ACES II – Mengenal Teknologi Kursi Pelontar di Jet Tempur F-16 Fighting Falcon

Masih terkait dengan kecelakaan yang menimpa jet tempur F-16CM AU AS di Lanud Shaw pada 30 Juni lalu, sang pilot, Letnan David Schmitz dari 77th Fighter Squadron disebut-sebut meninggal dunia sesaat dilarikan ke Rumah Sakit Prisma Tuomey. Sejauh ini, belum diperoleh informasi, apakah pilot sempat melontarkan diri dengan kursi pelontar (ejection seat) atau tidak. Keterangan sementara dari pihak Lanud Shaw, menyebut pesawat jatuh lantaran roda pendarat tidak berfungsi dengan normal saat pendaratan. Dan, setiap terjadi insiden kecelakaan atas pesawat tempur, kembali kinerja kursi pelontar menjadi salah satu yang menjadi sorotan publik.

Baca juga: Jet Tempur F-16CM AU AS Jatuh di Sarang โ€œViper,โ€ Pilot Dilaporkan Tewas

Dan bicara tentang kursi pelontar di F-16 Fighting Falcon, khususnya F-16CM, yang digunakan adalah jenis Advanced Concept Ejection Seat (ACES) II. Seperti halnya kursi lontar Martin Baker MK10 yang terpasang di jet tempur Hawk 109/209, ACES II yang diproduksi Collins Aerospace (bagian dari Raytheon Technologies) juga mengandalkan tenaga dorongan dari roket untuk menghempaskan kursi lontar ke udara.

Dirancang mampu menahan efek gravitasi 12g, kursi lontar ACES II dapat dilepaskan dalam tiga moda peluncuran, dimana pilihan moda peluncuran diserahkan pada konsol environmental sensor and recovery sequencer yang terdapat pada bagian belakang kursi. Konsol inilah yang akan mengidentifikasi penggunaan tiga moda peluncuran berdasarkan parameter kecepatan pesawat dan ketinggian lewat tabung pitot (mengukur perbedaan tekanan udara untuk menentukan kecepatan udara).

Moda pertama adalah peluncuran ejection seat pada ketinggian dan kecepatan rendah, ini ditandai pelepasan kursi lontar dengan kecepatan kurang dari 463 km per jam. Syarat moda pertama ini, ketinggian peluncuran tidak boleh lebih dari 4.527 meter. Kemudian moda kedua adalah peluncuran ejection seat pada ketinggian rendah namun kecepatan pesawat tinggi, ini ditandai pelepasan kursi lontar dengan kecepatan lebih dari 463 km per jam dan ketinggian peluncuran tidak lebih dri 4.527 meter. Dan yang terakhir, moda ketiga. adalah peluncuran ejection seat pada ketinggian dan kecepatan apa pun, moda ini dipilih saat pesawat di ketinggian lebih dari 4.527 meter.

Kapten Christopher, sukses melontarkan diri dengan ACES II pada 14 September 2003 dalam demo udara Thunderbirds di Idaho.

Pada prinsipnya, dengan dorongan roket, ACES II akan melepaskan kursi pelontar dengan kecepatan 1.111 km per jam, dimana lontaran roket akan menjauhkan kursi lontar dengan jarak 30 sampai 61 meter (bergantung pada berat tubuh pilot). Sesaat setelah kursi terlontar, tahapan selanjutnya adalah parasut yang akan mengembang.

Nah, pada peluncuran menggunakan moda satu, maka parasut akan mengembang dalam waktu kurang dari dua detik. Dan bila meluncur dalam moda kedua, maka parasut akan mengembang dalam waktu kurang dari enam detik. Untuk moda ketiga, pelepasan parasut akan ditunda hingga mencapai kondisi di moda kedua. Lantaran moda ketiga diluncurkan di atas 4.527 meter, maka pemisahan kursi pelontar akan mengakibatkan terputusnya oksigen darurat, dan juga kemungkinan menyebabkan guncangan saat pembukaan parasut karena kondisi atmosfer yang berbeda.

Tuas penarik ejection seat.

Meski saat ini ada varian baru, yaitu ACES 5, namun ACES II adalah yang paling banyak digunakan pada jet tempur dan pembom di AU AS. Mulai dari A-10 Thunderbolt II, F-15 Eagle, F-16 Fighting Falcon, F-22 Raptor,F-117 Nighthawk, dan pembom B-1 Lancer, adalah pengguna ACES II. Khusus di F-16, kursi lontar dipasang dengan sudut kemiringan sandaran mencapai kursi mencapai 30 derajat, sementara pada F-22 Raptor sudut kemiringan sandaran 22 derajat.

Baca juga: Zvezda K-36D โ€“ Mengenal Kursi Pelontar di Jet Tempur Sukhoi Su-27/Su-30

Dikutip dari science.howstuffworks.com, sampai Januari 1998, ada 463 proses ejection di seluruh dunia menggunakan sistem ACES II, dan lebih dari 90 persen dari ejeksi itu berhasil, sementara ada 42 korban jiwa yang gagal memanfaatkan fungsi ACES II. (Dwi Wiharto)

32 Comments