30 Januari 2024, Ranpur APC Amfibi BTR-50P Mencapai 70 Tahun Pengabdian

30 Januari kemarin, sejatinya adalah tanggal sakral bagi ranpur amfibi (panser amfibi/pansam) BTR-50P, pasalnya ranpur APC (Armoured Personnel Carrier) amfibi legendaris tersebut itu telah mencapai usia pengabdian 70 tahun. Dari sejarahnya. BTR-50P adalah ranpur APC roda rantai pertama yang dioperasikan Angkatan Darat Soviet, dengan tanggal resmi penggunaan pada 30 Januari 1954. Dan tanggal tersebut dikenal sebagai hari jadi ranpur amfibi yang sampai saat ini masih dioperasikan Batalyon Kendaraan Pendarat Amfibi (Yonranratfib) Korps Marinir TNI AL.

Baca juga: ‘Turun Gunung’, Rusia Kerahkan Pansam BTR-50 dalam Perang Ukraina

BTR-50 (BTR singkatan dari Bronetransporter) adalah pengangkut personel lapis baja amfibi (APC) roda rantai era Soviet yang didasarkan pada sasis tank amfibi ringan PT-76. BTR-50 dikembangkan pada tahun 1952 dan mulai digunakan oleh Angkatan Darat Soviet pada tahun 1954, dan BTR-50 berhenti diproduksi Soviet pada tahun 1970.

BTR-50P kaya akan pengalaman tempur, debut tempur internasionalnya seperti pada pada perang Enam Hari, perang Yom Kippur, dan yang terbaru turut dilibatkan dalam perang Rusia-Ukraina. Sementara penugasan tempur di Indonesia sangat dominan dalam operasi Seroja dan operasi penumpasan GAM (Gerakan Aceh Merdeka).

BTR-50 memiliki kemampuan amfibi dan dapat bergerak di air dengan kecepatan 8 km per jam menggunakan sistem propulsi jet airnya. Ranpur ini digerakkan dengan mesin diesel 6 silinder yang memberikan kecepatan maksimum 80 km per jam di darat. Disukai oleh Korps Marinir, BTR-50 dapat memasuki air tanpa persiapan apa pun, dan daya apungnya disediakan oleh desain kendaraan dan sealed compartment. Pada umumnya BTR-50 berasal dari dua negara, yaitu BTR-50P dari Rusia dan BTR-50PK dari Ukraina.

BTR-50P (Browne Transporter 50 Palawa) adalah salah satu alutsista milik TNI-AL yang sudah berusia lanjut alias paruh baya. Umur panser amfibi (pansam) ini bila ditakar memang cukup sepuh, sebab sudah beroperasi di Tanah Air sejak 1962. Pansam BTR-50 dibeli dari Uni Soviet bersamaan dengan tank amfibi legendaris Marinir, yakni PT-76. Kedua alat tempur ini memang di impor dalam menyongsong operasi Trikora.

BTR-50 hingga kini tetap masih dioperasikan dengan dilakukan retrofit pada spare part yang sering mengalami keausan akibat pengunaan antara lain hull/body Arm & wheel hub, Track idler, Hub Idler, Rear, Shock Absorber, Superior Whee, Sprocket, Wheel, Track, Suspension dan Front Shock Absorber. Selain retrofit BTR-50 kini juga dilengkapi instrumen tambahan seperti alat pemadam kebakaran, sistem elektrik, alat pangatur suhu dan GPS (Global Positioning System).

BTR-50 berkapasitas solar penuh (full tank) sekitar 260 liter dan memiliki kemampuan melakukan penjelajahan 260 km. Satu liter solar, mampu mendorong sejauh 1 km dengan kecepatan 44 Km per jam. Itu kalau berada di jalan raya. Sedangkan di medan off-road, kecepatannya 25 Km per jam. Sedang di laut pansam ini mengandalkan dua unit water-jet. Kedua piranti ini sanggup menghela badan ranpur dengan kecepatan 10 Km per jam. Uniknya, kendaraan ini bisa juga berenang mundur pada kecepatan 5 Km per jam. Selain itu BTR-50 mampu menerjang ombak berketinggian maksimal 1,5 meter.

Tampil Sangar, Iran Upgrade Ranpur BTR-50 dengan Instalasi Kanon 30mm

BTR-50 memuat 16 orang personel, ditambah tiga orang kru. Ketiga kru tersebut adalah komandan kendaraan, pengemudi, dan penembak. Selain itu, juga dilengkapi oleh dua jenis senjata. Sayangnya, kendaraan ini tidak ada AC-nya.

Untuk memperpanjang usia pakainya, BTR-50 tak lagi mengandalkan komponen orisinilnya. Sebab, pasca G-30S, suku cadang mendadak jadi langka. Alhasil perombakan lumayan besar diterapkan pada jeroan BTR 50. Menu utama perombakan adalah soal dapur pacu. Mesin diesel yang tadinya tipe V 6 asli Rusia, diganti dengan GM 6V-92T diesel keluaran AS. (Gilang Perdana)

BTR-50PK Korps Marinir: Masih ‘Orisinil’ dengan Performa Maksimal

One Comment