Latest

Boeing 737 Surveillance – Jet Pengintai TNI-AU

b737mrop4
(Foto : Indoflyer.net)

Tampilannya tak beda jauh dengan pesawat komersial biasa, akan tetapi kemampuannya sangat luar biasa. Pesawat Boeing-737 milik TNI Angkatan Udara ini mampu mengamati seluruh gerak-gerik di atas perairan Indonesia yang luasnya mencapai 8,5 juta kilometer persegi. (more…)

Sidewinder : Si Pemburu Panas Andalan TNI-AU

F-16 TNI-AU dengan AIM-9 P4 Sidewinder
F-16 TNI-AU dengan AIM-9 P4 Sidewinder (foto : TB Rachman)

Meski secara teknologi TNI AU tak ketinggalan dalam update pengadaan pesawat tempur, lain halnya dengan persenjataan yang melengkapi pesawat tempur. Akibat anggaran pembelian yang serba ngepas, TNI AU hingga kini hanya dibekali rudal udara ke udara secara terbatas.

Rudal andalan TNI AU tak lain adalah sidewinder. Rudal pemburu panas ini mulai hadir sejak awal tahun 80-an. Dari beberapa tipe pesawat tempur yang dimiliki, diketahui hanya tiga jenis pesawat tempur yang mampu menggotong sidewinder, yakni F-5 Tiger, F-16 Fighting Falcon dan Hawk 100/200.

AIM-9 P4 Sidewinder
AIM-9 P4 Sidewinder

Ada dua tipe sidewinder milik TNI AU, yakni AIM-9 P2 dan AIM-9 P4 sidewinder. Paket rudal AIM-9 P2 dibeli bersamaan dengan pengadaan 16 pesawat tempur F-5 E/F Tiger yang pertama datang pada 21 April 1980.

Sedangkan tipe AIM-9 P4 dibeli bersamaan dengan pembelian 12 pesawat tempur F-16 A/B Fighting Falcon pada tahun 1989. Rudal sidewinder untuk pertama kal ditembakkan pada tahun 1989 di selatan Samudra Hindia. Rudal diluncurkan dari dua F-5 yang lepas landas dari lanud Ngurah Rai, Bali.

Moncong Sirip AIM-9 P4 Sidewinder
Moncong Sirip AIM-9 P4 Sidewinder

Apa perbedaan antara AIM-9 P2 dan AIM 9 P4? Letak perbedaannya cukup mencolok, dengan AIM 9 P2 mengharuskan pilot menempatkan musuh di depannya agar rudal dapat menuju pesawat musuh. Sebab rudal ini hanya akan menuju panas yang dikeluarkan dari exhaust.

Sebaliknya rudal AIM 9 P4, meski sama-sama mengarah ke panas tetapi rudal ini akan membidik panas yang ditimbulkan oleh perbedaan suhu akibat gesekan bodi pesawat dengan udara. Dengan demikian AIM 9 P4 bisa ditembakkan meskipun pesawat musuh datang dari depan dalam posisi berhadapan. Dari perbedaan teknis ini mengubah cara dan konsep pertempuran udara (dog fight).

Formasi Tempur F-5 E
Formasi Tempur F-5 E

Rudal buatan Raytheon Company, AS ini memiliki banya varian, tipe terbarunya adalah AIM 9X yang mulai digunakan militer AS tahun 2003 lalu. Untuk tipe AIM 9 P4 milik TNI AU memiliki kecepatan luncur 2.5 Mach dalam tempo waktu 2,2 detik. Jangkauan rudal efektif adalah 17,7 Km dengan lama misi 60 detik. Bobot sidewinder sendiri sekitar 78 Kg. (Haryo Adjie Nogo Seno)

RBS-70 : Rudal Pencegat Supersonik Jarak Dekat

Gelar tempur RBS-70
Gelar Tempur RBS-70

Kehadiran elemen artileri pertahanan udara (Arhanud) mutlak diperlukan untuk melindungi obyek-obyek penting negara. Salah satu arsenal Arhanud milik Indonesia adalah rudal RBS-70. Meski bukan produk baru, rudal ini masih jadi tulang punggung pertahanan udara, selain rudal Grom. Sampai saat ini RBS-70 dioperasikan oleh Batalyon Arhanud Kodam dan Kostrad. Sifatnya yang mobile, alias mudah dipindahkan dan dirakit membuat rudal buatan Saab Bofors Dynamics, Swedia ini banyak dipakai oleh militer di banyak negara. Untuk gelar operasinya, RBS-70 umumnya dipadukan dengan radar Giraffe sebagai pemandu target. (more…)

F-86 Avon Sabre : “Born to Fight” dari Era Perang Dingin

F-86 Sabre di Museum Dirgantara Mandala - Yogyakarta
F-86 Sabre di Museum Dirgantara Mandala – Yogyakarta

Buah dari krisis politik pasca tumbangnya partai Komunis Indonesia, maka berakhir pula era persenjataan asal blok timur. Sejak ditinggalkan oleh Uni Soviet, tak ada cara lain bagi Indonesia untuk melirik arsenal senjata asal blok barat. Salah satu arsenal tempur di era transisi itu adalah F-86 Sabre. Sebuah jet tempur berkursi tunggal yang legendaris di era perang Korea.

Sabre pertama kali diproduksi tahun 1953, kehadirannya tepat waktu dengan momentum perang Korea, perang Taiwan dan perang India Pakistan. Dalam perang Korea Sabre menjadi lawan berat jet tempur MiG-15 dari Korea Utara. Alhasil pasca perang Korea, nama Sabre ikut terdongkrak dan laku keras dibeli oleh banyak negara.

Sabre TNI-AU saat masih operasional
Sabre TNI-AU saat masih operasional

Hingga tahun 1980 Sabre telah diproduksi 11.786 unit, yang merupakan gabungan dari produksi oleh tiga pabrik, North America, juga  diproduksi di Kanada, dan tak ketinggalan lisensinya dibeli Avon Sabre, pabrik pesawat dari Australia yang memproduksi Sabre sebanyak 112 unit. Dilihat dari jumlah produksinya, Sabre menjadi jet tempur yang paling banyak diproduksi di era perang dingin.

TNI-AU di tahun 1973 juga diperkuat dengan 23 unit Sabre dalam program Garuda Bangkit. Sabre yang dioperasikan TNI-AU adalah buatan Australia, karena dibuat oleh Avon, dinamakan Avon Sabre. Walau hanya diproduksi 112 unit, jenis yang diterima TNI-AU adalah versi terbaik dengan peningkatan 60 persen dari struktur rancang bangunnya untuk bisa membawa dua kanon 30mm Aden.

Kokpit F-86 Sabre
Kokpit F-86 Sabre

Dikenal sebagai pesawat yang lincah, Sabre dipercaya untuk memperkuat tim aerobatik di banyak negara. Pun TNI AU di era tahun 70-an juga membentuk Spirit-78 sebagai tim aerobatik andalan di masa itu. Sabre sendiri masuk dalam jajaran operasional skadron 14 yang bermarkas di lanud Iswahyudi, Madiun.

Ada informasi yang menyebut kedatangan Sabre untuk Indonesia didasari alasan politik militer. Konon kabarnya Indonesia bisa mendapatkan Sabre dengan syarat menonaktifkan operasional pembom Tu-16. Maklum meski sudah di embargo oleh Uni Soviet, TNI-AU sampai era tahun 70-an masih sanggup menerbangkan stok terakhir armada bomber Tu-16 lewat cara kanibalisasi suku cadang.

Saat ini kiprah Sabre tinggal sebuah kenangan, salah satunya menjadi etalase yang menghiasi museum Dirgantara Yogyakarta. Beberapa Sabre juga bisa Anda temui sebagai ikon di beberapa bandara di Tanah Air. Tapi ada yang cukup mengherankan, di Bolivia jet tempur ini baru non aktif pada tahun 1993. Artinya lebih dari 41 tahun jet tempur ini beroperasi. Luar biasa….. (Haryo Adjie Nogo Seno)

 

F-86 Sabre milik USAF

Spesifikasi F-86 Sabre

* Crew: 1
* Length: 37 ft 1 in (11.4 m)
* Wingspan: 37 ft 0 in (11.3 m)
* Height: 14 ft 1 in (4.5 m)
* Wing area: 313.4 sq ft (29.11 m²)
* Empty weight: 11,125 lb (5,046 kg)
* Loaded weight: 15,198 lb (6,894 kg)
* Max takeoff weight: 18,152 lb (8,234 kg)
* Powerplant: 1× General Electric J47-GE-27 turbojet, 5,910 lbf (maximum thrust at 7.950 rpm for five min) (26.3 kN)
* Fuel provisions Internal fuel load: 437 gallons (1,650 l), Drop tanks: 2 x 200 gallons (756 l) JP-4 fuel

Performance
* Maximum speed: 687 mph at sea level at 14,212 lb (6,447 kg) combat weight
also reported 678 mph (1,091 km/h) and 599 at 35,000 feet (11,000 m) at 15,352 pounds (6,960 kg). (597 knots, 1,105 km/h at 6446 m, 1,091 and 964 km/h at 6,960 m.)
* Range: 1,525 mi, (1,753 NM, 2,454 km)
* Service ceiling 49,600 ft at combat weight (15,100 m)
* Rate of climb: 8,100 ft/min at sea level (41 m/s)
* Thrust/weight: 0.38
* Stalling speed (power off): 124 mph (108 kt, 200 km/h)
* Landing ground roll: 2,330 ft, (710 m)
* Lift-to-drag ratio: 15.1
* Time to altitude: 5.2 min (clean) to 30,000 ft (9,100 m)

Armament
* Guns: 6× 0.50 in (12.7 mm) M2 Browning machine guns (1,602 rounds in total)
* Rockets: variety of rocket launchers; e.g: 2× Matra rocket pods with 18× SNEB 68 mm rockets each
* Missiles: 2× AIM-9 Sidewinders
* Bombs: 5,300 lb (2,400 kg) of payload on four external hardpoints, bombs are usually mounted on outer two pylons as the inner pairs are wet-plumbed pylons for 2× 200 gallons drop tanks to give the Sabre a useful range. A wide variety of bombs can be carried (max standard loadout being 2 x 1,000 lb bombs plus 2 drop tanks), napalm bomb canisters and can include a tactical nuclear weapon.

PBY-5A Catalina : Legenda Pesawat Intai Amfibi

100_1918
Catalina TNI-AU dengan logo skadron 5

Meski secara kuantitas perangkat tempur Indonesia serba terbatas, masih ada yang bisa dibanggakan dari koleksi arsenal tempur TNI-AU kita. Pasalnya TNI-AU pernah menjadi operator pesawat intai ampfibi terpopuler sepanjang masa, yakni PBY-5A Catalina. PBY-5A Catalina adalah pesawat amfibi dengan dua mesin baling-baling buatan Pratt & Whitney. Menilik dari sejarahnya, Catalina pertama kali diluncurkan pada bulan Maret 1935, dan terus diproduksi hingga tahun 1940-an oleh perusahaan Consolidated Aircraft dan American Aircraft Manufactures.

Catalina dari sisi samping kanan
Catalina dari sisi samping kanan

PB sendiri diartikan sebagai Patrol Bomber, tak lain karena Catalina  mampu menggotong ranjau laut, aneka bom, torpedo dan senapan mesin kaliber 50 milimeter. Kiprah Catalina demikian dominan pada era Perang Dunia II. Dengan ruang kokpit dan jendela yang serba luas, Catalina menjadi pesawat intai favorit banyak negara, termasuk juga kemudian digunakan Indonesia pada periode tahun 1950-an. Dengan kemampuan amfibi, Catalina juga banyak berjasa untuk misi SAR (search and rescue) tempur di laut lepas. Pun hingga saat ini Catalina masih digunakan secara terbatas di beberapa negara untuk keperluan pemadam kebakaran hutan.

Catalina kini menjadi etalase Museum Dirgantara Yogyakarta
Catalina kini menjadi etalase Museum Dirgantara Yogyakarta

PBY-5A Catalina masuk ke lingkungan TNI-AU sebagai buah dari realisasi konfrensi Meja Bundar tahun 1949. Dari hasil konfrensi tersebut, Indonesia mendapat limpahan beberapa perangkat militer tempur dari Belanda, diantaranya adalah delapan unit Catalina bekas pakai Angkatan Udara Hindia Belanda. Catalina resmi masuk jajaran TNI-AU di skadron 5 Pengintai Laut pada tahun 1950. Awalnya skadron 5 berkedududkan di Lanud Husein Sastranegara, Bandung. Dan setahun kemudian pindah ke Lanud Abdul Rahman Saleh Malang. Kini skadron 5 telah memiliki home base di Lanud Hasanuddin sejak tahun 1982. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Catalina milik Angkatan Udara Belanda
Catalina milik Angkatan Udara Belanda

Spesifikasi PBY-5A Catalina
Crew
Normal Crew of Seven to Nine

Engines
Two Pratt & Whitney R-1830-92 Engines
Twin-row 14 cylinder Air-cooled Radials
1,200 hp @ 2,700 rpm

Armament
Five .50 calibre Machine Guns
Four 325 lb (147Kg) Depth-charges or
Two Mark XIII Torpedoes or
Four 500 (227)  or 1,000 lb (454 Kg) Bombs

Speed
Max. Speed 178 mph (286 kph) @ 7,000 feet (2134 m)
Cruise Speed 113 mph (182 kph)

Dimensions
Length 63′ 6″ (19.35 m)
Height 22′ 6″  (6.85 m)
Wing Span 104′ (31.69 m)

Weight
Max. Weight 34,450 lbs (15,626 Kg)
Empty Weight 21,000 lbs (9525 Kg)

Fuel
Max. Fuel 1,750 US gallons (6624 Lt)

Range
Maximum Range 2,535 miles (4079 Km)

Tu-16 (3) : Akhir Perjalanan Sang Bomber

Sungguh ironis nasib akhir Tu-16 AURI. Pengadaan dan penghapusannya lebih banyak ditentukan oleh satu perkara: politik! Bayangkan, “AURI harus menghapus seluruh armada Tu-16 sebagai syarat mendapatkan F-86 Sabre dan T-33 T-bird dari Amerika,” ujar Bagio Utomo, mantan anggota Skatek 042 yang mengurusi perbaikan Tu-16. Bagio menuturkan kesedihannya ketika terlibat dalam tim “penjagalan” Tu-16 pada tahun 1970. (more…)

AMX-10 : Tank Amfibi Modern yang “Gagal”

amx-10p_marine_indonesie_01

Untuk wilayah Asia Tenggara, keunggulan alat tempur Korps Marinir TNI-AL patut dibanggakan. Salah satunya dengan kelengkapan resimen Kavaleri yang berbekal ratusan tank dari berbagai jenis. Untuk urusan kendaraan lapis baja beroda rantai, tipe PT-76 dan BTR-50 terbilang yang paling populer. Hampir setiap ada event latihan tempur dan operasi militer, kedua kendaraan asal Rusia ini selalu hadir menjadi ikon Korps Marinir. Walau bila dipikir-pikir usianya sudah lebih dari 45 tahun dioperasikan.

Seiring perkembangan, Korps Marinir kini sudah update dengan tambahan alat tempur generasi baru. Sebut saja ada BMP-2, BTR-80 dan akan segera hadir BMP 3F, kesemuanya merupakan kendaraan amfibi asal Blok Timur. Tapi masih ada yang lain, tapi sudah ”agak” terlupakan, yakni tank AMX-10 APC/PAC-90.

amx-10p_marine_indonesie_02

AMX-10 sudah barang tentu berkemampuan amfibi, tank buatan Prancis ini dikembangkan mulai tahun 1965. Prototip AMX-10 yang dibuat GIAT Industries selesai pada tahun 1968, keunggulan AMX-10 yakni dilengkapi pelindung bahaya serangan senjata nuklir, biologi dan kimia. Kemampuan berenangnya didukung hydro jets untuk mengarungi laut dan sungai. Soal senjata ada banyak varian untuk AMX, bila ingin lebih jelas bisa lihat di situs http://en.wikipedia.org/wiki/AMX-10P.

AMX-10 hadir di Tanah Air sekitar tahun 1980-an lewat ekspedisi pengapalan. Jenis yang cukup menonjol adalah AM-10 PAC-90 yang dilengkapi kanon 90 mm, lalu ada versi AMX-10 APC (armored personal carrier) atau versi angkut personal yang dilengkapi kanon 20 mm. Jumlah AMX-10 yang dibeli Indonesia juga cukup banyak, yakni total ada 80 unit. Sampai saat ini program pengadaan AMX-10 menjadi unit pembelian alat tempur terbesar korps Marinir.

amx_10p_l3

Spesifikasi Umum AMX-10 APC
Weight : 14.2 tonnes
Length : 5.85 m
Width : 2.78 m
Height : 2.57 m
Crew : 3 + 8 passengers
Engine : Hispano-Suiza HS 115 280 hp ( kW)
Power/weight : 17.9 hp/tonne
Suspension : torsion bar
Operational range : 600 km
Speed : 65 km/h

Tapi ada pertanyaan, mengapa AMX-10 hampir tidak pernah ditampilkan dalam operasi militer? Bahkan dalam operasi latihan tempur sekalipun sangat jarang terlihat. Sebuah sumber di lingkungan dekat Korps Marinir menyebut, AMX-10 tidak memiliki performa sesuai standar yang diharapkan. Konon disebutkan, AMX-10 mudah terguling. Usut punya usut ternyata, AMX-10 memang sejak awal tidak direkomendasikan oleh Korps Marinir. Maklum di era orde baru pengadaan alat tempur erat dengan isu mark up biaya oleh keluarga besar pejabat.

amx10p_015

Selain Prancis, AMX-10 juga dioperasikan oleh Emirat Arab, Yunani, Qatar, Arab Saudi, Singapura dan Mexico. Tentu kita berharap AMX-10 bisa tampil dalam tiap operasi tempur TNI. Jangan beban operasi pendaratan selalu dipikul oleh duo tank lawas, BTR-50 dan PT-76. Jaya selalu Korps Marinir.

Daftar Arsenal Kendaraan Lapis Baja Korps Marinir – TNI AL
50 x PT-76 (Rusia)
50 x BTR-50 PK Panser Amphibi (Ukraina)
40 x Czech BVP-2 Arhanud (Slovakia) varian BMP 2 Rusia
18 x Panhard VBL
12 x BTR 80A
80 x AMX 10 P/PAC 90
20 x BMP 3F (akhir 2007)

(Haryo Adjie Nogo Seno)