Sepenggal Kisah Jenderal Ahmad Yani dan Bofors 40mm L/70

imag0274

Bila mengacu ke eksistensi meriam Arhanud (Artileri Pertahanan Udara) di Indonesia, tak bisa dilepaskan dari persiapan Operasi Trikora di awal dekade 60-an. Hingga kini publik di Tanah Air masih sangat familier dengan meriam sepuh S-60 kaliber 57 mm Arhanud TNI AD. Di periode yang sama Korps Marinir (d/h KKO AL) juga menerima meriam PSU (Penangkis Serangan Udara) tipe M1939 K-61 kaliber 37 mm dan M1939 52-K kaliber 58 mm. Ketiganya adalah alutsista buatan Uni Soviet yang sampai kini masih beroperasi melalui program retrofit.

Baca juga: S-60 57mm – Meriam Perisai Angkasa ‘Sepuh’ Arhanud TNI AD

Namun diluar ketiga meriam PSU tadi, pada periode persiapan Operasi Trikora, Indonesia juga mendatangkan meriam dari Eropa Barat, yakni Swedia. Meriam yang dimaksud adalah Bofors 40 mm L/70 single barrel (laras tunggal). Meski kalah pamor dari meriam “Si Mbah” S-60, harus diakui jejak Bofors 40 mm lumayan panjang di Indonesia, seperti halnya ketiga meriam sepuh eks Uni Soviet, Bofors 40 mm L/70 sampai saat ini juga masih dioperasikan secara penuh, khususnya di Batalyon Arhanudse (Artileri Pertahanan Udara Sedang) TNI AD.

Baca juga: Surveillance Radar Rudal Rapier, Mampu Dialihfungsi Mendukung Peran Meriam PSU S-60 57mm TNI AD

Tampak awak Bofors 40mm L/70 TNI AD sedang melakukan loading amunisi. Amunisi dimasukkan dengan sistem cartridge
Tampak awak Bofors 40mm L/70 TNI AD sedang melakukan loading amunisi. Amunisi dimasukkan dengan sistem cartridge

Baca juga: AN/UPS-3 TDAR – Radar Penjejak Target Untuk Meriam PSU S-60 57mm Retrofit Arhanud TNI AD

Ada yang menarik dari cerita kedatangan Bofors 40 mm L/70 di Indonesia, pasalnya kemunculannya di Tanah Air tidak terlepas dari andil Pahlawan Revolusi, yaitu Jenderal TNI Anumerta Ahmad Yani. Berdasarkan catatan sejarah, Ahmad Yani saat masih berpangkat Kolonel, pada tahun 1959 diperintahkan ke Swedia untuk membuat kontrak pembelian senjata dengan Bofors. Hasil dari kontrak pembelian tersebut, datanglah Bofors 40 mm L/70 di Indonesia pada tahun 1962. Indonesia membeli 36 pucuk, detailnya 30 unit berupa Bofors 40 mm L/70 versi tarik (towed) untuk TNI AD, dan 6 pucuk Bofors 40 mm L/70 versi naval untuk TNI AL.

Menteri/Pangad Jen. A.Yani (paling kanan) dan Kol. DI Pandjaitan (no.2 dari kiri). Dalam misi pembelian senjata di Jerman DI Kantor DepHan Jerman Barat. Bonn, 1961. (sumber: http://dipandjaitan.blogspot.co.id)
Menteri/Pangad Jen. A.Yani (paling kanan) dan Kol. DI Pandjaitan (no.2 dari kiri). Dalam misi pembelian senjata di Jerman Barat. Bonn, 1961. (sumber: http://dipandjaitan.blogspot.co.id)
Dalam gelar tempur, sista Bofors 40mm dapat dipadukan dengan teknologi pelacak sasaran dan radar.
Dalam gelar tempur, sista Bofors 40mm dapat dipadukan dengan teknologi pelacak sasaran dan radar.

imag0275

Disebabkan adanya prahara politik di tahun 1965, membuyarkan beragam program pengadaan alutsista, termasuk bagi senjata yang sudah terlanjur dibeli. Salah satu kasus yang dihadapi adalah pembayaran yang tertunda akibat hura hara politik di Indonesia. Nah, lewat lobi dan jasa negosiator akhirnya pembayaran paket meriam Bofors 40 mm L/70 berhasil dilunasi Indonesia pada tahun 1968.

Bila Bofors 40 mm di Arhanud TNI AD sampai saat ini masih eksis, maka tentang nasib enam unit Bofos 40 mm versi naval kuat dugaan terkait dengan pengadaan Motor Torpedo Boat (MTB) Jaguar Class dari Jerman. MTB Jaguar Class yang melejit namanya karena aksi KRI Matjan Tutul di Laut Arafuru, setiap unitnya dilengkapi dua pucuk Bofors 40 mm L/70, yaitu pada sisi haluan dan buritan.

Baca juga: Jaguar Class – Generasi Awal Kapal Cepat Torpedo TNI AL

Posisi Bofors 40mm di MTB Jaguar pada haluan.
Posisi Bofors 40mm di MTB Jaguar pada haluan.

Baca juga: Bofors 40mm L/70 – Eksistensi Dari Era Yos Sudarso Hingga Reformasi

Bofors 40mm pada buritan, tampak posisinya diapit oleh dua tabung peluncur torpedo.
Bofors 40mm pada buritan, tampak posisinya diapit oleh dua tabung peluncur torpedo.

Dari sejarahnya, Bofors 40 mm L/70 dirancang sejak akhir perang dunia kedua, dan mulai resmi dioperasikan pada tahun 1951. Sejak mulai diproduksi, Bofors 40mm mendapat predikat sebagai senjata yang laris di pasaran, ekspor meriam ini terbilang laku keras di seluruh dunia. Bahkan Inggris memproduksi Bofors 40mm berdasarkan lisensi sebanyak 1000 pucuk, dimana produksinya dipercayakan kepada Royal Ordnance Factory.

Di Inggris, Bofors 40 mm L/70 dipercaya untuk memperkuat persenjataan pada resimen Royal Artilery LAA (light anti aircraft), dan beberapa resimen pertahanan udara RAF (Royal Air Force). Di tangan Inggris kemudian, meriam ini dikembangkan lebih canggih dengan integral power dan radar pengendali tembakan. Inggris sendiri mengakhiri penggunaan meriam ini pada tahun 1983, dan kemudian mempercayakan elemen pertahanan udara di kapal perangnya pada rudal Sea Cat.

Baca juga: Sea Cat – Rudal Hanud TNI AL Era 80an

Dilihat dari efek gempurnya, Bofors 40 mm L/70 mampu menghantam sasaran secara efektif di udara hingga jarak 3.000 meter. Sedangkan jarak tembak maksimum secara teori dapat mencapai 12.500 meter. Dalam satu menit, awak meriam yang terlatih dapat memuntahkan 240 peluru. Untuk kecepatan luncur proyektil mencapai 1.021 meter per detik. Dalam operasionalnya, Bofors 40 mm L/70 diawaki oleh 6 personel, dimana 2 orang bertidak sebagai juru tembak, dan 4 orang lainnya bertindak sebagai loader (pengisi) peluru. Salah satu kelemahan meriam ini adalah pola loading pelurunya masih manual. (Haryo Adjie)

14 Comments