah sebuah proyek Future International Military Airlifter yang dicanangkan Aerospatiale, Britih Aerospace, Lockheed, dan Messerschmitt Bolkow Blohm, untuk menggantikan C-130 Hercules dan C-160 Transall. Pesawat ini diyakini bisa menggaet customer yang merasa berat jika harus membeli C-17 tapi merasa nanggung jika harus memilih C-130.

Baca juga: C-130H MP Hercules – Pesawat Intai Maritim TNI AU Dengan Kemampuan Long Endurance

Dengan seabreg kemampuannya, wajar bila Airbus A400M banyak membuat calon operator kepincut. Tapi sayang banyak keinginan pembeli pupus lantaran harga A400M yang sangat mahal. Sebagai perbandingan, C-130J dibanderol US$62 juta, sementara A400M ada di kisaran US$175 juta per unit. Tentu saja pihak Airbus berdalih, harga bergantung pada opsi yang dipesan setiap customer. Hingga kini, 174 unit A400M telah di order dan beberapa sudah mengudara. Yang cukup mengejutkan, Malaysia sudah memesan 4 unit A400M, dengan pengiriman unit perdananya dikirim pada Januari 2015. (Gilang Perdana)

Spesifikasi Airbus A400M Atlasspek-1spek-2spek-3spek-4

14 Comments