SQUIRE: Radar Manpack Untuk Gelar Operasi Taktis di Wilayah Perbatasan

Setelah ada rudal panggul yang kondang disebut MANPADS (Man Portable Air Defence System) dan tactical radio (radio taktis) yang biasa dibawa dengan ransel (manpack) oleh prajurit operator radio. Kini mobilitas teknologi panggul juga merambah pada penggelaran sistem radar, bukan terbatas pada arti mobile radar untuk pertahanan udara, radar panggul besutan Thales yang diberi label SQUIRE ini memang dapat digendong dan dioperasikan oleh dua personel saja.

Baca juga: Meteor 50DX – Radar Cuaca Mobile Pendukung Operasi Penerbangan TNI AU 

Sesuai kepanjangan nama yang ditabalkan oleh perancangnya, yakni Signaal’s Quiet Universal Intruder Recognition Equipment (SQUIRE), maka peran asasi radar berujud ringkas dan kompak ini -sehingga bisa dioperasikan oleh dua orang- adalah memantau, mendeteksi, menjejak sekaligus mengenali keberadaan setiap jenis penyusup yang masuk wilayah pantauannya. Tidak peduli apakah ia berujud manusia, mobil, ranpur maupun helikopter dan pesawat terbang nirawak yang terbang dengan laju di bawah 300 km per jam. Misi ini dilakukannya secara ‘hening’ sehingga posisi SQUIRE sulit diketahui oleh musuh yang berbekal piranti endus tercanggih sekalipun (see without being seen). Alhasil SQUIRE relatif sulit dijamah misil anti radiasi maupun peralatan usik perang elektronika (jammer).

Kondisi ini sesuai dengan pakem anutan perancangnya, yakni LPI (Low Probability of Intercept – Peluang Terintersepsi Rendah). Tabiat bak siluman ini dituai SQUIRE berkat penerapan tehnik FMCW (Frequency Modulation Continuous Wave). Terjemahan bebasnya Gelombang Berkesinambungan Dengan Frekuensi Dimodulasi. Tehnik ini dipadu dengan fitur tenaga pancaran gelombang elektromagnetik yang amat rendah (very low output power), yakni 1,0 Watt. Nilai ini jauh di bawah tenaga pancaran gelombang elektromagnetik yang jamak disua pada kebanyakan telepon selular. Maka itu operator SQUIRE aman dari resiko terkena radiasi tenaga pancaran gelombang elektromagnetik meski ia berada di dekat antena dalam tempo cukup lama.

Lantaran kemampuannya untuk ‘bertahan hidup’ (survive) yang mumpuni, SQUIRE diklaim oleh perancangnya layak digelar sebagai perangkat pemantau di garis depan medan tempur, kawasan perbatasan darat dan laut maupun pada obyek vital militer dan sipil. Tak hanya itu, SQUIRE pun bisa diterapkan selaku alat pendukung satuan artileri di dalam bentuk memberikan masukan data riil hasil tembakan (shell impact). Sehingga setiap penyimpangan yang terjadi dalam suatu kegiatan penembakan senjata artileri bisa dideteksi pada kesempatan pertama (artillery fire deviation measurement).

Baca juga: Dengan Radar Weibel, Kini Satrad 215 Mampu Mengendus Pergerakan di Pulau Christmas

Selain bertabiat bak siluman, SQUIRE pun mudah digelar di sembarang tempat dan bisa dipindah-tempatkan dalam tempo singkat baik memakai sarana transportasi ringan (semisal jip dan ATV) maupun dibawa berjalan kaki. Tempat gelarannya tidak melulu di atas tanah, tapi juga bisa di atas jip maupun kapal patroli ringan. Hal ini berkat bobot totalnya yang amat ringan. Pengoperasiannya pun bisa sembarang waktu dan kondisi cuaca. Dan berkat pemakaian sejumlah komponen nan andal -semisal solid state transceiver- dan berkarakter CoS (Commercial of the Shelf), maka nilai MTBF (Mean Time Between Failure) SQUIRE di atas 20.000 jam dan biaya pemeliharaan seumur hidupnya jadi rendah.

Fitur unik lainnya yang diemban SQUIRE adalah pemakaian frequency bandwidth I/J (8 – 12 GHz). Berkat fitur ini, antena SQUIRE berukuran kecil sehingga dapat berotasi pada kecepatan relatif tinggi. Pun pengoperasiannya jauh lebih praktis dan biaya produksinya rendah. Biar jangkauan dan tingkat akurasi endusan antena SQUIRE bisa maksimal, perancangnya menjejalkan piranti slotted magnitude dan small patch antenna. Jika dibutuhkan, SQUIRE bisa melakukan pemindaian terhadap kawasan di sekitarnya sembari tetap melakukan penjejakan pada satu obyek sasaran tertentu (track while scan).

Baca juga: Vera-NG – Surveillance Tracking Pengendus Keberadaan Pesawat Tempur Stealth

Pada ajang Eurosatory 2014 dirilis SQUIRE-NG (varian terbaru). Pada bagian tengah bidang hadap muka antenanya dipantek kamera sinar infra merah yang tak butuh zat pendingin dan berkhasanah pandang panorama (uncooled infra red panoramic camera). Tujuannya agar operator SQUIRE-NG bisa beroleh si-kon lapangan paling aktual (cakupan liput 360 º) dan tak terlalu bergantung pada tayangan data hasil olahan microprocessor di layar tayang komputer. Kamera ini dipakai mendeteksi dan mengenali obyek berukuran kecil yang tengah diam atau bergerak sangat pelan seraya berada di dekat SQUIRE-NG. Dengan begitu tingkat kewaspadaan akan situasi di sekitar berbasis intuisi operator radar bisa bertambah.

Berkat adanya perangkat koneksi manusia dengan mesin (man-machine interface) rilisan terkini yang bertabiat ‘ramah operator’, maka secara teoritis SQUIRE dapat dioperasikan oleh hanya satu orang. Namun pada prakteknya untuk keperluan transportasi secara infanteri dibutuhkan dua personel. Satu orang membawa antena dan komputer sedangkan lainnya kaki tiga penyangga (tripod) yang ketinggiannya bisa diatur, sepasang baterai Li-ion (pemasok tenaga listrik selama 16 – 24 jam) dan kabel koneksi bertehnologi TCP (Terminal Control Protocol) atau IP (Internet Protocol) sepanjang 100 m. Demi menjamin pasokan tenaga listrik, disarankan agar unit operator SQUIRE juga dibekali alat pengisi ulang tenaga listrik baterai bertehnologi panel sel surya (solar cell battery charger).

Saran Penulis
Sebanyak 400 unit SQUIRE versi lawas telah dioperasikan oleh berbagai negara. Pihak pabrikannya menawarkan paket peningkatan kinerja untuk mendongkrak ‘kesaktian’-nya agar bisa menyamai SQUIRE-NG. Dengan berbagai fitur unik yang disandangnya, maka SQUIRE-NG layak dipertimbangkan sebagai peralatan dukungan operasi bagi Satuan Tugas Marinir TNI AL Pengamanan Pulau Terluar maupun ditempatkan di Pangkalan TNI AL (Lanal) yang berada dekat garis perbatasan wilayah perairan Republik Indonesia. (Santoso Purwoadi – Pemerhati Alutsista)

Spesifikasi Tehnis SQUIRE-NG
– Jangkauan deteksi konvensional (km)* : 3 – 6 (UAV), 11 – 13 (manusia), 22 (mobil), 33-48 (ranpur).
– Jangkauan deteksi kamera infra merah (km) : 1,0 (manusia) – 3,0 (ranpur)
– Jangkauan deteksi minimum (m) : 15
– Laju jelajah maksimum sasaran (km/jam) : 360
– Laju pemindaian (scan speeds) (°/detik) : 7 (manusia), 14 (mobil), 28 (ranpur)
– Akurasi deteksi bidang horisontal : ≤ 5 mils (1 mils = 0,06 °).
– Rincian bobot komponen sistem (kg) : 18 (antenna), 5 (baterai Li-ion), 20 (kaki tiga penyangga)
– Jumlah baterai pemasok listrik per 24 jam : 2
– Waktu jeda pergantian moda operasi (detik) : 5
– Besar tenaga pemancar sinyal (Watt) : 1,0
– Besar tenaga catu daya listrik (Watt) : 80 (tegangan listrik arus searah 24 Volt)

*) Nilai penampang radar minimum (minimum radar cross-section) untuk manusia 0,5 m², mobil 10 m² dan ranpur 20 m².

11 Comments