PT-76 MLRS: Prototipe Tank MLRS Amfibi Marinir yang Terlupakan

pt76-1

MLRS (Multiple Launch Rocket System) tak disangsikan lagi kedahsyatannya sebagai alutsista pemukul nan ampuh. Terkhusus bagi Korps Marinir TNI AL, MLRS punya tempat tersendiri dalam sejarah kesenjataan. Bila saat ini Marinir punya RM70 Grad dan yang terbaru RM70 Vampire, maka di jaman Operasi Trikora, artileri medan Marinir telah mengadopsi BM-14/17 yang dikenal sebagai generasi pertama self propelled MLRS di Indonesia.

Baca juga: BM-14/17 – Generasi Pertama Self Propelled MLRS Korps Marinir TNI AL

BM-14 Korps Marinir TNI AL
BM-14 Korps Marinir TNI AL

Namun perlu dicatat, MLRS dalam skenario pertempuran masuk sebagai elemen bantuan susulan, tatkala operasi pendaratan amfibi di suatu pantai telah rampung digelar, barulah bersama elemen logistik, ransus (kendaraan khusus) pengusung MLRS dibawa ke pantai, caranya bisa diangkut dengan LCU (Landing Craft Utility) atau LST (Landing Ship Tank)/LPD (Landing Plarform Dock) yang sengaja dirapatkan ke pinggir pantai atau pelabuhan terdekat. Bersama dengan kekuatan howitzer, MLRS diberi tugas untuk membuka ‘jalan’ bagi penetrasi pasukan infanteri ke wilayah yang lebih jauh.

Baca juga: Landing Craft Utility – “Kepanjangan Tangan” Gelar Operasi Amfibi LPD TNI AL

Dari skenario diatas dapat diterka bahwa menghadirkan MLRS ke pantai tentu butuh waktu yang ‘lumayan.’ Nah, berangkat dari keinginan agar self propelled MLRS bisa dihadirkan bersamaan dengan meluncurnya elemen serbu dari tank dan pansam (panser amfibi), kemudian tercetuslah gagasan untuk menciptakan self propelled tracked MLRS dengan kemampuan amfibi. Siap diterjunkan di medan berat di awal-awal babak pertempuran.

Baca juga: PT-76 – Kisah Tank Amfibi Tua TNI-AL

Dan untuk urusan yang satu ini, Korps Marinir terbilang kreatif, tank amfibi legendaris PT-76 pun dimodifikasi menjadi tank pengusung MLRS. Proyek ini dgarap pada tahun 1995 dengan menunjuk perusahaan swasta nasional, PT Also Putra Indonesia, perusahaan yang juga ditunjuk untuk memodifikasi tank PT-76 menjadi PT-76M (retrofit). Dalam proyek ini, kubah PT-76 tidak diganti, hanya laras yang dilepas. Diatas kubah disematkan peluncur MLRS, belum bisa dipastikan jenis yang digunakan, namun dugaan mencomot peluncur BM-14/17. Tank-nya sendiri masih mengandalkan PT-76 versi orisinil dari Uni Soviet (Rusia).

Status PT-76 MLRS Korps Marinir ini sayangnya mentok di prototipe, bahkan menutut kabar roket sejak dipasang di tank ini belum pernah diuji tembak barang sekalipun. Tantangannya bukan terkait hal teknis, melainkan di soal pendanaan. Meski begitu, PT-76 MLRS sudah pernah diuji berenang di kolam pengujian. Karena dibuat sebagai prototipe, jenis PT-76 MLRS hanya dibuat satu unit, dan saat ini menjadi alutsista kenangan di Resimen Kavaleri 1/Marinir, Surabaya, Jawa Timur.

hl
PT-76 MLRS Marinir, nampak disampingnya adalah tank amfibi AMX-10 PAC90 buatan Perancis.

Baca juga: AMX-10 PAC 90 – Amphibious Fire Support Vehicle Korps Marinir TNI AL dari Era 80-an

Di negara asalnya, PT-76 MLRS juga sempat pernah dibuat, statusnya hanya sampai eksperimen. dengan kode Ob’yekt 280 berpeluncur MLRS 16×130 mm. PT-76 secara fisik memiliki bobot dalam keadaan kosong 13,5 ton dan dalam keadaan siap tempur 14,5 ton. Agar mampu beroperasi di perairan dalam maka tank ini hanya memiliki lapisan baja yang tipis, yaitu 14 mm di bodi dan 17 mm pada kubah, tidak seperti tank sejenis di kelasnya. Sementara itu untuk mengurangi beban penumpang, maka komandan tank juga merangkap sebagai pengamat medan, awak meriam dan operator radio.

Dimensi baku PT-76 jika diukur tanpa meriam memiliki panjang 6,91 m, lebar 3,14 m dan tinggi 2,21 m, kemudian ketinggian dari tanah ke kolong tank (ground clearance) adalah 0,37 m. Jika diukur dengan panjang meriam serta ketinggian senapan penangkis serangan udara yang terdapat di PT-76 maka dimensinya menjadi: panjang 7,62 meter, lebar 3,14 meter dan tinggi 3,70 meter.

Baca juga: PT-76 dan BTR-50 – Duet Maut Ranpur Amfibi di Timor Timur

PT-76 dalam defile HUT ABRI 1978. Terlihat meriam belum mengalami retrofit
PT-76 dalam defile HUT ABRI 1978. Terlihat meriam belum mengalami retrofit
PT-76 yang telah diretrofit, kini sudah dipasangi meriam 90mm
PT-76 yang telah diretrofit, kini sudah dipasangi meriam Cockerill 90 mm

Baca juga: Cockerill 90 – Kanon Pamungkas Korps Kavaleri

Tenaga penggerak PT-76 dihasilkan dari mesin diesel 4 silinder jenis V-6 yang berkekuatan 240 tenaga kuda atau 1.800 rpm. Bahan bakar yang dibutuhkan adalah 250 liter solar (HSD) kemudian 60 liter air sebagai pendingin radiator serta menggunakan pelumas mesin jenis DCO.50 sebanyak 45 liter. Ini membuat PT-76 mampu melaju dengan kecepatan hingga 45 km/jam di jalan raya sepanjang 260 km, 30 hingga 35 km/jam di jalan biasa dan 25 km/jam di jalan bergelombang sejauh 210 km.

Kelebihan PT-76 terletak pada kekuatan mesinnya, karena mampu memberikan kemampuan berenang yang baik ke arah muka sebesar 11 km/jam untuk jarak 70 km dengan waktu tempuh 8 jam. Sedang jika bergerak ke belakang, memiliki kecepatan hingga 5 km/jam. Itulah sebabnya mengapa PT-76 dipandang memiliki kualifikasi sebagai tank amfibi yang handal. (Haryo Adjie)

5 Comments