Pesawat Bersejarah C-130B A-1301 Hercules Bakal Menjadi Etalase Museum Dirgantara Mandala

Meski bukan sekutu Amerika Serikat, Indonesia punya pamor tersendiri sebagai negara pengguna pesawat angkut berat Lockheed C-130 Hercules. Pasalnya Indonesia adalah negara pengguna pertama C-130 di luar Amerika Serikat. Tepatnya pada 18 Meret 1960, dalam sebuah upacara di Lanud Kemayoran, Jakarta, C-130B pertama diserahkan oleh Wakil Presiden Lockheed Corp Carl Squier, kepada Menteri/Pangau Laksamana Udara Suryadarma. Pesawat pertama ini diberi nomer T-1301.

Baca juga: Antonov An-12B Cub – Eksistensi Pesawat Angkut Berat TNI AU Yang Terlupakan

Karena merupakan peristiwa penting bagi sejarah penerbangan Indonesia, acara penyerahan tersebut dihadiri pula oleh Menteri Keamanan Nasional Jenderal AH. Nasution, Jenderal Kehormatan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Wakasad Mayor Jenderal Gatot Subroto, dan Mr. Henderson yang mewakili Duta Besar AS untuk Indonesia beserta stafnya.

Yang lebih menarik lagi, ternyata C-130 Hercules T-1301 diterbangkan dari AS ke Indonesia oleh awak TNI AU (d/h AURI). Penerbangan pertama ini melalui jarak lebih dari 21 ribu km dan melintasi tiga lautan besar, seperti Pasifik, Laut Cina dan Laut Jawa. Pada jaman tersebut, apa yang dilakukan awak TNI AU merupakan delivery flight terjauh yang pernah dilakukan oleh suatu Angkatan Udara.

Hingga dekade tahun 70-an, C-130 Hercules TNI AU menggunakan nomer penerbangan – T. Di kemudian hari nomer penerbangan untuk skadron angkut berat dirubah, dari “T” menjadi “A.” Maka kemudian C-130B Hercules T-1301 menjadi A-1301, dan pesawat empat turboprop ini ditempatkan pada Skadron Udara 32 yang bermarkas di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur.

Baca juga: KC-130B Hercules – Tingkatkan Endurance Jet Tempur TNI AU

Yang unik, saat masih menyandang nomer T-1301, C-130 Hercules ini pernah dikaryakan sebagai pesawat sipil. Yakni nomer/kode penerbangannya dirubah menjadi PK-VHD, perubahan tersebut saat C-130B Hercules digunakan untuk misi pemotretan udara oleh PENAS (PN/Perusahaan Negara Aerial Survey) yang sekarang namanya menjadi PT Survei Udara PENAS.

Sayangnya kiprah T-1301 tak mulus, setelah statusnya dikembalikan menjadi pesawat militer pada April 1982, dikutip dari c-130.net, disebutkan pada bulan Mei 1982 pesawat ini mengalami kerusakan serius akibat hard landing di Bandung. Kemudian sejak April 2005, kabarnya C-130B T-1301 mulai dipersiapkan untuk dijadikan etalase pada museum TNI AU.

Merujuk ke situs tni-au.mil.id (21/8/2014), setelah melewati restorasi, Danpusdiklat Paskhas saat itu, Kolonel Psk Elia Adriyanti meresmikan monumen pesawat C-130B Hercules A-1301 di Markas Pusdiklat Paskhas, Lanud Sulaiman, Margahayu, Bandung. Selain menyandang gelar sebagai monumen, mockup pesawat ini juga digunakan untuk kegiatan pendidikan.

Dan bergeser ke tahun 2017, nampaknya C-130B Hercules A-1301 akan menempati rumah barunya di Museum Pusat Dirgantara Mandala (Muspusdirla) TNI AU di Yogyakarta. Beberapa bagian dari pesawat C-130 Hercules A-1301 diketahuui terlebih dahulu sudah tiba di Yogyakarta. Dan fuselage dan kokpit-nya, tepatnya hari Senin (25/9/2017) dipindahkan dengan heavy truck trailer. Rute yang diambil adalah Bandung – Rancaekek – Nagrek – Limbangan – Ciawi – Tasikmalaya – Banjar – Wangon – Gombong – Kebumen – Kutoarjo – Purworejo – Yogyakarta. Tak pelak kegiatan pemindahan bagian pesawat ini sempat menimbulkan kemacetan di beberapa ruas jalan di kota Bandung dan sekitarnya.

Baca juga: 56 Tahun Mengabdi, C-130B Hercules A-1303 Siap Mengudara Lagi

Sampai saat ini, generasi awal C-130 Hercules, yakni C-130B masih dioperasikan oleh Skadron Udara 32. Bahkan satu angkatan dengan A-1301, yaitu Hercules A-1303, belum lama ini telah selesai menjalani proses retrofit dan upgrade. C-130B/A-1303 merupakan satu dari 10 unit C-130B Hercules pertama yang dimiliki Indonesia sejak tahun 1960. Pesawat Hercules Tipe B merupakan “hasil barter” Pemerintah Indonesia dengan Amerika Serikat yang menginginkan dibebaskannya Allan L. Pope, pilot bayaran berkewarganegaraan AS yang ditawan pemerintah Indonesia kala itu. (Haryo Adjie)

3 Comments