Latest

AMX-13 VCI : Tank Angkut Personel TNI-AD

AMX-13 VCI Kodam Jaya
AMX-13 VCI Kodam Jaya

Walau berwujud alutsista tua, sekiranya kita boleh sedikit bangga bahwa negeri ini punya tank APC (armored personel carrier) dalam jumlah besar, yakni 200 unit. APC yang dimaksud adalah tank angkut personel AMX-13 VCI (Véhicule de Combat d’Infanterie). Dari segi usia, AMX-13 VCI sudah cukup buyut, yakni dibeli Indonesia pada tahun 60an, di impor bersama AMX-13 versi kanon untuk kampanye operasi Trikora.

Manuver AMX-13 VCI Israel

AMX-13 VCI AD Prancis

Biar sudah tua, TNI-AD masih mengoperasikan tank ini secara penuh pada unit batalion kavaleri serbu, baik Kostrad dan Kodam. Untuk menunjang operasional, tank ini sudah mengalami retrofit pada mesin, sistem suspensi dan pendingin. Secara terbatas TNI-AD mulai mengganti peran tank ini pada jenis Stormer buatan Alvis. AMX-13 VCI punya banyak varian, mulai dari ambulance, pembawa rudal anti serangan udara sampai pembawa radar mobile.

Formasi tempur AMX-13 VCI AD Argentina

AMX-13 VCI dengan radar udara

konvoi offroad AMX-13 VCI Prancis, kini Prancis sudah menggantinya dengan AMX-10

TNI-AD sendiri memiliki 200 unit versi AMX-13 VCI M, dengan senjata andalan senapan mesin berat kaliber 12,7 mm. Untuk menunjang mobilitas jarak jauh, tank ini biasanya diangkut menggunakan truk Bedford buatan Inggris. Selain Indonesia, negara lain yang mengoperasikan yakni Prancis, Argentina, Belanda dan Israel. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi
Tipe : Tank APC kelas ringan
Negara pembuat : Prancis
Berat : 15 ton
Panjang : 5,7 meter
Lebar : 2,67 meter
Tinggi : 2,41 meter
Awak : 3 orang + 10 personel
Mesin : SOFAM Model 8Gxb 8-cyl. water-cooled petrol
Suspensi : Torsion Bar
Jarak Tempuh : 350 km
Kecepatan : 60 km per jam

AMX-13 : Tank Tempur Utama TNI-AD

AMX-13 Kavaleri Kostrad dalam kamuflase dedaunan
AMX-13 Kavaleri Kostrad dalam kamuflase dedaunan

Sepanjang sejarah, TNI-AD memang belum permah memiliki satuan tank sekelas MBT (main battle tank), atau disebut juga tank kelas berat, seperti tipe M1 Abrams, Leoprad atau Merkava yang kondang di beragam medan tempur. Tapi jangan berkecil hati, walau tak punya MBT, angkatan darat kita punya tank utama, yakni AMX-13 buatan Perancis. Meski dari segi usia tank ini sudah sepuh, karena dibuat antara tahun 50 – 60an, AMX-13 masih eksis digunakan satuan kavaleri TNI-AD sampai saat ini. Disebut tank utama karena jumlah AMX-13 cukup banyak, inilah tipe tank terbanyak yang dimiliki TNI-AD, menurut situs wikipedia TNI-AD mempunyai 275 unit AMX-13 versi kanon.

AMX-13 dilengkapi machine gun FN MAG 7,62 mm pada sisi kubah komandan
AMX-13 dilengkapi FN MAG 7,62 mm pada sisi kubah komandan
AMX-13 TNI-AD tampak samping, kelemahan terletak pada kanon yang maksimum hanya memiliki sudut elevasi 45 derajat
AMX-13 TNI-AD tampak samping, kelemahan terletak pada kanon yang maksimum hanya memiliki sudut elevasi 45 derajat

Ada banyak ragam varian AMX-13, sebut saja mulai dari versi kanon dengan beragam kaliber, versi angkut personel, versi artileri, versi tank jembatan dan versi anti serangan udara. TNI-AD diketahui memiliki tiga tipe, yakni versi kanon, versi angkut personel dan versi artileri 105 mm. Dalam artikel ini, kita fokus dahulu pada versi kanon. Tipe ini bisa dibilang menjadi ikon kavaleri TNI-AD lebih dari tiga dasawarsa, karena saking tuanya beberapa ada yang sudah menjadi monumen di beberapa museum. Tapi yang masih aktif operasional telah dilakukan program retrofit, seperti mengganti mesin dari tipe bensin ke diesel dan penggantian sistem suspensi agar lebih nyaman digunakan. Dengan upgrade ke mesin diesel, konsumsi bahan bakar bisa ditekan dan jarak tempuh bisa ditingkatkan.

AMX-13 Retrofit TNI-AD
AMX-13 yang kini dioperasikan TNI-AD telah mengalami program retrofit di Direktorat Peralatan Bengkel Pusat Peralatan TNI-AD pada tahun 1995. Retrofit AMX-13 mencakup pemasangan mesin Detroit Diesel DDA GM6V-53 T, 6 silinder 2 langkah turbocharged dengan daya 290 BHP/2800 RPM dan Torsi 91,67 KGM/1600 RPM yang mampu meningkatkan power weight ratio dan pemakaian bahan bakar lebih hemat. AMX-13 menggunakan transmisi otomatis ZF 5WG-180 dengan 5 percepatan maju dan 2 percepatan mundur, hal ini tentu lebih memudahkan pengoperasian tank. Untuk suspensi mengadopsi tipe hydropnematic “Dunlostrut”, meningkatkan kemampuan lintas medan dan mampu menambah kenyamanan awak tank.

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=avQvYscuc4s&feature=related]

AMX-13 AD Perancis dengan rudal anti tank Steyr
AMX-13 AD Perancis dengan rudal anti tank Steyr

Ketimbang tank tempur modern TNI-AD saat ini, seperti Scorpion buatan Alvis – Inggris. AMX-13 lebih punya pengalaman tempur luas. Kiprah AMX-13 paling mencolok saat perang Arab –Israel, dimana tank ini menjadi alutsista AD Israel di saat itu (periode tahun 60 – 70an). Lalu AMX-13 ikut juga dalam perang India – Pakistan dan terakhir turut ikut dalam kancah perang Malvinas. Jasa AMX-13 juga ada dalam operasi di Tanah Air, contoh yang paling nyata keterlibatan aksi AMX-13 dalam operasi Seroja di Timor Timur. AMX-13 mulai berdatangan pada tahun 1962 dalam rangka misi operasi Trikora.

AMX-13 menjadi monumen di markas Kostrad
AMX-13 menjadi monumen di markas Kostrad

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=REiVMcMWP1M]

Dari segi rancangan dan bobotnya, AMX-13 termasuk dalam kelas tank ringan yang desain nya mulai dilakukan pada tahun 1946. AMX-13 sendiri sudah diproduksi dalam jumlah total 7700 unit selama periode tahun 1952 – 1987. Beberapa negara pengguna AMX-13 sampai saat ini terus menggunakan tank lawas ini, tentu dengan beragam peningkatan kemampuan persenjataan dan performa. Di ASEAN, Singapura juga mempunyai armada tank ini, tapi sayang jumlah AMX-13 Singapura jauh lebih banyak, ketimbang milik Indonesia, yakni 350 unit. (Haryo Adjie Nogo Seno).

Tampilan 3 dimensi AMX-13
Tampilan 3 dimensi AMX-13

amx13-2

Spesifikasi AMX-13
Tipe : tank ringan
Produsen : Atelier de Construction d’Issy-les-Moulineaux
Berat kosong : 13.7 ton
Berat tempur : 14.5 ton
Panjang : 6.35 meter
Lebar : 2.51 meter
Tinggi : 2.35 meter
Awak : 3 orang (komandan, penembak dan pengemudi)

Senjata
Kanon : 75 mm / 90 mm / 105 mm – 75 mm dengan 32 amunisi.
Senapan mesin : kaliber 7,62 mm dengan 3600 peluru
Mesin : SOFAM Model 8Gxb 8-cyl. water-cooled petrol
250 hp (190 kW) – kini sudah dilakukan upgrade dengan mesin diesel buatan Detroit.
Suspensi : torsi bar
Jarak tempuh : 400 km
Kecepatan : 60 km per jam

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=SJGe21it-vo]

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=iMCxb2EmoF8]

N22/24 Nomad – Si Pengintai Lawas TNI-AL

1007240

Inilah ikon dunia penerbangan TNI-AL pada dasawarsa terakhir, walau sudah berusia tua dan sebagian telah di grounded, tetap saja pesawat N22/N24 Nomad menjadi andalan utama TNI-AL untuk tugas pengintaian dan patroli maritim. Hal ini dibuktikan terakhir saat konflik Ambalat meletus beberapa bulan lalu, Nomad menjadi ujung tombak TNI-AL untuk melakukan patroli di wilayah perairan.

Pesawat buatan GAF (Government Aircraft Factories) dari Australia ini kerap terbang rendah “menyambar” kapal-kapal asing yang dicurigai membawa muatan ilegal. Nomad memang punya kemampuan terbang rendah 15 meter dari permukaan, pesawat ringan dengan dua mesin turboprop ini dirancang untuk bisa melakukan STOL (Short Take Off Landing), dan dipersiapkan untuk bisa mendarat di landasan tanah atau rumput. Dengan kemampuannya, pesawat ini pun pernah menjadi bintang dalam film seri Flying Doctors (pernah diputar di RCTI pada dekade tahun 90-an).

Nomad bersanding dengan C-212
Nomad bersanding dengan C-212

Nomad pun dirancang dalam beberapa varian, termasuk sipil dan militer. Untuk versi militer, selain tentu digunakan oleh Australia (AD dan AL), ada beberapa negara lain yang menggunakan Nomad versi ini, diantaranya adalah Indonesia (TNI-AL), Papua New Guinea, Filipina dan Thailand. TNI-AL sendiri kabarnya memiliki sekitar 26 unit Nomad N22/N24 Searchmaster yang tergabung dalam skadron 800 Intai Maritim. Tipe N24 memiliki kemampuan radar intai tambahan APS-104. Sekedar informasi, Nomad tidak dilengkapi dengan alat pertahanan diri (chaff) dan persenjataan.

Varian Nomad
Varian Nomad
N24 Nomad Searchmaster dengan radar APS-104
N24 Nomad Searchmaster dengan radar APS-104

Tapi sayang karena pesawat ini sering jatuh dan berusia lanjut (terbang perdana sejak tahun 1971), muncul keputusan untuk meng-grounded Nomad, TNI-AL berencana mengganti Nomad dengan jenis CN-235 MPA atau C-212 MPA. Di Australia sendiri pesawat ini sudah tak lagi digunakan dan dimasukkan dalam museum. Alasan grounded juga didasari kelangkaan suku cadang, karena pabrik Nomad sendiri telah tutup. Di Indonesia, selain masih ditempatkan di wilayah operasi, salah satu Nomad (P.806 N2255) kini juga ditempatkan sebagai monumen di kota Lamongan, Jawa Timur. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Nomad mengalami kecelakaan, as roda patah
Nomad mengalami kecelakaan, as roda patah

Formasi aerobatik Nomad Penerbal TNI-AL
Formasi aerobatik Nomad Penerbal TNI-AL

Spesifikasi
Negara Pembuat : Australia
Mesin : TwoPowerplant type : Allison 250-B17C turbopropsMax Power Rating : 313kW (420shp)
Dimensi Length : 12.56m (41ft 2.5in)Height : 5.52m (18ft 1.25in)Wingspan : 16.52m (54ft 2.5in)Wing Area : 30.10m2 (324sq ft)
Berat : Empty Weight : 2,150kg (4,740lb)Max Take-off Weight : 3,856kg (8,500lb)

Landing Gear
Type : Retractable tricycle type with twin-wheel main units and a single-wheel nose unit

Performance
Cruising Speed : 168kt (311km/h; 193mph)Maximum Range : 730nm (1,352km; 840mi)Service Ceiling : 21,000ft (6,400m)

KRI Pasopati 410 – Kapal Selam Pemburu Tanpa MCK

Monumen Kapal Selam - KRI Pasopati

Rasanya sudah banyak yang tahu bahwa kembalinya Irian Barat ke pangkuan Ibu Pertiwi tak terlepas dari jasa show of force armada militer RI dikala itu. Dari sekian banyak arsenal tempur yang dijagokan untuk merontokan nyali Belanda, bisa disebut unsur armada kapal selam adalah yang paling ditakuti Belanda. Alasannya jelas, RI dikala itu menjadi satu-satunya negara di belahan dunia selatan yang memiliki 12 kapal selam kelas Whiskey.  Saat itu Whisky class merupakan kapal selama diesel yang amat ditakuti oleh blok NATO. Belanda pun saat itu tak memiliki kapal selam dengan spesifikasi yang sama untuk menandingi Whiskey class. (more…)

Duel Kapal Perang di Blok Ambalat

KRI tengah mengejar kapal perang Malaysia
KRI tengah mengejar kapal perang

Cuplikan percakapan radio antara kapal perang Kerajaan Malaysia dan otoritas Indonesia (TNI AL) di perairan Ambalat pada suatu malam di bulan Mei 2009 dalam situasi cuaca yang sangat buruk dan berkabut.

INDONESIA: “Harap belokkan kapal Anda 15 derajat ke utara untuk menghindari
tabrakan.”

MALAYSIA : “Lebih baik Anda yang membelok! krn kami berada di wilayah
perairan kami..”

INDONESIA: “Kami juga berada di wilayah kedaulatan kami,Anda yang harus
membelok untuk menghindari tabrakan fatal !!”

MALAYSIA : “Saya Laksamana Muda Tengku Datuk Mahmod sofyan Komandan Gugus
Timur Tentara Laut Diraja Malaysia.. Saya bilang belokkan kapal
Anda!!!!sekarang! !!”

INDONESIA: “Negative!!! . Saya Mayor (Mar) Yophie Purba,Komandan Penjaga
Perbatasan kepulauan Ambalat dari Korps Marinir TNI AL Republik
Indonesia,saya katakan sekali lagi, belokkan kapal Anda!!! untuk
menghindari tabrakan yang konyol !!!”

MALAYSIA : “Ini adalah Kapal DestroyerTentara Laut Diraja Malaysia, kapal
kedua terbesar dari Armada Utama kami. Kami dilengkapi tiga destroyer
missil, tiga rudal berhulu ledak nuklir,1 lusin canon dan 2 unit
hellicopter tempur. Saya MINTA Anda belok 15 derajat ke selatan. Sekali
lagi saya ulangi: 15 derajat ke selatan, SEKARANG!!atau sebuah tindakan
akan kami lakukan untuk mengamankan kapal Anda!!!”

INDONESIA: “Dasar Malaysia goblok!!!!! Ini mercusuar tauuu!!! Sotoy banget
sihh ..!!!!”

Exocet : Si “Ikan Terbang” Andalan TNI-AL

MM 38 Exocet
MM 38 Exocet

Dari beragam rudal (peluru kendali) yang dimiliki TNI-AL, boleh dibilang Exocet adalah jenis yang paling populer, selain tipe rudal Harpoon, Mistral dan C-802. Pasalnya Exocet telah memperkuat TNI-AL cukup lama, yakni sejak awal tahun 80-an Rudal buatan Prancis ini mulai memperkuat jajaran alutsista (alat utama sistem senjata) TNI-AL bersamaan kehadiran frigat-frigat yang  disiapkan guna mengusung Exocet sebagai senjata utama anti kapal permukaan.

Container Exocet MM 38 di salah satu KRI
Container Exocet MM 38 di salah satu KRI
Tampilan Exocet dalam wadah container box
Tampilan Exocet dalam wadah container box
Bagan Container Exocet
Bagan Container Exocet
Tampilan utuh Exocet
Tampilan utuh Exocet

TNI-AL memiliki dua tipe Exocet, yakni MM38 dan MM 40. MM 38 adalah generasi pertama yang diterima TNI-AL, dan saat ini setidaknya ada delapan KRI yang mengusung Exocet MM 38. Diantaranya adalah frigat KRI Fatahilah, KRI Malahayati, KRI Ki Hajar Dewantara dan KRI Nala. Sedang empat KRI lainnya berjenis Kapal Cepat Rudal buatan Korea, yakni KRI Rencong, KRI Mandau, KRI Badik dan KRI Keris. Setiap kapal pengusung, membawa empat buah rudal yang memiliki kecepatan sub sonic.

Harusnya Exocet family ship milik TNI AL bertambah, lantaran TNI AL kini ketambahan dua KCR baru, yakni KRI Salawaku dan KRI Badau. KRI Salawaku-642 dan KRI Badau-643 adalah kapal cepat rudal yang dihibahkan oleh pemerintah Brunei Darussalam kepada pemerintah Indonesia, kapal ini berdimensi 37 meter yang dibuat oleh Vosper Thornycroft Singapura tahun 1978. Dalam paket persenjataan, harusnya dua KCR tersebut sudah dibekaliu rudal MM-38 Exocet, tapi dalam pengiriman ke Indonesia, rudal tersebut tidak disertakan. Belum diketahui, apakah nantinya akan dipasang MM-38 Exocet kembali atau bisa jadi malah dipasang rudal C-802.

Container MM 40 Exocet
Container MM 40 Exocet

Dilihat dari usianya, versi MM 38 kini sudah tergolong usang. Untuk itu pihak pabrikan, MBDA (anak perusahaan Aerospatiale) menciptakan generasi lanjutan Exocet, yakni MM 40 blok 2. Jenis terbaru ini pun sudah dimiliki TNI-AL. Kapal pengusung MM 40 adalah empat jenis frigat yang baru dibeli dari Belanda, yakni KRI Diponegoro, KRI Hasanuddin, KRI Sultan Iskandar Muda dan KRI Frans Kaisiepo. Setiap kapal membawa empat buah rudal MM 40 Block II.

Jenis yang Exocet terbaru milik TNI AL, MM-40 Block II bukanlah tipe terbaru, keluarga Exocet terbaru kini sudah ada MM-40 Block III. Selain bisa menjangkau sasaran hingga 180 Km, seperti halnya MM-40 Block II, rudal ini bisa dioperasikan secara fire and forget. Kemampuan lain yakni untuk menghindari jamming dari musuh. Dengan memiliki jangkauan target antara 75 – 180 Km, Excocet juga layak disebut rudal lintas cakrawala. Untuk itu tantangan bagi TNI AL selanjutnya adalah penyediaan elemen OTHT (Over The Horizon Target), berupa radar penjejakan yang memdadai, baik pada unsur kapal perang, pesawat udara, kapal selam, ataupun satelit. Meski Block II bukan versi Exocet terbaru, tapi kabarnya bisa dilakukan upgrade dari Block II ke Block III. Dengan upgrade ke Block II, dimungkinkan rudal Exocet untuk menghantam sasaran di pantai dan daratan.

Exocet MM-40 blok III menggunakan mesin jet turbofan, termasuk empat air intake yang menjamin aliran angin secara kontinyu selama manuver high-G. Exocet MM-40 Blok III juga mengusung sistem pemandu waypoint, yang mampu menuntun rudal untuk menyerang target dari sudut yang berbeda dan beroperasi layaknya sebuah rudal jelajah.

Perbedaan bentuk dan spesifikasi antara MM-40 Block II dan MM-40 Block III
KRI Nala saat melakukan penembakan MM 38 Exocet
KRI Nala saat melakukan penembakan MM 38 Exocet
Exocet menjelang hantam target
Exocet menjelang hantam target
Perbedaan mendasar antara MM-40 Block II dan Block III, pada Block III terdapat air intake

Selain dirancang untuk platform anti kapal permukaan, Exocet yang dalam bahasa Prancis berarti ikan terbang, juga dibuat varian lain, diantaranya AM-39 (versi anti kapal yang diluncurkan dari pesawat tempur) dan SM 39 (versi yang dapat diluncurkan dari kapal selam). Versi AM 39 terbilang cukup fenomemal di dekade 80an, dimana AM 39 yang diluncurkan dari pesawat Super Etendard Argentina mampu menghajar dan menenggelamkan HMS Shiefield, frigat Inggris dalam perang Malvinas. AM 39 milik Irak yang diluncurkan dari Mirage F1 juga pernah menghajar USS Stark, walau tak sampai membuat frigat AS itu tenggelam. Saat ini tak kurang 33 Angkatan Luat di dunia menggunakan Exocet, populasi rudal ini diperkirakan ada lebih dari 3.300 unit.

Tabung peluncur MM-40 Exocet pada SIGMA class TNI AL
Perbandingan ukuran antar keluarga Exocet

Update berita terakhir tentang rudal Exocet dari TNI AL, yakni pada Rabu, 20 April 2011 telah dilangsungkan uji tembak rudal MM-40 Exocet dari frigat KRI Hassanudin. Kapal yang menjadi target tembak rudal ini adalah KRI Teluk Bayur, sasaran yang sama saat dilakukan uji tembak untuk rudal Yakhont. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Super Puma TNI-AL pernah dipasangi dummy AM-39 Exocet
Super Puma TNI-AL pernah dipasangi dummy AM-39 Exocet
Exocet juga mampu ditempatkan dalam platfom Truck
Exocet juga mampu ditempatkan dalam platfom Truck

Versi AM 39 Exocet
Versi AM 39 Exocet

SM 39 yang diluncurkan dari kapal selam
SM 39 yang diluncurkan dari kapal selam

Spesifikasi MM 38 Exocet

Mulai Beroperasi : 1979
Produsen : MBDA’s division Aérospatiale
Berat : 670 kilograms (1,500 lb)
Panjang : 4.7 metres (15 ft 5 in)
Diameter 34.8 centimetres (1 ft 1.7 in)
Berat Hulu ledak : 165 kilograms (360 lb)
Engine : solid propellant engine
Wingspan : 1.1 metres (3 ft 7 in)

Operational
Jangkauan : 70-180 kilometres (43-110 mi; 38-97 nmi)
Flight altitude : Sea-skimming
Kecepatan : 315 metres per detik (1,030 ft/s)

KRI Fatahillah, Frigat Modern dari Era 80an

KRI Fatahilah dengan Meriam Bofors 120 mm, saat ini menjadi meriam kaliber terbesar yang digunakan dalam armada KRI
KRI Fatahillah dengan Meriam Bofors 120 mm, saat ini menjadi meriam kaliber terbesar yang digunakan dalam armada KRI

Dengan anggaran militer yang serba terbatas, lumrah bila akhirnya TNI selalu mendapat pasokan alutsista (alat utama sistem senjata) bekas pakai dari negara lain. Tak terkecuali dalam pengadaan kapal perang (KRI). Dari ratusan KRI yang dimiliki TNI-AL, hanya beberapa saja yang dibeli berupa barang baru dari pabrik.

Diantaranya yang cukup dikenal pada masanya yakni frigat kelas Fatahillah. Frigat yang dibeli pada awal tahun 80an ini adalah buatan galangan kapal Wilton Fijenoord, Schiedam di Belanda. Ada tiga buah kapal jenis ini yang dimiliki oleh TNI-AL, yakni KRI Fatahillah 361 , KRI Malahayati 362 dan KRI Nala 363. Frigat ini mulai berdatangan di Tanah Air pada tahun 1979 sampai awal 80an.

KRI Fatahilah dalam sebuah patroli laut
KRI Fatahilah dalam sebuah patroli laut

Ketiga KRI memiliki spesifikasi yang serupa, baik kemampuan mesin dan persenjataan, kecuali KRI Nala yang punya rancangan sedikit beda di bagian buritan, dimana terdapat hanggar dan helipad untuk sebuah helikopter ringan. Sedang pada KRI Fatahillah dan KRI Malahayati, ketiadaan hanggar dan helipad digantikan dengan penempatan kanon 20 milimeter anti serang udara dan permukaan buatan Rheinmetal, Jerman. Peran utama ketiga frigat ini yakni sebagai pemukul dengan kemampuan anti kapal permukaan, anti kapal selam dan anti pesawat udara.

Data Teknis
KRI Fatahillah memiliki berat 1450 ton dan berdimensi 83,85 meter x 11,10 meter x 3,30 meter. Dua mesin diesel jelajah bertenaga 8.000 bhp dengan kecepatan jelajah 21 knot dan 1 boost gas turbine dengan 22.360 shp yang sanggup mendorong hingga kecepatan 30 knot melengkapi kapal berawak maksimal 82 pelaut ini.

KRI Fatahilah saat melepaskan roket mortir anti kapal selam
KRI Fatahillah saat melepaskan roket mortir anti kapal selam

Persenjataan
KRI Fatahillah dipersenjatai dengan berbagai jenis persenjataan modern untuk mengawal wilayah kedaulatan Republik Indonesia. Termasuk diantaranya adalah :

– 4 peluru kendali permukaan-ke-permukaan Aerospatiale MM-38 Exocet dengan jangkauan maksimum 42 Km, berkecepatan 0,9 mach, berpemandu active radar homing dengan hulu ledak seberat 165 Kg.
– 1 meriam Bofors 120/62 berkaliber 120mm (4.7 inchi) dengan kecepatan tembakan 80 rpm, jangkauan 18.5 Km dengan sistem pemandu tembkan Signaal WM28.
–  3. 2 kanon Penangkis Serangan Udara Rheinmetall kaliber 20mm dengan kecepatan tembakan 1000 rpm, jangkauan 2 KM untuk target udara.
– 12 torpedo Honeywell Mk. 46, berpeluncur tabung Mk. 32 (324mm, 3 tabung) dengan jangkauan 11 Km kecepatan 40 knot dan hulu ledak 44 kg. Berkemampuan anti kapal selam dan kapal permukaan.
–   Mortir anti kapal selam Bofors ASR 375mm laras ganda.

Sensor dan elektronis
KRI Fatahillah diperlengkapi radar Racal Decca AC 1229 untuk surface search dan Signaal DA 05 untuk air and surface search. Serta pemandu tembakan Signaal WM 28. Sistem sonarnya menngunakan Signaal PHS 32 (Hull Mounted). Sistem pengecoh menggunakan 2 Knebworth Corvus 8-tubed launchers dan 1 T-Mk 6 torpedo decoy. Dengan kecanggihan sensornya, KRI Fatahilah ikut dilibatkan dalam pencarian puing-puing pesawat Adam Air Penerbangan 574 yang hilang pada 1 Januari 2007. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Formasi Tempur KRI Nala 363
Formasi Tempur KRI Nala 363
KRI Nala dilengkapi helipad dan hanggar mini untuk helikopter sekelas BO-105
KRI Nala dilengkapi helipad dan hanggar mini untuk helikopter sekelas BO-105

Karakteristik umum

Berat :     1.450 ton
Panjang:     83,85 ms (275.10 kaki)
Lebar:     11,10 ms (36.42 kaki)
Draft:     3,30 ms (10.83 kaki)
Tenaga penggerak:     2 shaft, masing-masing 8.000 bhp
Kecepatan:     21 knot
Awak kapal:     82 orang

PT-76 : Kisah Tank Amfibi Tua TNI-AL

Manuver PT-76 saat melakukan pendaratan di pantai
Manuver PT-76 saat melakukan pendaratan di pantai

Pengakuan kedaulatan atas kemerdekaan Negara Republik Indonesia oleh Kerajaan Belanda pada akhir tahun 1949 menandai berakhirnya Periode Perang Kemerdekaan 1945-1949. Pengakuan kedaulatan itu sendiri merupakan hasil dari Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda, antara Pemerintah Indonesia dengan Kerajaan Belanda. Salah satu klausulnya menyebutkan bahwa Kerajaan Belanda berkewajiban untuk mengembalikan seluruh wilayah pendudukannya kepada Pemerintah Republik Indonesia, termasuk Papua Barat atau Nederlands Nieuw Guinea. Di sini disebutkan bahwa Belanda akan mengembalikan Papua Barat kepada Indonesia selambat-lambatnya dalam jangka waktu setahun setelah pengakuan kedaulatan.

Namun ternyata hingga 9 tahun setelah pengakuan kedaulatan, Pemerintah Belanda tidak juga merealisasikan klausul tersebut. Demi memperjuangkan kembalinya Irian Barat, Indonesia menempuh berbagai jalur diplomasi, termasuk melalui UNO (United Nations Organization/Persatuan Bangsa-Bangsa). Namun berbagai upaya tersebut mengalami jalan buntu, sehingga Indonesia kemudian mengumandangkan Tri Komando Rakyat (Trikora) yang intinya menuntut pengembalian Irian Barat ke Ibu Pertiwi sesegera mungkin. Belanda meresponnya dengan memperkuat militer di Irian Barat termasuk mendatangkan kapal induk Hr.Ms. Karel Doorman. Menanggapi hal tersebut, Indonesia memutuskan menyelesaikan masalah Irian Barat melalui kekuatan militer sebagai pendukung jalur diplomasi.

Sementara itu di bidang militer, Indonesia menyadari bahwa kondisi Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI) tidaklah seimbang jika dibandingkan dengan Belanda. Untuk itulah Indonesia berupaya mendatangkan sejumlah peralatan militer, baik pembelian baru maupun “second hand”, dari berbagai negara sejak tahun 1958. Upaya pertama ditempuh dengan pendekatan kepada negara-negara Eropa Barat dan Amerika Serikat, namun tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Hal tersebut dikarenakan “kentalnya rasa solidaritas” mereka terhadap Belanda yang juga merupakan anggota Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO/North Atlantic Treaty Organization) yang berbasis di Eropa Barat.

PT-76 in Action, tampilan kubah versi lama dengan meriam 76mm
PT-76 in Action, tampilan kubah versi lama dengan meriam 76mm

NATO yang dipimpin Amerika merupakan kekuatan penangkal terhadap ancaman militer dari Pakta Warsawa yang dipimpin Uni Soviet. Sejak era Perang Dingin (cold war) dimulai tahun 1949, dua kekuatan adidaya dunia tersebut senantiasa bersaing mengembangkan pengaruh dan kekuatan militernya di seluruh belahan dunia. Celakanya, Indonesia yang menganut politik bebas aktif turut terseret dalam perseteruan dua raksasa tersebut. Kemenangan Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam Pemilu 1955 dipandang sebagai ancaman bagi dominasi Amerika di Asia Timur, sehingga mau tidak mau lebih memilih “mendukung” Belanda, walau jelas-jelas telah melanggar kesepakatan dalam KMB. Oleh sebab itu maka pembelian peralatan militer oleh Indonesia yang dipandang membahayakan Belanda terkesan dihambat.

Menghadapi kondisi yang “menghimpit” tersebut, memaksa Indonesia “melirik” negara-negara Blok Timur, seperti Uni Soviet, RRC dan Yugoslavia. Sejak tahun 1960 mengalirlah sejumlah besar peralatan militer modern asal Uni Soviet ke Indonesia, dan salah satunya adalah tank amfibi ringan PT-76 (Plavayushtshiy Tank-76).

Kelahiran PT-76

PT-76 pertama kali diperkenalkan kepada publik dan diproduksi secara massal oleh Uni Soviet sejak tahun 1954. Desain dasarnya sebenarnya telah dirancang sejak pertengahan Perang Dunia II. Kendaraan lapis baja berawak 3 orang ini berfungsi utama sebagai kendaraan intai tempur di jajaran AB Uni Soviet dan 23 negara lainnya. Kondisi geografis Uni Soviet serta Eropa bagian tengah dan timur yang banyak memiliki rawa-rawa, danau dan sungai besar mendasari pembuatan tank amfibi ini.

PT-76 dalam defile HUT ABRI 1978. Terlihat meriam belum mengalami retrofit
PT-76 dalam defile HUT ABRI 1978. Terlihat meriam belum mengalami retrofit

Soviet bermaksud menjadikan PT-76 sebagai ranpur terdepan yang akan menjebol pertahanan NATO dari garis belakangnya. Kesuksesan Rommel dalam melabrak pertahanan Sekutu di hutan Ardennes, Perancis, dan Amerika saat memotong kekuatan militer Korea Utara di semenanjung Korea, merupakan obsesi Soviet. Rangka dasar PT-76 kelak banyak memunculkan dan menjadi ilham bagi pembuatan kendaraan-kendaraan tempur (ranpur) lainnya, seperti BTR-50, panser angkut meriam gerak sendiri ASU 85 dan kendaraan angkut peluncur rudal Frog-2.

PT-76 secara fisik memiliki bobot dalam keadaan kosong 13,5 ton dan dalam keadaan siap tempur 14,5 ton. Agar mampu beroperasi di perairan dalam maka tank ini hanya memiliki lapisan baja yang tipis, yaitu 14 mm di bodi dan 17 mm di turet, tidak seperti tank sejenis di kelasnya. Sementara itu untuk mengurangi beban penumpang, maka komandan tank juga merangkap sebagai pengamat medan, awak meriam dan operator radio. Dimensi baku PT-76 jika diukur tanpa meriam memiliki panjang 6,91 m, lebar 3,14 m dan tinggi 2,21 m, kemudian ketinggian dari tanah ke kolong tank (ground clearance) adalah 0,37 m. Jika diukur dengan panjang meriam serta ketinggian senapan penangkis serangan udara yang terdapat di PT-76 maka dimensinya menjadi: panjang 7,62 m, lebar 3,14 m dan tinggi 3,70 m.

Tenaga penggerak PT-76 dihasilkan dari mesin diesel 4 silinder jenis V-6 yang berkekuatan 240 tenaga kuda atau 1.800 rpm. Bahan bakar yang dibutuhkan adalah 250 liter solar (HSD) kemudian 60 liter air sebagai pendingin radiator serta menggunakan pelumas mesin jenis DCO.50 sebanyak 45 liter. Ini membuat PT-76 mampu melaju dengan kecepatan hingga 45 km/jam di jalan raya sepanjang 260 km, 30 hingga 35 km/jam di jalan biasa dan 25 km/jam di jalan bergelombang sejauh 210 km. Kelebihan PT-76 ini terletak pada kekuatan mesinnya, karena mampu memberikan kemampuan berenang yang baik ke arah muka sebesar 11 km/jam untuk jarak 70 km dengan waktu tempuh 8 jam. Sedang jika bergerak ke belakang, memiliki kecepatan hingga 5 km/jam. Itulah sebabnya mengapa PT-76 dipandang memiliki kualifikasi sebagai tank pendarat amfibi.

Sebuah PT-76 milik Vietnam Utara yang berhasil dihancurkan oleh militer AS
Sebuah PT-76 milik Vietnam Utara yang berhasil dihancurkan oleh militer AS

Kelebihan lain dari PT-76 adalah mampu mendaki ketinggian di kemiringan hingga 38 derajat ataupun penghalang tegak setinggi 1,06 m, mampu berjalan stabil pada medan yang memiliki kemiringan hingga 18 derajat, melintasi parit selebar hingga 2,8 m atau melintasi turunan hingga sedalam 0,75 m dengan besar tekanan pada permukaan 0,49 kg/cm persegi dan dengan perbandingan daya terhadap bobot sebesar 17,5 daya kuda/ton. Sementara itu sudut masuk saat tank akan berenang di laut, danau atau sungai besar adalah 30 derajat dan saat keluar ke permukaan sudut dongak moncongnya adalah 25 derajat. Sistem tenaga kelistrikan PT-76 bersumber pada 2 buah accu (aki) yang masing-masing bertegangan 12 Volt. Sebagai sarana komunikasi, PT-76 menggunakan radio tipe R-123.

Persenjataan Yang Dimiliki

Tank PT-76 secara standard dipersenjatai dengan 2 jenis senjata, yaitu sepucuk meriam berkecepatan rendah jenis D-56TM kaliber 76,2 mm dan sepucuk senapan mesin koaksial jenis SG-43 kaliber 7,62 mm. Sebagai tambahan, PT-76 juga dapat diperlengkapi dengan sepucuk senapan mesin penangkis serangan udara jenis DShK kaliber 12,7 mm yang ditempatkan di kubah yang memiliki sistem penggerak ganda, yaitu manual dan elektrik, yang mampu berputar penuh 360 derajat dalam tempo 20 detik. Meriam D-56TM memiliki panjang laras 3,315 m dan mampu menembak beruntun sebanyak 40 kali dengan kecepatan antara 8 hingga 15 tembakan per menit serta memiliki daya jangkau tembakan hingga 4 km.

PT-76 saat keluar dari pintu KRI Surabaya
PT-76 saat keluar dari pintu KRI Surabaya

Pada penembakan tunggal, meriam jenis ini mampu menjangkau jarak sejauh 12,8 km. Meriam ini memiliki sudut dongak tertinggi hingga 40 derajat dan sudut terendah saat menunduk adalah 4 derajat. PT-76 mengangkut amunisi meriam sebanyak 40 butir campuran yang terdiri atas amunisi jenis HE (high Explosive), HEAT (High Explosive Anti Tank) dan HVAP (High Velocity Armour Piercing). Sementara itu senapan mesin koaksialnya yang berbobot 13,8 kg dibekali 1000 butir peluru dan tersimpan dalam 4 magasen. Senapan mesin SG-43 mampu menembak secara beruntun 350 tembakan per menit dengan jarak efektif 2 hingga 2,5 km. Senapan mesin ini terletak di sebelah kanan meriam. Kemudian sebagai pertahanan diri para awak PT-76 juga dibekali dengan 18 buah granat tangan. Khusus pada tugas-tugas operasional di malam hari, awak senapan mesin ditunjang dengan teropong bidik jenis TSK 66.

Retrofit PT-76

Tank amfibi PT-76 secara resmi masuk ke dalam jajaran kesatuan kavaleri APRI sejak tahun 1962. Namun karena berkemampuan amfibi maka sebagian besar tank ini lebih banyak dioperasikan oleh Batalyon Panser Amfibi Korps Komando Angkatan Laut (KKO AL), atau yang sekarang dikenal sebagai Batalyon Kendaraan Pendarat Amfibi Korps Marinir TNI AL. Awalnya ranpur ini dipersiapkan untuk menunjang pelaksanaan operasi kampanye militer terbesar dalam sejarah Indonesia, yaitu Operasi Jayawijaya, yang akan digelar dalam rangka pembebasan Irian Barat. Pada perkembangan selanjutnya, PT-76 secara aktif dilibatkan dalam berbagai kegiatan operasi keamanan di dalam negeri dan operasi militer seperti Dwikora (1964-1965) di perbatasan Indonesia–Malaysia, Operasi Seroja (1975-1979) di Timor Timur dan Operasi Pemulihan Keamanan Terpadu di Propinsi Nangroe Aceh Darussalam (2002-2005).

PT-76 yang telah diretrofit, kini sudah dipasangi meriam 90mm
PT-76 yang telah diretrofit, kini sudah dipasangi meriam 90mm

Hingga memasuki era millennium ini, tank antik eks Rusia ini masih aktif dioperasikan oleh TNI AL dalam berbagai kegiatan penugasan dan latihan. Namun sesungguhnya kondisi PT-76 saat ini sangat berbeda dengan kondisi awalnya yang masih “asli” Rusia. Hal ini disebabkan adanya penggantian sejumlah mesin utama dan persenjataan dari produk Rusia ke produk negara-negara Barat. Keadaan tersebut tidak terlepas dari perkembangan situasi politik yang terjadi. Pada tahun 1965 meletus peristiwa berdarah G-30-S yang diduga didalangi oleh PKI, yang berujung dibubarkannya partai tersebut dan dinyatakan sebagai partai terlarang. Kebijakan pemerintah Indonesia itu kontan menuai protes keras dari Uni Soviet dan sekutu-sekutunya, dan akhirnya dilakukanlah embargo suku-cadang bagi PT-76. Embargo tersebut sempat menyulitkan pemeliharaan dan perawatan tank amfibi ini, hingga terpaksa dilakukan kanibalisasi. Namun mengingat PT-76 masih dipandang sebagai ranpur yang berperan penting dalam menunjang kegiatan operasi keamanan, untuk itu ditempuhlah kebijakan untuk mengganti mesin dan persenjataannya atau istilah kerennya “retrofit”.

Retrofit atau kegiatan peremajaan dimulai sejak tahun 1990 pada sejumlah Tank PT-76 yang masih layak pakai. Peremajaan dan modifikasi PT-76 antara lain meliputi: – Penggantian mesin diesel 4 silinder V-6 Rusia yang berkekuatan 240 daya kuda dengan mesin diesel 2 Tak 6 silinder jenis DDA V-92 T Turbo Charge seberat 1200 kg buatan Amerika Serikat yang berkekuatan 290 daya kuda. Penggantian ini memungkinkan PT-76 melaju di jalan raya dengan kecepatan hingga 58 km/jam, di jalan biasa 35 km/jam dan di medan terbuka 40 km/Jam. Meskipun demikin kecepatan saat berenang, baik ke arah muka maupun belakang, sama dengan spesifikasi “aslinya”. – Penggantian meriam D-56TM yang memiliki alur dan galangan berjumlah 32 buah, dengan meriam berkecepatan tinggi seberat 519 kg jenis Cockerill Mk.III A-2 kaliber 90 mm buatan Belgia. Meriam baru ini memiliki panjang laras 3,248 m dengan jumlah alur dan galangan 60 buah serta dibekali 36 butir peluru berbagai jenis. Meriam buatan Belgia ini memiliki jangkauan tembakan sejauh 2,2 km dan pada penembakan tunggal mampu mencapai 6 km. Adapun sudut dongak meriam ini 36 derajat dan tunduk 6 derajat. Sementara itu senapan mesin DShK diganti dengan FN GPMG kaliber 7,62 mm buatan Belgia. Meskipun telah berusia tua dan mengalami serangkaian peremajaan, namun PT-76 terbukti merupakan ranpur yang handal dan “bandel”. Kiranya cukup beralasan jika PT-76 Indonesia dijuluki “Battle Proven” alias Jago Perang yang melegenda di lingkungan Korps Marinir TNI AL. (dikutip dari Majalah Cakrawala TNI-AL)