Surcouf (La Fayette Class): Frigat Stealth dengan Komandan Seorang Wanita di MNEK 2018

Dari sekitar 60 kapal perang yang berlaga dalam Multilateral Naval Exercise Komodo (MNEK) 2018 (4-9 Mei) di Perairan Lombok, Nusa Tenggara Barat, ada satu kapal perang yang tergolong paling canggih di kelasnya, yakni frigat dengan kemampuan stealth. Dan yang dimaksud tak lain adalah frigat Surcouf (F711) milik AL Perancis. Surcouf hadir ke Indonesia dalam misi mengawal LHD BPC Dixmude (Mistral Class), jenis kapal induk helikopter yang punya peran sebagai landing platform dock.

Baca juga: BPC Dixmude (Mistral Class): Kembali Singgahi Indonesia, Inilah Jenis Kapal Perang Amfibi Impian Rusia

Surcouf adalah salah satu elemen penggetar utama Perancis dalam diplomasi internasional, dan hebatnya, frigat canggih dengan bobot penuh 3.600 ton ini punya komandan seorang wanita yang cantik jelita. Ia adalah Christine Ribbe yang telah memulai karirnya di angkatan laut sejak 1999.

Setelah beberapa kali menjadi komandan kapal di lingkup kedinasan AL Perancis, Ribbe dipercaya menjadi komandan Surcouf per 9 Januari 2018. Surcouf dalam misi ke Indonesia membawa 153 awak, dan 15 diantaranya adalah wanita. Kesetaraan gender di level komandan kapal perang sekelas frigat memang harus diacungi jempol.

Christine Ribbe

Itu baru sisi komandannya, kapalnya tentu tak kalah menarik dibedah. Surcouf termasuk frigat La Fayette Class. Sebagai frigat stealth, populasinya cukup besar di dunia, yakni sampai 20 unit, Perancis sendiri mengoperasikan lima unit, yakni La Fayette (F710), Surcouf (F711), Courbet (F712), Aconit (F713) dan Guépratte (F714). Kesemunya dibangun oleh galangan DCN Lorient.

Surcouf sendiri diluncurkan pada 3 Juli 1993 dan mulai masuk kedinasaan pada 7 Februari 1997. Frigat dengan desain modular (terdiri dari 11 modul besar) punya ciri khas dari strukturnya yang dibangun dari material light alloy dan glass-reinforced plastic, yang secara keseluruhan dapat mengurangi bobot kapal. Sementara zona-zona vital dilapisi lapis baja di Kevlar, dan sistem-sistem yang penting sebagai redundan. Kompartemen para kru dilindungi terhadap ancaman serangan biologi, kimia dan nuklir.

Nab bicara tentang persenjataan, Surcouf yang desainnya terkesan minimalis justru punya kandungan senjata beragam. Mulai dari haluan ada French Naval Gun 100 mm, dengan munisi 13,5 kg, kanon ini dapat melesatkan proyektil hingga jarak 16 km. Secara teori kanon ini dapat menembakan 80 proyektil per menitnya.

Langsung menuju bagian atas hanggar, disematkan satu konsol rudal hanud jarak dekat Crotale CN2, dalam konsol tersebut terdapat delapan rudal yang siap diluncurkan untuk mengangkis seragan rudal anti kapal dan jet tempur lawan. Crotale CN2 mengusung rudal VT-1 yang mampu melesat Mach 3,6 dengan jarak jangkau 13 km. Rencananya kedepan La Fayette Class akan mendapatkan upgrade berupa instalasi rudal Aster 15 yang mengusung konsep vertical launch system (VLS).

Crotale CN2.

Di bagian geladak, ada dua pucuk kanon PSU yang dioperasikan secara manual, yakni F2 kaliber 20 mm. Kanon ini dapat melepaskan 720 proyektil per menit dengan jarak tembak 10 km.

Dan rudal anti kapal MM Exocet, Dua peluncur empat sel dipasang dalam posisi midship antara dua tiang. Rudal anti kapal memiliki jangkauan 70 km dan mendekati target dalam mode sea skimming pada kecepatan subsonik yang tinggi, sekitar Mach 0,95. Angkatan Laut Perancis telah memberikan kontrak pada MBDA untuk rudal Exocet MM40 Block 3 yang mulai dipasang pada La Fayette Class sejak tahun 2006. Rudal Blok 3 akan memiliki sistem propulsi turbojet baru yang akan memberikan jangkauan diperpanjang hingga 180 km.

Frigat ini dilengkapi flight deck untuk didarati helikopter medium seberat 10 ton, seperti AS 565 MA Panther, SA321G Super Frelon atau NH-90. Deck penerbangan dapat digunakan hingga level gelombang Sea State 6.

Sistem propulsi sudah mengusung teknologi Combined Diesel and Diesel (CODAD). Sistem ini didasarkan pada empat mesin diesel SEMT Pielstick 12 PA6 V 280 STC dengan kekuatan 21.000 hp. Dua poros mendorong propelan pitch yang dapat dikontrol. Sistem propulsi menyediakan kecepatan maksimum 25 knots dan, pada kecepatan ekonomis 12 knots, jangkauannya adalah 17.000 km. Tanpa bekal ulang, endurance La Fayette Class bisa mencapai 50 hari.

Baca juga: Iver Huitfeldt Class – Lebih Perkasa dari Formidable Class, Ini Dia “Bakal Calon” Pengganti Frigat Van Speijk TNI AL

Frigat tercanggih di Asia Tenggara, yakni Formidable Class milik Singapura, tak lain adalah turunan langsung dari desain La Fayette Class, bahkan bila ditakar lebih detail, frigat Singapura terasa jauh lebih canggih dari milik Perancis. (Haryo Adjie)

5 Comments