Ada “Anjing Nica” di Drone Intai Taktis Sperwer Belanda, Terkait Sejarah Kelam Indonesia

(Twitter @odydc)

Sebuah drone intai dengan mesin propeller tergantung di sling kabel pada langit Museum Militer Nasional Belanda di Verlengde Paltzerweg 1 3768 MX Soest. Selain dari desain, rupanya ada label tulisan yang tak kalah menarik perhatian tertera pada bodi drone itu, yakni “Anjing Nica.” Dari dua kata pada label itu, maka Nica terbilang lekat dalam ingatan sejarah bangsa Indonesia.

Baca juga: Spy Ranger 330 – Melihat Langsung Kemampuan Drone Intai Andalan Militer Perancis

Diposting oleh akun X Ody Dwicahyo – @odydc, drone dengan label Anjing Nica tak lain adalah Sperwer Tactical Unmanned Aerial Vehicle. Sperwer adalah produksi Sagem, manufaktur elektronik dan alat pertahanan dari Perancis. Drone ini dikendalikan dari jarak jauh dan dapat terbang sampai ketinggian lebih dari 16.000 kaki (4.876 meter) selama lima jam.Drone ini dapat mengirim kembali gambar target hingga 150 kilometer jauhnya dari ground control station.

Sperwer saat ini ini digunakan oleh Angkatan Darat Perancis (61e régiment d’artillerie), Angkatan Udara Kerajaan Belanda, Angkatan Udara Swedia, Garda Nasional Udara Amerika Serikat dan militer Hellenic (Yunani). Sebagai catatan, Belanda, Kanada, dan Swedia, telah memensiunkan penggunaan drone ini beberapa tahun lalu.

Angkatan Bersenjata Kanada mengoperasikan Sperwer di Afghanistan antara tahun 2003 dan misi terakhirnya pada tanggal 18 April 2009 ketika digantikan dengan drone IAI Heron buatan Israel.

Denmark juga membeli Sperwer, tetapi serangkaian masalah memaksa Kementerian Pertahanan membatalkan program tersebut dan menjual sisanya ke Kanada. Kanada sendiri menghapuskan Sperwer dari penggunaan di garis depan pada tahun 2009, sementara Belanda menghentikan penggunaan drone Sperwer di garis depan pada bulan Maret 2009.

Sagem merancang Sperwer dalam dua varian, Sperwer B (Sparrow Hawk B) adalah drone intai taktis dengan daya tahan lama dan varian dari Sperwer A (sebelumnya disebut Sperwer). Sperwer B dapat digunakan untuk misi jangka panjang seperti pengawasan medan perang, sebagai relay komunikasi atau dipersenjatai untuk misi tempur.

Versi desain sementara prototipe pertama kali terbang di Mourmelon pada tahun 2001 dan penerbangan pertama Sperwer B dilakukan pada tahun 2004. Dibandingkan dengan Sperwer A, versi B memiliki kapasitas muatan dua kali lipat, 100 kg untuk Sperwer B dan 50 kg untuk Sperwer A.

Payload yang dapat dibawa electro-optic / infrared sensors, electronic and communications intelligence (ELINT COMINT) and synthetic aperture radar (SAR). Sperwer B punya endurance dua kali lipat, 12 jam untuk Sperwer B dibandingkan 6 jam untuk Sperwer A.

Sperwer B memiliki rangkaian avionik digital canggih dengan datalink digital Ku band (15 GHz) dengan jangkauan 200 km, mode transponder / IFF 3C dan relai VHF dengan kontrol lalu lintas udara (ATC). Sperwer B sepenuhnya kompatibel dengan stasiun kendali darat bergerak Sperwer A. Dua kendaraan udara dapat dikendalikan secara bersamaan dari satu ground control station (GCS).

GCS dilengkapi dengan teknologi canggih termasuk perencanaan misi 3D, sistem informasi geografis dan koneksi serta interoperabilitas dengan jaringan C4I.

Sistem pada drone Sperwer telah menyematkan sensor untuk kemampuan penembak. Sayap delta ganda dapat dilengkapi dengan tiang di bawah sayap yang dapat membawa muatan seberat 60kg (masing-masing 30kg). Tiang-tiang ringan ini dapat membawa roket atau rudal yang diluncurkan dari udara.

Muatan senjata dapat mencakup rudal anti-tank Rafael Spike-LR dan amunisi dari Nexter/BAE Systems Bofors. Spike-LR memiliki jangkauan 4.000 meter dan panduan serat optik/pencitraan inframerah. Sperwer diluncurkan menggunakan katapel pelontar (catapult pneumatic).

Baca juga: Perancis Rilis ‘Aarok’ – Drone Tempur (UCAV) Pertama Produksi Dalam Negeri

Tentang Anjing Nica
Anjing Nica adalah sebutan untuk Batalyon Infanteri V Belanda, atau terkenal dengan sebutan Batalyon Andjing NICA. Yakni sebuah batalyon dari Tentara Kerajaan Hindia Belanda – Koninklijk Nederlands Indisch Leger (KNIL) yang beroperasi antara tahun 1945-1950, di bawah komando Administrasi Sipil Hindia Belanda – Netherlands Indies Civil Administration (NICA) terutama di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Batalyon ini menggunakan badge ‘anjing menyalak’ sebagai identitas batalyonnya,

Badge satuan "Anjing Nica".

Batalyon ini disegani karena keberanian dan kekejamannya dalam operasi kontra gerilya di Indonesia dan turut serta dalam Agresi Militer I dan Agresi Militer II. Batalyon ini kemudian ditugaskan ke di Banjarmasin hingga saat pembubarannya, yaitu sesuai dengan keputusan Konferensi Meja Bundar, di mana sebagian anggota batalyon bergabung dengan Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS), sebagian memilih demisioner, dan sebagian lagi bergabung dengan militer Belanda. (Bayu Pamungkas)

One Comment