Abukuma Class – Destroyer Escort Jepang “Spesialis AKS” yang Ditawarkan Untuk Angkatan Laut Filipina

Setelah membentuk pakta pertahanan (Reciprocal Access Agreement – RAA) dengan Jepang pada pertengahan tahun 2024, otot alutsista Negeri Pinoy mulai terdongkrak untuk menghadapi Cina. Selain sistem rudal hanud Toshiba Type 81 yang ingin didapatkan Manila, kini ada kabar Jepang akan meningkatkan kemampuan angkatan laut Filipina dengan tawaran destroyer escort (kapal perusak kawal).
Seperti dikutip Japantimes.co.jp (6/7/2025), Jepang akan mengekspor destroyer escort bekas pakai ke Angkatan Laut Filipina untuk memperkuat pencegahannya terhadap ekspansi maritim Cina. Rencana ekspor tersebut melibatkan enam unit kapal perusak kawal Abukuma class yang saat ini dioperasikan Angkatan Laut Jepang – Japan Maritime Self-Defense Force (JMSDF) selama lebih dari tiga dekade.
Menteri pertahanan Jepang Jenderal Nakatani dan Menteri Pertahanan Filipina Gilberto Teodoro menyetujui ekspor kapal perusak kawal tersebut ketika mereka bertemu di Singapura bulan lalu, seraya menambahkan bahwa militer Filipina akan memeriksa kapal-kapal tersebut musim panas ini sebagai bagian dari persiapan akhir.
Delegasi pakar angkatan laut dari Filipina akan melakukan penilaian mendalam terhadap kapal-kapal tersebut, kata Angkatan Laut Filipina dalam sebuah pernyataan pada hari Minggu, menyusul undangan resmi dari Kementerian Pertahanan Jepang.

“Hasil inspeksi ini akan memandu pertimbangan lebih lanjut tentang potensi akuisisi dan penyelarasannya dengan upaya modernisasi Angkatan Laut Filipina,” katanya, seraya menambahkan bahwa inisiatif tersebut mencerminkan kemitraan strategis yang semakin mendalam antara Filipina dan Jepang.
Meski disebut destroyer escort, namun Abukuma class perannya setara dengan fregat atau korvet dalam klasifikasi NATO, hal tersebut dapat dilihat dari bobot penuh Abukuma class yang hanya sekitar 2.000 ton, dan paket persenjataan yang berada di bawah kelas perusak (DD) seperti Takanami atau Atago class.


Abukuma class mulai dioperasikan Angkatan Laut Jepang pada tahun 1989. Dari 11 yang dicanangkan untuk dibangun, hanya enam unit yang dibangun oleh galangan Mitsui Engineering and Shipbuilding Company Limited dan Sumitomo Heavy Industries.
Abukuma class destroyer escort dirancang untuk perang anti kapal selam (AKS) – Anti Submaribe Warfare (ASW) serta tugas patroli dan pengawalan laut di perairan sekitar Jepang, khususnya di wilayah pesisir dan laut terbatas (seperti Laut Jepang dan Laut Cina Timur). Untuk itu, Abukuma class dibekali sensor sonar haluan aktif dan pasif, serta sistem pengendalian tembak modern.
Abukuma class punya panjang 109 meter dan lebar 13 meter, sistem propulsi mengadopsi CODOG (Combined Diesel or Gas) – 2 gas turbin LM2500 + 2 diesel MTU dengan kecepatan maksimum 27 knots.
Diawaki sekitar 120–130 personel, Abukuma class dilengkapi persenjataan 1 × meriam OTO Melara 76 mm, 2 × peluncur torpedo triple (324 mm) untuk torpedo Mk 46 atau SH-60J, 1 × peluncur rudal permukaan-ke-udara RIM-7 Sea Sparrow (8 peluru kendali, untuk pertahanan titik), 1 x Type 74 (Mk-16) launcher untuk 8 RUR-5 ASROC anti-submarine rocket, 1 × sistem CIWS Phalanx 20 mm dan 1 helipad untuk helikopter SH-60J Seahawk.
Sebagai catatan, Abukuma class tidak memiliki hangar, hanya landasan helikopter (helipad). Abukuma class tidak dilengkapi VLS (Vertical Launch System), ini yang membedakannya dari kapal perusak utama Jepang.
Seluruh Abukuma class masih aktif, tapi mulai dianggap menuju akhir masa dinas. Belum diumumkan secara resmi kelas pengganti, tapi Angkatan Laut Jepang mulai lebih mengandalkan kapal perang jenis FFM (Frigate Multi-Mission) Mogami class yang lebih besar dan modular. (Gilang Perdana)
Mitsubishi Luncurkan JS Mogami, Heavy Frigate Impian Warganet Indonesia



Ya jelas ABUKUMA dibawah kemampuan REM CLASS tung.. Tung
Kita perlu Interim Alutsista di AU dan AL
destroyer = perusak
Escort = menemani atau mengawal
Destroyer escort = Perusak Kawal
Kalau ada rudalnya diberi nama Perusak Kawal Rudal.
Jadi ini setara PKR Sigma 10514 REM Class kita.
Malah jauh lebih kuat REM class kita yang cuma 2 unit. Hanya jumlahnya lebih banyak Abukuma class. Untuk mengimbangi bisa gunakan Diponegoro class 4 unit yang kita punya.
Kalo mau, kita bisa bikin lagi yang setara REM Class.
Kalau Indonesia punya peraturan & sistem keamanan kerahasiaan teknologi, apakah mungkin Indonesia bisa jadi tempat pembuatan alusista? Berhubung tenaga kerja lebih murah dari beberapa produsen alusista.
Misalnya perakitan pesawat Hercules atau pembuatan rudal Exocet blok rendah di Indonesia, kan jauh lebih murah.
Wah, Indonesia harus mengejar ketertinggalan dari Philipina dari ketertinggalan alutsista anti kapal selam. Parchim class dirasa sudah ketinggian zaman perlu diganti dengan Bergamini Class varian anti kapal selam.