UGM Pasopati: Prototipe Rudal Asal Kota Gudeg, Harapan (Baru) Kebangkitan Rudal Nasional

Dalam hal inovasi, kreativitas Anak Bangsa ini rasanya tak ketinggalan dari negeri tetangga. Terkhusus di rancang bangun rudal (peluru kendali), kemunculan “Petir V-101” yang dilansir PT Sari Bahari dua tahun silam, terbukti mampu menyedot perhatian dan harapan bagi banyak pihak. Betapa tidak Petir yang sejatinya drone ini sudah mengusung penggerak turbine engine thrust. Meski belum lepas dari kata prototipe, pengembangam Petir oleh Balitbang Kemhan terus berlangsung sampai saat ini. Dan belum lama berselang, tanpa basa basi kelompok mahasiswa dan dosen UGM telah berhasil meluncurkan rudal yang diberi label “Pasopati.”

Baca juga: Petir V-101 – Wujud Kebangkitan Rudal Nasional

Tepatnya sehari setelah momen Hari Pahlawan 10 November 2017, Kelompok Riset Aeronautika Fakultas Teknik UGM (Universitas Gadjah Mada) melakukan uji rudal generasi pertama mereka. Uji terbang bekerjasama dengan Lanud Adisujtipto ini dilakukan di lapangan udara yang dikelola oleh TNI Angkatan Udara di daerah Gading, Wonosari, Yogyakarta. Cuaca cerah sedikit berawan pada pagi hari itu sangat mendukung uji terbang rudal, ditambah hembusan angin dengan kecepatan tidak terlalu tinggi.

Dikutip dari ugm.ac.id (12/11/2017), rudal in difokuskan pada desain dan manufaktur rudal dengan jarak tempuh 30 – 50 km. Jarak tempuh dan akurasi terus ditingkatkan hingga pada tahun ketiga mencapai target 100 km. Bila ditakar dari jarak tempuhnya, maka rudal Pasopati bisa masuk segmen sebagai rudal jarak menengah. Dr. Gesang Nugroho sebagai ketua penelitian menyebut bahwa proyek ini didanai oleh Kemenristekdikti melalui skema Penelitian Unggulan Perguruan Tinggi.

Serupa dengan rudal Petir yang kini beralih peran sebagai target drone, maka Pasopati di desain untuk dapat melakukan misi penyerangan sasaran diam dengan terbang rendah agar tidak terdeteksi radar. Rudal dari Kota Gudeg ini digerakkan secara elektrik menggunakan Electric Ducted Fan (EDF), jarak jangkauan sejauh 30 – 50 km, kecepatan jelajah berkisar 100 – 200 km per jam dan mampu membawa payload kurang lebih 2 kg.

Baca juga: Petir – Direvisi dari Rudal Jelajah ke Target Drone

Saat itu proses peluncuran diatur tidak menuju ke suatu titik sasaran tertentu. Sehingga hanya melakukan terbang lalu kembali lagi ke lapangan udara Gading dengan jarak pengaturan sekitar lima kilometer. Pada penelitian awal ini rudal tersebut mampu terbang sejauh 50 kilometer.

Sementara itu, desain rudal Pasopati ini sudah menyelesaikan tahap Design Requirement and Objective (DRO), Conseptual Design, Preliminary Design dan terakhir Detail Design. Khusus tentang desain, rancangan Pasopati sedikit mengingatkan pada bentuk rudal jelajah Tomahawk, meski tentu dimensinya jauh berbeda.

Rudal Pasopati generasi pertama ini memiliki panjang 170 cm, diameter 17 cm, berat kosong 0,9 kg. Penggunaan Electric Ducted fan (EDF) dipilih karena memiliki karakteristik yang mirip dengan turbojet namun memiliki keuntungan tambahan yaitu lebih mudah dikendalikan. Selain itu, penggunaan EDF pada tahap awal ditujukan untuk mendapat data kendali guna pengembangan selanjutnya.

Rudal Tomahawk

Baca juga: Roket Balistik Kemhan Jatuh di Rumpin, R-Han 122B Kah?

Dalam uji coba 11 November lalu, Pasopati berhasil take off dan terbang dengan stabil, mampu menyelesaikan misi jelajah secara autonomus dengan ketinggian 100 meter, kecepatan maksimum 130 km per jam dan jarak 5 km untuk waktu terbang sekitar 3 menit. Menurut tim penggagas, nantinya Pasopati akan didongkrak jarak tempuhnya menggunakan pendorong turbojet, untuk menguji kecepatan maksimum, menambah akurasi dan membuat sistem produksi yang lebih efisien.

Sebelum diluncurkan, tim melakukan penelitian dengan waktu sekitar delapan bulan. Target uji terbang perdana di Lapter Gading sudah lebih dari cukup. Karena awalnya disasar hanya secara manual, tetapi hasilnya kemarin sudah dapat dilakukan secara autonomus dengan mengikuti sejumlah titik yang sudah diprogram melalui software.

Kendala yang dihadapi dalam proses pembuatan rudal antara lain, bahan seperti motor penggerak dan mesin yang harus diimpor. Proses pembuatan yang menghabiskan dana kocek Rp40 jutra menggunakan mesin computer numerical control (CNC) yang harus benar-benar presisi. Bahan utama bodi rudal terbuat dari komposit fiber glass menggunakan teknologi vakum dalam proses pembuatan yang seluruhnya diproduksi di UGM.  Tim rudal Pasopati UGM beranggotakan M. Agung Bramantya, Ph.D., Iswandi, M.Eng., dan Isnan Nur Rifai, M.Eng.

Sebagai perbandingan, rudal Petir V-101 dengan bahan carbon reinforced composite mampu terbang sejauh 45 km. Kecepatan Petir mencapai 260 km per jam dan bisa membawa hulu ledak 10 kg. (Bram)

9 Comments