Seputar DSEI 2019Klik di Atas

Airbag System: Beginilah Cara Kapal Perang Diluncurkan ke Laut

Masih ingat ketika KCR (Kapal Cepat Rudal) KRI Klewang 625 meluncur dari galangan PT Lundin Indusry Invest pada tahun 2012, atau saat LST (Landing Ship Tank) KRI Teluk Bintuni 520 meluncur ke laut dari galangan PT Daya Radar Utama, meski kedua kapal punya perbedaan tonase yang signifikan, namun keduanya punya persamaan, yaitu diluncurkan ke laut menggunakan airbag system. Ya, boleh dibilang sebagian besar galangan kini meluncurkan kapal yang telah rampung konstruksinya menggunakan bantalan karet.

Baca juga: KRI Teluk Bintuni 520 – LST Terbesar Satuan Kapal Amfibi TNI AL

Teknologi menaikkan dan menurunkan kapal dengan menggunakan airbag system sudah banyak dipergunakan oleh galangan kapal di Indonesia, baik untuk kebutuhan sipil dan militer. Dari sejarahnya, Airbag system pertamakali digunakan pada 20 Januari 1981 di galangan kapal Xiao Qinghe di kota Jinan provinsi Shangdong Cina, pada saat itu airbag digunakan untuk meluncurkan barge dengan ukuran 60 DWT.

airbag.

Baca juga: KRI Klewang – Andalkan Desain “Ikan Cucut” Serta Stealth Capabilities

Penggunaan airbag system punya beberapa keunggulan dibanding slipway system yang mengadopsi konstruksi rel. Pastinya dalam hal investasi, airbag system jauh lebih murah ketimbang membangun konstruksi rel yang permanen. Penggunaan airbag system mampu menurunkan 41 persen jam operasi dibanding slipway. Untuk urusan investasi, airbag system lebih rendah 37 persen dibanding slipway. Sementara produktivitas meningkat 69 persen untuk kegiatan docking.

Proses peluncuran KRI Teluk Bintuni 520 dengan airbag system.

Airbag generasi pertama dibuat dengan menggunakan kanvas yang dicelupkan ke dalam karet sebagai lapisan penguat untuk membentuk ruang udara, namun pada jaman sekarang teknologi pelapisan utuh digunakan oleh manufakturnya. Airbag yang ada saat ini lebih kuat 15x daripada airbag generasi pertama. Beberapa galangan kapal yang ada di Indonesia sudah menggunakan airbag sebagai sarana untuk peluncuran kapal yang telah dibangun, selain itu airbag juga digunakan sebagai sarana untuk menaikkan kapal yang akan direparasi dan menurunkan kapal yang telah direparasi.

Baca juga: PT Karimun Anugrah Sejati Luncurkan Dua Kapal Patroli PC-40 untuk Satrol Koarmabar

Bahan dasar airbag sendiri berupa lapisan rubber, lebih tepatnya disebut lapisan synthetic cord reinforced rubber, yakni jenis airbag silinder dengan ujung-ujung kepalanya berbentuk hemispherical. Ada sekitar 250 perusahaan galangan kapal yang ada di Indonesia dan yang paling banyak terdapat di Batam. Galangan kapal yang ada di Batam sudah banyak yang menggunakan fasilitas airbag, tidak hanya digunakan untuk proses docking dan undocking tetapi juga digunakan untuk peluncuran kapal yang sudah selesai dibangun. Selain di Batam airbag juga sudah banyak digunakan di Pulau Kalimantan dan di basis maritim Surabaya.

Baca juga: [Virtual Tour] Dermaga Ujung Koarmatim – Jantung Kekuatan Armada TNI AL

Pada 26 September 2014 lalu, PT Dok & Perkapalan Kodja Bahari (DKB) meluncurkan LST KRI Teluk Kendari 518 dengan menggunakan airbag system. Dalam proses peluncuran tersebut dipergunakan 24 unit airbag milik PT. Smart, yang terdiri dari 10 unit ukuran panjang 14 meter, diameter 1,8 meter dan 14 unit Airbag ukuran panjang 12 meter diameter 1,5 meter. Alat-alat pendukung yang diperlukan seperti 2 Unit Tug Boat, 1 Unit Speed Boat, Compressor, Alat-alat Angkat seperti Crane dan Forklift, Safety Concerte Block, Winch, dll yang disiapkan oleh Galangan – I.

Untuk proses peluncuran Kapal KRI Teluk Kendari 518 yang beratnya sekitar 2.600 Ton (Displacement) dan kemiringan landasan luncur sekitar 2,6 derajat termasuk kemiringan yang cukup tajam untuk teknik peluncuran dengan airbag. Sehingga diperlukan kehati-hatian dan persiapan serta perhitungan yang matang sebelum proses peluncuran dilaksanakan. (Bayu Pamungkas)

10 Comments