Latest

MIG-21 Fishbed : Pencegat Terpopuler Sejagad

MIG-21 TNI-AU (Foto : Haryo Adjie)
MIG-21 Skadron 14 TNI-AU (Foto : Haryo Adjie)

Tahun 1962, Indonesia tengah bersitegang dengan Belanda soal Irian Barat. Indonesia mengklaim wilayah itu merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sementara Belanda berpendapat lain, dan tetap menduduki Irian Barat, yang kini dikenal sebagai Propinsi Papua. Dan tampaknya, perselisihan itu akan diselesaikan lewat jalur perang.

Maka Presiden Soekarno, memerintahkan mempersiapkan Operasi Trikora, nama untuk operasi militer dalam rangka pembebasan Irian Barat. Segala sarana tempur dan kekuatan militer mulai digeser ke kawasan Timur, dengan basisnya di Makassar. Meski sempat terjadi bentrokan-bentrokan kecil antara kedua kekuatan militer yang sedang berhadapan itu –termasuk gugurnya Komodor Laut Yos Soedarso di Laut Aru—tapi perang besarnya sendiri tak pernah terjadi. Konflik itu selesai lewat jalur diplomatik, ketika PBB menekan Belanda untuk menyerahkan Irian Barat ke pangkuan Indonesia. Belanda menurut.

Air intake MIG-21
Air Intake MIG-21 (Foto : Haryo Adjie)

Melunaknya sikap Belanda, yang notabene masih merasa superior kepada bekas negeri jajahannya, bukan tanpa sebab. Ketika kedua negara bersitegang, pesawat pengintai milik angkatan udara Amerika Lockheed-U2s yang berpangkalan di Taiwan, beberapa kali wara-wiri di atas angkasa Indonesia. Apalagi tujuannya kalau bukan mengintip kekuatan militer Indonesia, yang ketika itu sedang berbulan muda dengan Uni Soviet.

Hasil pengintaian itu membuat cemas Amerika, yang segera mengabarkan sekutunya itu. Mereka menyarankan Belanda agar “kabur” saja dari Irian Barat, ketimbang babak belur dihajar angkatan perang Indonesia. Itu juga yang mendorong PBB ikut menekan Belanda untuk menyerahkan Irian Barat. Belanda yang “tahu diri” segera angkat kaki dari Bumi Cendrawasih pada 1963.

Tampilan samping MIG-21, tampak rudal AA-2 Atol (Foto : Haryo Adjie)
Tampilan samping MIG-21, tampak rudal AA-2 Atol (Foto : Haryo Adjie)

Maklum jika Belanda jiper. Berkat kedekatan dengan Uni Soviet, Indonesia menjadi negara yang memiliki kekuatan udara paling kuat di Asia. Negeri Komunis itu bermurah hati dengan mengirimkan pesawat-pesawat perang paling modern pada era itu. Di antaranya adalah pembom TU-16, yang mampu menggendong misil udara ke darat AS-1 Kennel, yang punya jangkauan jauh serta daya hancur yang dahsyat. Di antara jejeran jet tempur, ada MIG 21 yang punya nickname versi NATO Fishbed. Inilah jet tempur jenis pencegat yang paling modern di dunia pada saat itu.

Sementara Belanda, masih mengandalkan pesawat sisa perang dunia kedua semacam P51 Mustang, serta jet-jet tempur semacam Vampire, Hawker Hunter, yang jauh kalah kelas dengan Fishbed. Makanya, Belanda memilih amit mundur ketimbang hancur lebur. Walaupun itu menyebabkan skadron Fishbed milik AURI tak sempat unjuk digdaya di langit Irian.

Gabungan Fighter dan Interceptor

MIG 21 dibuat oleh pabrikan Mikoyan Gurevich. Diciptakan untuk memenuhi permintaan angkatan udara Soviet akan sebuah pesawat tempur pencegat (interceptor) yang mampu terbang supersonic. Prototipe yang diberi kode E5, dengan rancang sayap ayun, berhasil terbang pada tahun 1955. Selanjutnya, prototipe pertama yang bersayap delta, YE4, berhasil mengudara setahun berikutnya. MIG 21 memasuki produksi massal pada tahun 1959. Indonesia mulai menerimanya pada tahun 1960.

Visual Kokpit MIG-21
Visual Kokpit MIG-21

NATO menjuluki jet tempur ini dengan sebutan “Fishbed”. Sementara Soviet sendiri, menjuluki jet andalannya ini dengan nama “Balalaika”. Nama itu diambil dari nama sejenis alat musik tradisional Rusia, yang bentuknya mirip dengan bentuk badan (fuselage) MIG 21. Julukan lainnya adalah olowek, yang artinya pensil. Pesawat ini memang ramping, bagian fuselage paling lebar cuma 1,24 meter.

Rancangan sayap delta merupakan hasil penggabungan karakteristik sebagai pesawat penempur (fighter) dan pencegat (interceptor). Tapi sejatinya, MIG 21 dirancang sebagai pesawat pencegat, dengan fungsi utama merontokkan armada-armada pesawat serang darat blok barat, seperti F-105 Thunderchief. Fishbed hadir untuk mengungguli F-104 Starfighter buatan Amerika dan Mirage III buatan Perancis.

Kemampuannya memang hebat. Mesin tunggal Tumansky R-11 F300 turbo jet bekerja efisien untuk menghasilkan tenaga dorong sebesar 5740 kgf, dan mengantarkannya menembus kecepatan mach 2,1. Air intake pesawat ini berada di moncong depan, dengan kerucut moncong yang bisa bergerak maju mundur. Fungsinya adalah mengendalikan aliran udara ke mesin untuk menyesuaikan dengan kecepatan terbang. Di sisi kiri kanan moncong, ada kisi-kisi yang berfungsi menambah pasokan udara ke mesin tatkala pesawat hendak take off maupun sedang taxying di darat.

MIG-21 2000 produksi Isreal, vesi MIG-21 paling canggih saat ini. Tampak moncong di air intake dipangkas
MIG-21 2000 produksi Isreal, versi MIG-21 paling canggih saat ini. Tampak moncong di air intake dipangkas

Jet tempur berbobot ringan ini punya kemampuan menanjak yang jempolan. Dengan bahan bakar 50% plus dua rudal udara ke udara, Fishbed mampu menanjak 58 ribu kaki (sekitar 19 ribu meter) per menit. Artinya, kurang dari semenit Fishbed sudah mampu berada di ketinggian pesawat penyusup musuh, dan menghajarnya dengan rudal Vympel K-13, rudal udara ke udara yang bekerja dengan mencari jejak panas pancaran jet lawan. Di kalangan barat dikenal dengan sebutan AA-22 Atol. Fishbed juga dibekali dengan dua kanon NR-30 kaliber 30 mm. Serta mampu mengangkut dua bom masing-masing seberat 500 kg. Pylon di fuselage juga bisa dicanteli tangki bahan bakar cadangan berkapasitas 450 liter.

Bagaimanapun, versi pertama MIG 21 ternyata mencatat banyak kelemahan. Rudal Vympelnya ternyata tidak begitu sukses ketika dipakai bertempur. Sementara jendela bidik (gyro gunsight) acapkali mati saat dipakai dalam manuver tinggi. Ini membuat MIG 21 yang digadang-gadang sebagai pesawat pencegat jempolan, menjadi jet tempur yang tidak efektif.

Kokpit modern MIG-2000
Kokpit modern MIG 21-2000

Namun kekurangan itu segera diperbaiki pada versi-versi berikutnya. Hanya saja, perbaikan itu tetap tak bisa menutupi kelemahan pada beberapa aspek. Jarak jangkau misalnya, sebagai interceptor MIG 21 hanya punya jarak jangkau pendek. Titik keseimbangan pesawat juga bermasalah ketika bahan bakar sudah terpakai dua pertiga, di mana center of gravitynya bergeser ke belakang. Ini menyebabkan pesawat jadi sulit dikendalikan. Karena itu, endurance optimal pesawat ini hanya 45 menit saja. Sayap deltanya memang sangat membantu dalam kecepatan menanjak, namun menjadi bumerang ketika pesawat ini melakukan belokan-belokan tajam karena kecepatannya langsung melorot drastis. Radarnya juga bukan tipe radar dengan jarak jangkau yang jauh.

Persoalan lain adalah rancangan kursi lontar. Maksud hati perancangnya adalah membuat kursi lontar yang aman bagi pilot. Kursi lontar SK-1 dibuat sedemikian rupa sehingga menyatu dengan kanopi. Jadi, ketika pilot menarik tombol eject, kursi dan kanopi masih melekat satu sama lain, yang tujuannya melindungi pilot dari terpaan angin dan pecahan pesawat. Kanopi baru lepas beberapa saat kemudian, dan pilot bisa aman melayang turun dengan parasut. Problemnya adalah ketika pilot melontar pada ketinggian rendah. Rupanya proses lepasnya kanopi terlalu lama, sehingga pilot keburu berdebam ke tanah, tak keburu membuka parasut.

Combat Proven
Toh, dengan segala kelemahan itu, nyatanya MIG 21 tetap menjadi momok menakutkan bagi blok barat. Terutama ketika Fishbed varian MIG-21F berada di tangan pilot-pilot kawakan dari Vietnam’s People Air Force/VPAF (Angkatan Udara Vietnam). Dalam kancah perang Vietnam, Fishbed tampil efektif sebagai jet tempur, dan sukses menghalau serangan udara jet-jet Amerika.

Para penerbang Fishbed Vietnam, biasanya beroperasi dengan bimbingan ground control interceptor (GCI), radar pencegat yang dioperasikan di permukaan, sebagai penutup kelemahan Fishbed akan tak adanya long range radar. GCI inilah yang membimbing kawanan Fishbed menuju sasaran, yang umumnya kelompok jet serang darat F-105. Begitu sasaran ketemu, mereka melakukan aksi hit and run, mengincar target dari belakang, menghajarnya dengan Atol dan siraman canon, lalu bergegas lari pulang.

MIG-21 produksi Cina (F7) dengan arsenal persenjataan
MIG-21 produksi Cina (F7) dengan arsenal persenjataan

Taktik seperti itu sangat efektif dalam menjatuhkan pesawat lawan. Atau paling tidak, memaksa pesawat lawan menjatuhkan bom secara dini (bukan di areal target), agar pesawat bisa bermanuver lebih lincah untuk menghindari sergapan Fishbed. Ditambah lagi dengan taktik konservatif armada udara Amerika, yang cenderung melakukan operasi lewat jalur yang sama, dengan waktu yang sama pula. Sehingga, pilot-pilot Vietnam tahu betul “kebiasaan” itu, dan tahu persis pula, di mana tempat paling enak buat mencegat pesawat lawan.

Kekalahan telak dari pilot-pilot VPAF itulah, yang sebagian dari mereka menunggangi MIG 21F, yang mendorong Amerika mendirikan sekolah pilot pesawat tempur. Salah satu yang terkenal adalah sekolah pilot tempur milik angkatan laut “Navy Top Gun”, yang berlokasi di Miramar, AS. Nguyen Van Coc, salah satu penunggang MIG-21F, sukses menjadi top ace perang Vietnam dengan 9 kills. Seorang pilot MIG-21F VPAF bernama Pham Tuan, bertanggung jawab atas rontoknya pembom berat Amerika, B-52, yang sedang terbang di atas Hanoi, Vietnam, untuk mendukung operasi Linebacker II.

Fishbed juga digunakan secara ekstensif dalam sejumlah konflik yang terjadi di Timur Tengah, yang melibatkan Siria, Mesir dan Israel. MIG-21 Siria berhadapan dengan Mirage IIIC Israel, pertama kali pada April 1967. Kali ini MIG-21 yang keok, dengan ratio kekalahan 6 MIG rontok berbanding nol, alias tak ada Mirage Israel yang tertembak jatuh.

Tapi pada perang Yom Kippur, tepatnya pada pertempuran udara di atas El Mansoura, ceritanya lain. Israel meluncurkan 100 pesawat terdiri dari F-4 Phantom dan A-4 Skyhawks. Mereka dihadang skadron MIG-21 Mesir. Dalam pertempuran udara yang berlangsung kurang dari sejam itu, laporan pasca perang menyebutkan, 17 jet Israel dirontokkan pilot-pilot Mesir. Sementara Mesir, hanya kehilangan 6 MIG. Itupun hanya tiga yang benar-benar ditembak jatuh musuh. Dua lainnya, jatuh gara-gara kehabisan bahan bakar saat hendak pulang ke pangkalan, dan satu lagi, meledak tatkala terbang menembus kepingan jet Israel yang meledak terkena tembakan lawan. Mesinnya menghisap kepingan jet Israel.

Angkatan udara India, yang tercatat sebagai pengguna terbesar MIG-21, juga pernah menerjunkan Fishbed dalam sejumlah kancah. DI antaranya pada perang Indo-Pakistani pada 1971, di mana MIG-21 India berhasil merontokkan F-104 Starfighter milik Pakistan. India masih menerjunkan Fishbed pada perang Kargil di tahun 1999, yang mana dalam perang singkat itu, dilaporkan satu Fishbed hancur terkena misil darat ke udara Pakistan. Tahun itu juga dilaporkan, MIG-21 India menembak jatuh pesawat pengintai Breguet Atlantique milik Angkatan Laut Pakistan.

Di kancah Afrika, MIG-21 terlibat dalam perang antara Ethiopia dan Somalia. Dalam perang tersebut, sejumlah MIG-21 milik Somalia berhasil dirontokkan F-5Es Tiger Ethiopia yang disuplai Amerika, tanpa kehilangan satu pesawatpun. Ironisnya, Ethiopia juga menerima varian MIG-21s Bis dari Kuba. Dalam simulasi dogfight, F-5Es yang dikemudikan pilot Ethiopia, berhasil menang telak atas MIG-21 Bis yang diterbangkan pilot top Kuba.

Pencatat Rekor
Sampai saat ini MIG-21 tercatat sebagai jet tempur supersonic yang paling banyak diproduksi. Total jumlahnya mencapai 10.152 unit, itu untuk yang diproduksi di Soviet saja. Belum termasuk yang diproduksi di India dan Cina. Kedua negara itu mendapat lisensi pembuatan Fishbed, karena menjadi pengguna terbesar. Di Soviet, Fishbed dirakit di tiga pabrik, GAZ 30 berlokasi di Moskow untuk produksi tipe kursi tunggal untuk keperluan ekspor, GAZ 21 di Gorky untuk produksi single seater untuk pesanan angkatan udara Soviet, dan GAZ 31 di Tbilisi yang memproduksi tipe kursi ganda untuk ekspor dan pesanan dalam negeri.

Catatan rekor lain adalah pesawat tempur yang paling banyak diproduksi sejak Perang Korea. Serta pesawat yang periode produksinya paling lama. Sejumlah varian juga pernah dirancang untuk memecahkan rekor penerbangan. Di antaranya adalah varian YE-66, yang dirancang untuk memecahkan rekor kecepatan terbang. Lalu varian YE-66A dirancang untuk memecahkan rekor ketinggian. Sementara YE-66B dirancang untuk memantapkan rekor waktu tercepat mencapai ketinggian untuk wanita. Varian YE-76 dibuat untuk memantapkan rekor kecepatan bagi wanita.

MIG-21 versi Latih dengan dua kursi, milik AU India
MIG-21 versi Latih dengan dua kursi, milik AU India

Fishbed juga masih digunakan banyak negara hingga kini. Paling tidak ada 22 negara yang masih mengoperasikan MIG-21, tentu dengan varian yang sudah di-up grade. Di antaranya, Vietnam yang punya 124 unit, Korea Utara dengan 150 unit, India dengan 428 unit. Indonesia termasuk di antara 30 negara yang pernah mengoperasikan MIG-21. Kini, sisa kejayaan AURI itu menjadi monumen di depan Museum Satria Mandala Jakarta, dan menjadi salah satu koleksi di Museum Dirgantara Adi Soetjipto, Jogjakarta. Tampang sangarnya masih juga menggetarkan. (Aulia Hs)

Spesifikasi Teknis
• Awak : Satu orang
• Panjang : 15.76 m including probe (51 ft 8 in)
• Bentang sayap : 7.15 m (23 ft 5 in)
• Tinggi : 4.12 m (13 ft 6 in)
• Wing area : 23 m² (247.5 ft²)
• Berat kosong : 5,350 kg (11,800 lb)
• Berat dengan beban: 8,726 kg (19,200 lb)
• Max takeoff weight: 9,660 kg (21,300 lb)
• Mesin : R-11 F300 afterburning turbojet, 53 kN

Performance
• Maximum speed: 2230 km/h (1385 mph) (Mach 2.1)
• Janbgkauan : 1160 km
• Ferry range : 1800 km with three external fuel tanks ()
• Service ceiling : 62,300 ft
• Rate of climb : 225 m/s (23,600 ft/min but with 50 per cent fuel and two AA-2 “Atoll” missiles, the MiG-21 can reach 58,000 feet [17,600 meters] in one minute which results in 293 m/s average at different altitudes, under favorable weather circumstances)
• Wing loading: 379 kg/m² (77.8 lb/ft²)
• Thrust/weight: 1.02 at max. takeoff weight, 1.13 at loaded weight with max. afterburner

Armament
MiG-21MF armed with R-3 (AA-2) air-to-air missile and UB-16 launcher for S-5 rockets.

NBO-105 : Heli Serang Utama TNI-AD

bo105js3
(foto : M Radzi Desa)

Untuk mendukung tugas pertempuran di darat, TNI-AD punya andalan helikopter serang. Helikopter yang dimaksud adalah NBO-105 CB yang diproduksi oleh IPTN atas lisensi MBB, Jerman. Sebagai helikopter serang, NBO-105 dipersenjatai empat senapan mesin FN Herstal MO.32 kaliber 7,62 mm standard NATO yang ditempatkan dalam dua TMP (Twin Machine Gun Pods) atau dua senapan mesin FN Herstal M.3P kaliber 12,7 mm NATO dalam tiga HMP (Heavy Machine Gun Pods).

Banner BO-105 Penerbad
Banner BO-105 Penerbad

Konfigurasi lain dari persenjatan heli serang ini adalah roket FFAR (Folding Fins Air Rockets) jenis T.905 kaliber 2,75 inc NATO dalam dua MLRS (Multi-Launch Rocket System) masing-masing dengan 13 tabung peluncur. Tiga jenis hulu ledak yang digunakan ialah FZ-21 untuk anti personal, FZ-58 untuk anti tank dan FZ-32 untuk marking jika NBO-105 dioperasikan sebagai FAC (Forward Air Control) untuk memandu pesawat tempur yang sedang memberikan bantuan tembakan udara.

Versi B0-105 milik AD Spanyol yang dibekali Rudal Anti Tank TOW/HOT
Versi B0-105 milik AD Spanyol yang dibekali Rudal Anti Tank TOW/HOT

Heli Bolcow Penerbad TNI-AD ini dioperasikan oleh Skadron 21 yang bermarkas di lapangan terbang Pondok Cabe. Jumlah yang dimiliki adalah 15 unit. Selain mendukung operasi tempur, heli ini juga kerap digunakan untuk evakuasi medis di medan perang. Menurut penuturan pilotnya, dalam operasi serangan darat heli dipasangi plat baja di bagian bawah bodi, gunanya untuk melindungi pilot dari tembakan musuh. Tapi di masa damai plat harus dilepas, sebab lumayan menambah bobot heli.

Bisa dibilang heli ini ujung tombak gunship TNI-AD, meski agak ironis dengan jumlah hanya 15 unit, itupun tanpa bekal kemampuan menggotong rudal. Bandingkan saja dengan heli Mi-35 yang baru datang sebanyak 4 unit. Selain bicara soal kualitas tempur, seyogyanya urusan kuantitas juga diperhatikan mengingat luasnya wilayah teritorial Indonesia. Operasional heli dengan empat bilah baling-baling ini juga sudah terbilang tua. Sejak tahun 70-an BO-105 tak pernah absen dalam operasi penumpasan GPK (Gerakan Pengacau Keamanan). Kiprahnya terakhir terlihat saat menumpas GAM (Gerakan Aceh Merdeka). (Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi NBO-105 CB

* Crew: 1 or 2 pilots
* Capacity: 4
* Length: 11.86 m (38 ft 11 in)
* Rotor diameter: 9.84 m (32 ft 3½ in)
* Height: 3.00 m (9 ft 10 in)
* Disc area: 76.05 m² (818.6 ft²)
* Airfoil: NACA 23012
* Empty weight: 1,276 kg (2,813 lb)
* Max takeoff weight: 2,500 kg (5,511 lb)
* Powerplant: 2× Allison 250-C20B turboshaft engines, 313 kW (420 shp) each

Performance

* Never exceed speed: 270 km/h (145 knots, 167 mph)
* Maximum speed: 242 km/h[9] (131 knots, 150 mph)
* Cruise speed: 204 km/h (110 knots, 127 mph)
* Range: 575 km (310 NM, 357 mi)
* Ferry range: 1,112 km (600 NM, 691 mi)
* Service ceiling: 5,180 m (17,000 ft)
* Rate of climb: 8 m/s (1,575 ft/min)

Boeing 737 Surveillance – Jet Pengintai TNI-AU

b737mrop4
(Foto : Indoflyer.net)

Tampilannya tak beda jauh dengan pesawat komersial biasa, akan tetapi kemampuannya sangat luar biasa. Pesawat Boeing-737 milik TNI Angkatan Udara ini mampu mengamati seluruh gerak-gerik di atas perairan Indonesia yang luasnya mencapai 8,5 juta kilometer persegi. (more…)

Sidewinder : Si Pemburu Panas Andalan TNI-AU

F-16 TNI-AU dengan AIM-9 P4 Sidewinder
F-16 TNI-AU dengan AIM-9 P4 Sidewinder (foto : TB Rachman)

Meski secara teknologi TNI AU tak ketinggalan dalam update pengadaan pesawat tempur, lain halnya dengan persenjataan yang melengkapi pesawat tempur. Akibat anggaran pembelian yang serba ngepas, TNI AU hingga kini hanya dibekali rudal udara ke udara secara terbatas.

Rudal andalan TNI AU tak lain adalah sidewinder. Rudal pemburu panas ini mulai hadir sejak awal tahun 80-an. Dari beberapa tipe pesawat tempur yang dimiliki, diketahui hanya tiga jenis pesawat tempur yang mampu menggotong sidewinder, yakni F-5 Tiger, F-16 Fighting Falcon dan Hawk 100/200.

AIM-9 P4 Sidewinder
AIM-9 P4 Sidewinder

Ada dua tipe sidewinder milik TNI AU, yakni AIM-9 P2 dan AIM-9 P4 sidewinder. Paket rudal AIM-9 P2 dibeli bersamaan dengan pengadaan 16 pesawat tempur F-5 E/F Tiger yang pertama datang pada 21 April 1980.

Sedangkan tipe AIM-9 P4 dibeli bersamaan dengan pembelian 12 pesawat tempur F-16 A/B Fighting Falcon pada tahun 1989. Rudal sidewinder untuk pertama kal ditembakkan pada tahun 1989 di selatan Samudra Hindia. Rudal diluncurkan dari dua F-5 yang lepas landas dari lanud Ngurah Rai, Bali.

Moncong Sirip AIM-9 P4 Sidewinder
Moncong Sirip AIM-9 P4 Sidewinder

Apa perbedaan antara AIM-9 P2 dan AIM 9 P4? Letak perbedaannya cukup mencolok, dengan AIM 9 P2 mengharuskan pilot menempatkan musuh di depannya agar rudal dapat menuju pesawat musuh. Sebab rudal ini hanya akan menuju panas yang dikeluarkan dari exhaust.

Sebaliknya rudal AIM 9 P4, meski sama-sama mengarah ke panas tetapi rudal ini akan membidik panas yang ditimbulkan oleh perbedaan suhu akibat gesekan bodi pesawat dengan udara. Dengan demikian AIM 9 P4 bisa ditembakkan meskipun pesawat musuh datang dari depan dalam posisi berhadapan. Dari perbedaan teknis ini mengubah cara dan konsep pertempuran udara (dog fight).

Formasi Tempur F-5 E
Formasi Tempur F-5 E

Rudal buatan Raytheon Company, AS ini memiliki banya varian, tipe terbarunya adalah AIM 9X yang mulai digunakan militer AS tahun 2003 lalu. Untuk tipe AIM 9 P4 milik TNI AU memiliki kecepatan luncur 2.5 Mach dalam tempo waktu 2,2 detik. Jangkauan rudal efektif adalah 17,7 Km dengan lama misi 60 detik. Bobot sidewinder sendiri sekitar 78 Kg. (Haryo Adjie Nogo Seno)

RBS-70 : Rudal Pencegat Supersonik Jarak Dekat

Gelar tempur RBS-70
Gelar Tempur RBS-70

Kehadiran elemen artileri pertahanan udara (Arhanud) mutlak diperlukan untuk melindungi obyek-obyek penting negara. Salah satu arsenal Arhanud milik Indonesia adalah rudal RBS-70. Meski bukan produk baru, rudal ini masih jadi tulang punggung pertahanan udara, selain rudal Grom. Sampai saat ini RBS-70 dioperasikan oleh Batalyon Arhanud Kodam dan Kostrad. Sifatnya yang mobile, alias mudah dipindahkan dan dirakit membuat rudal buatan Saab Bofors Dynamics, Swedia ini banyak dipakai oleh militer di banyak negara. Untuk gelar operasinya, RBS-70 umumnya dipadukan dengan radar Giraffe sebagai pemandu target. (more…)

F-86 Avon Sabre : “Born to Fight” dari Era Perang Dingin

F-86 Sabre di Museum Dirgantara Mandala - Yogyakarta
F-86 Sabre di Museum Dirgantara Mandala – Yogyakarta

Buah dari krisis politik pasca tumbangnya partai Komunis Indonesia, maka berakhir pula era persenjataan asal blok timur. Sejak ditinggalkan oleh Uni Soviet, tak ada cara lain bagi Indonesia untuk melirik arsenal senjata asal blok barat. Salah satu arsenal tempur di era transisi itu adalah F-86 Sabre. Sebuah jet tempur berkursi tunggal yang legendaris di era perang Korea.

Sabre pertama kali diproduksi tahun 1953, kehadirannya tepat waktu dengan momentum perang Korea, perang Taiwan dan perang India Pakistan. Dalam perang Korea Sabre menjadi lawan berat jet tempur MiG-15 dari Korea Utara. Alhasil pasca perang Korea, nama Sabre ikut terdongkrak dan laku keras dibeli oleh banyak negara.

Sabre TNI-AU saat masih operasional
Sabre TNI-AU saat masih operasional

Hingga tahun 1980 Sabre telah diproduksi 11.786 unit, yang merupakan gabungan dari produksi oleh tiga pabrik, North America, juga  diproduksi di Kanada, dan tak ketinggalan lisensinya dibeli Avon Sabre, pabrik pesawat dari Australia yang memproduksi Sabre sebanyak 112 unit. Dilihat dari jumlah produksinya, Sabre menjadi jet tempur yang paling banyak diproduksi di era perang dingin.

TNI-AU di tahun 1973 juga diperkuat dengan 23 unit Sabre dalam program Garuda Bangkit. Sabre yang dioperasikan TNI-AU adalah buatan Australia, karena dibuat oleh Avon, dinamakan Avon Sabre. Walau hanya diproduksi 112 unit, jenis yang diterima TNI-AU adalah versi terbaik dengan peningkatan 60 persen dari struktur rancang bangunnya untuk bisa membawa dua kanon 30mm Aden.

Kokpit F-86 Sabre
Kokpit F-86 Sabre

Dikenal sebagai pesawat yang lincah, Sabre dipercaya untuk memperkuat tim aerobatik di banyak negara. Pun TNI AU di era tahun 70-an juga membentuk Spirit-78 sebagai tim aerobatik andalan di masa itu. Sabre sendiri masuk dalam jajaran operasional skadron 14 yang bermarkas di lanud Iswahyudi, Madiun.

Ada informasi yang menyebut kedatangan Sabre untuk Indonesia didasari alasan politik militer. Konon kabarnya Indonesia bisa mendapatkan Sabre dengan syarat menonaktifkan operasional pembom Tu-16. Maklum meski sudah di embargo oleh Uni Soviet, TNI-AU sampai era tahun 70-an masih sanggup menerbangkan stok terakhir armada bomber Tu-16 lewat cara kanibalisasi suku cadang.

Saat ini kiprah Sabre tinggal sebuah kenangan, salah satunya menjadi etalase yang menghiasi museum Dirgantara Yogyakarta. Beberapa Sabre juga bisa Anda temui sebagai ikon di beberapa bandara di Tanah Air. Tapi ada yang cukup mengherankan, di Bolivia jet tempur ini baru non aktif pada tahun 1993. Artinya lebih dari 41 tahun jet tempur ini beroperasi. Luar biasa….. (Haryo Adjie Nogo Seno)

 

F-86 Sabre milik USAF

Spesifikasi F-86 Sabre

* Crew: 1
* Length: 37 ft 1 in (11.4 m)
* Wingspan: 37 ft 0 in (11.3 m)
* Height: 14 ft 1 in (4.5 m)
* Wing area: 313.4 sq ft (29.11 m²)
* Empty weight: 11,125 lb (5,046 kg)
* Loaded weight: 15,198 lb (6,894 kg)
* Max takeoff weight: 18,152 lb (8,234 kg)
* Powerplant: 1× General Electric J47-GE-27 turbojet, 5,910 lbf (maximum thrust at 7.950 rpm for five min) (26.3 kN)
* Fuel provisions Internal fuel load: 437 gallons (1,650 l), Drop tanks: 2 x 200 gallons (756 l) JP-4 fuel

Performance
* Maximum speed: 687 mph at sea level at 14,212 lb (6,447 kg) combat weight
also reported 678 mph (1,091 km/h) and 599 at 35,000 feet (11,000 m) at 15,352 pounds (6,960 kg). (597 knots, 1,105 km/h at 6446 m, 1,091 and 964 km/h at 6,960 m.)
* Range: 1,525 mi, (1,753 NM, 2,454 km)
* Service ceiling 49,600 ft at combat weight (15,100 m)
* Rate of climb: 8,100 ft/min at sea level (41 m/s)
* Thrust/weight: 0.38
* Stalling speed (power off): 124 mph (108 kt, 200 km/h)
* Landing ground roll: 2,330 ft, (710 m)
* Lift-to-drag ratio: 15.1
* Time to altitude: 5.2 min (clean) to 30,000 ft (9,100 m)

Armament
* Guns: 6× 0.50 in (12.7 mm) M2 Browning machine guns (1,602 rounds in total)
* Rockets: variety of rocket launchers; e.g: 2× Matra rocket pods with 18× SNEB 68 mm rockets each
* Missiles: 2× AIM-9 Sidewinders
* Bombs: 5,300 lb (2,400 kg) of payload on four external hardpoints, bombs are usually mounted on outer two pylons as the inner pairs are wet-plumbed pylons for 2× 200 gallons drop tanks to give the Sabre a useful range. A wide variety of bombs can be carried (max standard loadout being 2 x 1,000 lb bombs plus 2 drop tanks), napalm bomb canisters and can include a tactical nuclear weapon.

PBY-5A Catalina : Legenda Pesawat Intai Amfibi

100_1918
Catalina TNI-AU dengan logo skadron 5

Meski secara kuantitas perangkat tempur Indonesia serba terbatas, masih ada yang bisa dibanggakan dari koleksi arsenal tempur TNI-AU kita. Pasalnya TNI-AU pernah menjadi operator pesawat intai ampfibi terpopuler sepanjang masa, yakni PBY-5A Catalina. PBY-5A Catalina adalah pesawat amfibi dengan dua mesin baling-baling buatan Pratt & Whitney. Menilik dari sejarahnya, Catalina pertama kali diluncurkan pada bulan Maret 1935, dan terus diproduksi hingga tahun 1940-an oleh perusahaan Consolidated Aircraft dan American Aircraft Manufactures.

Catalina dari sisi samping kanan
Catalina dari sisi samping kanan

PB sendiri diartikan sebagai Patrol Bomber, tak lain karena Catalina  mampu menggotong ranjau laut, aneka bom, torpedo dan senapan mesin kaliber 50 milimeter. Kiprah Catalina demikian dominan pada era Perang Dunia II. Dengan ruang kokpit dan jendela yang serba luas, Catalina menjadi pesawat intai favorit banyak negara, termasuk juga kemudian digunakan Indonesia pada periode tahun 1950-an. Dengan kemampuan amfibi, Catalina juga banyak berjasa untuk misi SAR (search and rescue) tempur di laut lepas. Pun hingga saat ini Catalina masih digunakan secara terbatas di beberapa negara untuk keperluan pemadam kebakaran hutan.

Catalina kini menjadi etalase Museum Dirgantara Yogyakarta
Catalina kini menjadi etalase Museum Dirgantara Yogyakarta

PBY-5A Catalina masuk ke lingkungan TNI-AU sebagai buah dari realisasi konfrensi Meja Bundar tahun 1949. Dari hasil konfrensi tersebut, Indonesia mendapat limpahan beberapa perangkat militer tempur dari Belanda, diantaranya adalah delapan unit Catalina bekas pakai Angkatan Udara Hindia Belanda. Catalina resmi masuk jajaran TNI-AU di skadron 5 Pengintai Laut pada tahun 1950. Awalnya skadron 5 berkedududkan di Lanud Husein Sastranegara, Bandung. Dan setahun kemudian pindah ke Lanud Abdul Rahman Saleh Malang. Kini skadron 5 telah memiliki home base di Lanud Hasanuddin sejak tahun 1982. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Catalina milik Angkatan Udara Belanda
Catalina milik Angkatan Udara Belanda

Spesifikasi PBY-5A Catalina
Crew
Normal Crew of Seven to Nine

Engines
Two Pratt & Whitney R-1830-92 Engines
Twin-row 14 cylinder Air-cooled Radials
1,200 hp @ 2,700 rpm

Armament
Five .50 calibre Machine Guns
Four 325 lb (147Kg) Depth-charges or
Two Mark XIII Torpedoes or
Four 500 (227)  or 1,000 lb (454 Kg) Bombs

Speed
Max. Speed 178 mph (286 kph) @ 7,000 feet (2134 m)
Cruise Speed 113 mph (182 kph)

Dimensions
Length 63′ 6″ (19.35 m)
Height 22′ 6″  (6.85 m)
Wing Span 104′ (31.69 m)

Weight
Max. Weight 34,450 lbs (15,626 Kg)
Empty Weight 21,000 lbs (9525 Kg)

Fuel
Max. Fuel 1,750 US gallons (6624 Lt)

Range
Maximum Range 2,535 miles (4079 Km)

Tu-16 (3) : Akhir Perjalanan Sang Bomber

Sungguh ironis nasib akhir Tu-16 AURI. Pengadaan dan penghapusannya lebih banyak ditentukan oleh satu perkara: politik! Bayangkan, “AURI harus menghapus seluruh armada Tu-16 sebagai syarat mendapatkan F-86 Sabre dan T-33 T-bird dari Amerika,” ujar Bagio Utomo, mantan anggota Skatek 042 yang mengurusi perbaikan Tu-16. Bagio menuturkan kesedihannya ketika terlibat dalam tim “penjagalan” Tu-16 pada tahun 1970. (more…)